Satu Lagi Korban Meninggal Akibat DBD Menimpa Bocah Di kudus

oleh -211 Dilihat

Kudus, isknews.com – Kembali Demam Berdarah Dengeu (DBD) memakan korban, seorang bocah Budi Kurniawan (5) sore kemarin (14/4) meninggal dunia akibat penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegipty  tersebut,  putra dari Supriyanto warga Desa Pasuruhan Lor RT. 01 RW. 6 Kecamatan Jati Kudus.

Menurut paman korban Edi (14/4) yang di temui di rumah duka menjelaskan, keponakannya yang biasanya lincah dan ceria itu sudah dua hari di rawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu namun tidak tertolong, “Kata paramedis disana Budi sudah berada di stadium 4 jadi memang sudah kritis, dan tidak tertolong lagi” katanya.

Ditemui di tempat terpisah Kepala Desa Pasuruhan Lor Nor Badri, ketika di temui di rumahnya (14/4)  menjelaskan, “selama dua tahun pemerintahannya seingat saya ini adalah korban yang ketiga, padahal kami sudah giatkan Gerakan Serentak Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) oleh ibu, ibu PKK , bahkan kami sedang menganggarkan agar di desa kami ini memiliki alat untuk fogging, jadi kapanpun kami bisa lakukan penyemprotan secara mandiri”,  jelas Kades.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kudus, Maryata dalam suatu kesempatan dengan media ini mengatakan kawasan rawan DBD di Kota Kretek cukup banyak. Dari 132 desa/ kelurahan, sebanyak 89 di antaranya dinyatakan kawasan endemis DBD, sedangkan 40 desa lainnya masuk dalam kategori sporadis.

Satu wilayah dinyatakan endemis ketika tiga tahun berturut-turut ada warganya yang positif terkena DBD. “Hanya adatigadesayangselama tiga tahun terakhir bebas DBD. Ini harus jadi perhatian kita,” kata Maryata, kemarin. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kudus, desa endemis DBD tersebar di sembilan kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Kota (13 desa), Kecamatan Jati (12), dan Kecamatan Bae (10).

Kemudian Kecamatan Kaliwungu, Undaan, Mejobo, Jekulo, Dawe dan Gebog masing- masing sembilan desa. Sedangkan desa masuk kategori sporadis tersebar di delapan kecamatan. Antara lain, Kecamatan Kota (11 desa), Kecamatan Jati (2), Kecamatan Kaliwungu (6), Kecamatan Undaan (7), Kecamatan Mejobo (2), Kecamatan Jekulo (3), Kecamatan Dawe (8) dan Kecamatan Gebog (1).

Adapun desa potensial atau belum dijumpai adanya kasus DBD, kata Maryata, sebanyak tiga desa, yakni Desa Krandon (Kecamatan Kota), Desa Piji (Kecamatan Dawe), dan Desa Kedungsari (Kecamatan Gebog). Menurut Maryata, jumlah kejadian DBD di Kabupaten Kudus naikturundalambeberapatahun terakhir. Pada 2012 tercatat 360 kasus, lalu naik menjadi 501 kasus pada 2013, dan turun pada 2014 menjadi 438 kasus.

Jumlah serangan DBD paling tinggi terjadi tahun lalu yang mencapai 600 kasus. Sedangkan sejak awal 2016 hingga kemarin sudah tercatat 56 kasus DBD. ”Untuk tahun ini, belum ada pasien DBD yang dilaporkan meninggal dunia,” katanya. Upaya pencegahan penyebaran penyakit DBD yang paling efektif adalah dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Caranya sederhana yakni dengan menguras bak mandi atau penampungan air, menutup bak penampung air, dan mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air hujan agar tidak dijadikan tempat untuk berkembang biak jentik nyamuk yang dimungkinkan membawa virus DBD. Gerakan PSN harus dilakukan secara massif di semua wilayah. “Agar hasilnya maksimal kita harus bergerak bersamasama,” ujarnya. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :