SDM Mulai Uzur Pemkab Kudus Giatkan Peningkatan dan Regenerasi Sumberdaya KUD

oleh

Kudus, isknews.com – Makin terkikisnya Koperasi Unit Desa (KUD) diera milenial saat ini, membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus dorong KUD untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini perlu dilakukan lantaran, SDM KUD kebanyakan sudah berusia lanjut.

Hal ini diharapkan bisa mengulang kejayaan KUD pada tahun 1980 hingga 1990-an menjadi bagian tak terpisahkan masyarakat desa di Indonesia untuk membayar listrik serta menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat.

Data dari Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Korporasi dan UKM Kabupaten Kurud menyatakan bahwa KUD tersebar di sembilan kecamatan.
“Koperasi Unit Desa (KUD) biasanya tersebar di setiap kecamatan. Namun, sekarang sudah tidak beroperasi lagi,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Korporasi dan UKM, Bambang Tri Waluyo belum lama ini.

TRENDING :  BI dan Pemerintah Sepakati Langkah Untuk Jaga Inflasi 2016

Ia menyebutkan, ada banyak hal sebagai penyebab KUD tidak beroperasi lagi. Di antaranya persaingan usaha, orientasi bisnis hingga SDM dan sebagainya.

“Kami masih mempelajari itu sekaligus melakukan pengamatan di lapangan. Perubahan zaman sangat cepat dan dinamis karena itu harus mampu menyesuaikan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, KUD sebelum krisis 1998 fokus pada bidang pertanian. Seperti penyedia pupuk, jual beli komoditas pertanian, selep padi, kebutuhan rumah tangga dan lain lain.

TRENDING :  65 Wasit Juri Pencak Silat Se Eks Karesidenan Pati, Refresh Peraturan PB IPSI di Taman Sardi

“Dulunya KUD itu juga melayani usaha seperti warung telokomunikasi, token listrik dan fotocopy . Sekarang peran itu diambil alih oleh masyarakat atau swasta,” bebernya.

Namun, lanjut Bambang, karena ketidaksiapan mengantisipasi perkembangan zaman dan persaingan usaha mengakibatkan KUD banyak yang sekarat alias gulung tikar. KUD tidak mampu melakukan inovasi .

Bahkan, menurut Bambang, KUD juga tidak mampu bersaing dengan bermunculannya toko modern yang menyediakan kebutuhan rumah tangga.

“Toko modern mampu menangkap peluang itu. Sementara KUD tidak bisa berbuat banyak. Salah satu penyebabnya adalah SDM,”terangnya.

TRENDING :  Kudus Potensi Jadi Wilayah Layak Anak Di Jateng

Bambang mengungkapkan bahwa SDM atau pengurus KUD didominasi oleh orang-orang tua. Akibatnya tidak ada terobosan dan inovasi dalam mengembangkan sebuah entitas usaha.

“Kalau ingin menghidupkan kembali KUD kuncinya pada core usaha dan SDM-nya,” tuturnya.

Dia melanjutkan apakah nanti bentuknya koperasi simpan pinjam (KSP), koperasi simpanan ssaha (KSU) atau lainnya hal itu bisa disesuaikan dengan kebutuhan daerah setempat.

“Kebutuhan masyarakat setempat apa, nantinya itu bisa menjadi bahan kajian untuk menyusun perencanaan usaha. Persaingan usaha yang ketat, maka dibutuhkan analisis yang kuat dan matang,” jelasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :