Kudus, isknews.com – Menyambut Ramadan 2026, Djanoer Batik Kudus menghadirkan dua motif anyar yang kental dengan nuansa religi dan kearifan lokal. Peluncuran koleksi ini menjadi upaya pelaku UMKM batik tersebut untuk menyemarakkan bulan suci sekaligus mempertegas identitas khas batik Kudus di tengah persaingan industri fesyen.
Pemilik Djanoer Batik Kudus, Sih Karyadi (41), menjelaskan bahwa dua motif terbaru tersebut untuk menyambut Ramadan. Konsepnya memadukan ikon-ikon daerah dengan filosofi Islami yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Kudus.
“Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. Motifnya tetap membawa ciri khas Kudus, namun kami beri sentuhan religius yang lebih elegan dan menenangkan,” ujar Karyadi saat ditemui di store-nya di Desa Gribig, Kecamatan Gebog.
Usaha batik yang berdiri sejak 2015 ini berangkat dari kecintaan Karyadi terhadap Batik Kudus yang sarat nilai sejarah. Sejak awal berdiri, Djanoer konsisten mengembangkan batik cap dan batik tulis dengan tetap menjaga akar budaya lokal.
Pada koleksi Ramadan 2026, Djanoer memperkenalkan motif pertama bernama Gusjigang yang terinspirasi dari filosofi bagus, mengaji, dan dagang. Motif ini memuat berbagai simbol khas Kudus, seperti ikon Menara Kudus yang dipadukan dengan gambar kitab sebagai simbol pusat ilmu, daun tembakau yang konon dibawa oleh Sunan Kudus, buah parijoto, hingga siluet Gunung Muria.
Simbol dagang juga ditampilkan melalui ilustrasi lentog, memperkuat identitas masyarakat Kudus sebagai kota santri sekaligus kota niaga. Kombinasi warna hijau, kunyit, serta sentuhan emas dipilih untuk menghadirkan kesan hangat dan anggun.
Motif kedua yang diluncurkan adalah Kembang Kapuk. Karyadi menjelaskan, motif ini terinspirasi dari ragam hias klasik yang diangkat kembali dengan sentuhan modern. Unsur bunga dan daun kapuk ditata dengan komposisi baru, diselingi ornamen titik-titik khas batik yang memperindah tampilan.
“Batik itu tidak lepas dari titik. Di sela-sela kembang kapuk kami tambahkan detail titik agar tampilannya lebih hidup. Di beberapa bagian juga kami sisipkan penanda Kudus supaya orang tahu ini asli produksi dari Kabupaten Kudus,” jelasnya.
Dalam proses produksi, Djanoer tetap mengandalkan teknik batik cap dan batik tulis. Untuk batik cap, produksi harian mencapai 10 hingga 15 lembar kain berukuran dua meter. Sementara batik tulis memerlukan waktu pengerjaan antara dua minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kerumitan motif.
“Kualitas tetap kami utamakan. Warna harus kuat dan tidak mudah luntur. Menjelang Ramadan atau Lebaran ini permintaan meningkat, terutama untuk busana keluarga, seragam sekolah, dan hijab,” tambahnya.
Dalam pewarnaan, Djanoer menggunakan bahan seperti naptol, indigosol, dan remasol agar warna lebih tajam dan tahan lama. Produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari kain batik, kemeja, hingga hijab batik yang semakin diminati berbagai kalangan.
Sejak berdiri pada 2015, Djanoer mengaku telah memproduksi ribuan batik cap dan ratusan batik tulis. Pasarnya menyasar berbagai segmen, dengan harga batik cap mulai Rp110.000 hingga Rp250.000 per potong. Adapun batik tulis dibanderol mulai Rp500.000 hingga sekitar Rp1.500.000.
“Kami ingin semua kalangan bisa memakai batik asli Kudus. Dengan membeli dan mengenakan batik, masyarakat ikut melestarikan budaya,” ujarnya.
Selain melayani pembelian langsung di outlet yang berlokasi di Gang 17 RT 4 RW 7 Desa Gribig, Djanoer juga memasarkan produknya secara daring melalui Shopee dan media sosial. Untuk pemasaran offline, pesanan kerap datang dari instansi sekolah maupun lembaga lainnya, termasuk untuk kebutuhan seragam guru dan siswa pada momen tertentu.
Tak hanya fokus produksi, Djanoer Batik Kudus juga aktif mengikuti berbagai pameran, baik di tingkat lokal seperti Kudus Expo maupun event nasional seperti Inacraft di Jakarta dan pameran di Semarang.
Dengan peluncuran dua motif terbaru ini, Djanoer Batik Kudus berharap dapat turut meramaikan Ramadan 2026 sekaligus memperkuat eksistensi batik lokal agar semakin dikenal luas di tingkat nasional. (AS/YM)










