Santri Kudus Raih Juara I Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional di Sulawesi Selatan

oleh -1407 Dilihat
Foto: ist.

Kudus, isknews.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh santri asal Kabupaten Kudus. M Tsaqif Fadhil, santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Tasywiqul Furqon Kajeksan, Kecamatan Kota Kudus, berhasil meraih Juara I Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI di Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Ajang bergengsi yang mempertemukan para santri terbaik dari seluruh Indonesia itu resmi ditutup oleh Menteri Agama, Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA, secara daring pada Senin (7/10/2025).

Dalam kesempatan terpisah, M Tsaqif Fadhil mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas pencapaian tersebut. Ia mengaku sebelum berangkat ke arena MQK Nasional telah mendapatkan bimbingan intensif dari para pengasuh pondok serta dukungan penuh dari Kemenag Kudus dan Kemenag Jawa Tengah.
“Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil meraih juara I dalam MQK ini. Saya berterima kasih kepada para pengasuh pondok, guru-guru di MA NU Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Kemenag Kudus, Kemenag Jawa Tengah, dan terkhusus dukungan luar biasa dari orang tua,” ujar putra pasangan Sukamto dan Siti Mubasyaroh itu.

Kebanggaan juga dirasakan oleh KH Ahmad Bahruddin, pengasuh Ponpes Tasywiqul Furqon Kajeksan Kudus. Menurutnya, kemenangan santrinya di ajang nasional tersebut menjadi kejutan sekaligus anugerah yang luar biasa bagi pondok yang usianya relatif masih muda.
“MQK ini sangat selektif dan pesertanya berasal dari pondok-pondok besar dengan santri yang luar biasa. Sedangkan pondok kami masih seumur jagung. Kami hanya berjuang untuk mensyiarkan ilmu semampu kami,” ungkapnya terharu.

Ia berharap, keberhasilan M Tsaqif Fadhil dapat menjadi titik awal bagi santri lainnya untuk terus berprestasi. “Prestasi ini menjadi tolok ukur keberhasilan pondok dalam mendidik santri, tidak hanya pandai mengaji tetapi juga berprestasi di berbagai ajang,” ujarnya yang diamini dua pengasuh lainnya, KH Shofi Luthfi dan Kiai Noor Rohim.

Lebih lanjut, KH Ahmad Bahruddin menilai capaian tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Kudus tetap menjadi kota santri yang kuat dalam tradisi keilmuan salaf, terutama dalam bidang fikih dan ushul fikih.
“Kudus adalah kota dengan Kanjeng Sunan Kudus sebagai muassis-nya, dikenal sebagai waliyyul ilmi. Setelah beliau, lahir ulama-ulama besar seperti KH R Asnawi, KH M Arwani Amin, dan KH Turaichan Adjhuri. Semoga Kudus terus melahirkan generasi santri berilmu, bermanfaat, dan penuh berkah,” pungkasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :