Kudus, isknews.com – Setiap kamis pekan ketiga dibulan “Ruwah” atau Sya’ban merupakan hari dimana warga masyarakat Desa Kandangmas berbondong bondong mendatangi makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku. Kedua makam tersebut terletak didukuh Masin, yang masih dalam kawasan perbukitan Gunung Muria Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe.

Ketua pengelola situs kramat sinden masin, ARHT H Sumartono Pranoyo saat ditemui isknews.com menjelaskan, sedekah kubur ini sudah ada sejak zaman dahulu peninggalan nenek moyang, dan sebagai tradisi, kami warga masyarakat Kandangmas selalu melestarikan supaya tidak punah dan tergilas ditelan zaman.
Dirinya menambahkan, Uniknya, setiap kepala keluarga membawa ayam “ingkung” yang dibawa bersama nasi putih beserta lauk untuk dimakan bersama-sama setelah didoakan oleh kyai.
Tidak ketinggalan juga membawa kembang setaman dan sedekah uang. Selain itu, lanjut Sumartono, para warga meninggalkan “Sempol” atau paha ayam untuk di sedekahkan, yang nantinya akan di jadikan satu di “Tampah Cino” (tempat yang terbuat dari anyaman bambu) sehingga membentuk gunungan Sempol.
Seperti pantauan isknews.com dilokasi Kamis, (018/5/2017) Siang setelah sholat dhuhur, ribuan warga masyarakat membawa bakul tempat ingkung (ayam yang sudah dimasak) beserta nasi, ditemani kembang setaman dan juga uang untuk sedekah.
Mereka berjalan menanjak melewati jalan setapak sejauh setengah kilo meter, ditemani pemandangan hutan jati dikanan kiri, warga bersama sama mengikuti dibelakang nya Iswanto, seorang tokoh masyarakat (kepala dukuh) yang membawa “dupo menyan” untuk diserahkan ke juru kunci makam, Anas Liriyanto.
Kepala dukuh pembawa “dupo menyan” berpakaian serba hitam. Ditanya kenapa serba hitam, Sumartono mengungkapkan, sebab hal tersebut merupakan lambang kasepuhan, “Ngerti Tatanan Lahir Batin” (mengetahui aturan lahir batin).
Ditemui terpisah, remaja 14 tahun, Ya’kub warga asli dukuh Masin Rt. 3 Rw 11, bersama temannya, mengaku sengaja datang lebih awal supaya tidak ketinggalan mengikuti tradisi ini, “Dan saya baru pertama kali mengikuti tradisi ini yang menurutnya sangat perlu dijaga kelestariannya, terutama dikalangan anak muda,” ucapnya
Dijelaskannya, Dirinya telah memotong sempol nya dirumah, Nantinya akan dikumpulkan di “Tampah Cino” yang terletak di Paseban untuk tempat peristirahatan para tamu-tamu yang hadir. (AJ)











