Selama Ramadhan, Tempat Hiburan Harus Tutup

oleh -992 kali dibaca

Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Menjelang bulan Ramadhan, Bupati Jepara mengeluarkan surat edaran (SE) tentang pengaturan usaha hiburan dan usaha rumah makan selama bulan puasa. Dalam SE nomor 300/2842 yang ditandatangani Plt. Bupati Jepara Sholih ini, berisi perintah agar semua usaha tempat hiburan karaoke, panti pijat dan sejenisnya untuk menutup usahanya selama bulan suci Ramadhan. Selain itu, pedagang rumah makan yang berjualan di siang hari agar tertutup atau tidak terlihat dari luar.

Kasie Penegakan Perda pada Satpol PP dan Pemadam Kebakaran Jepara Anwar Sadat mengungkapkan, surat edaran ini akan dikirim mulai Kamis (18/5/2017) ini kepada semua pelaku usaha hiburan dan rumah makan. “Secepatnya akan kita kirim, mulai besok (Kamis) akan mulai kita kirim ke semuanya,” kata Sadat di kantornya, Rabu (17/5/2017).

Menurut Sadat, dasar SE itu yakni Perda Nomor 20 tahun 2012 tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan (K3) serta Perda Nomor 9 tahun 2016 tentang Penyelengaraan Usaha Pariwisata. “Edaran ini dalam rangka mewujudkan ketertiban dan ketentraman masyarakat untuk menghormati bulan suci Ramadhan,” imbuhnya.

Untuk menindaklanjuti edaran itu, kata Sadat, pihaknya selama Ramadhan juga akan melakukan patroli rutin. Jika memang nanti didapati warung yang berjualan secara terbuka akan diberikan peringatan. Sedangkan bagi usaha hiburan seperti karaoke akan dikenakan sanksi sesuai dengan yang diatur dalam perda. “Sejauh ini kita belum ada rencana melakukan razia khusus, yang dilakukan nanti seperti biasa patroli rutin,” jelasnya.

Sadat menambahkan, selama Ramadhan nanti pihaknya juga akan fokus pada peredaran minuman keras. Menurutnya, meskipun selama Ramadhan biasanya ada kecenderungan menurun, penertiban terhadap jual beli minuman keras tetap jadi perhatian. “Berdasarkan pengalaman sebelumnya, selama Ramadhan peredaran miras cenderung menurun, namun setelah lebaran saat halal bihalal biasanya justru banyak yang mengkonsumsi,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Sadat juga mengeluhkan susahnya memberantas praktik jual beli minuman keras. Berbagai upaya baik razia maupun tindak pidana ringan (tipiring) di pengadilan tak juga membuat jera pelakunya. “Beberapa kasus yang sudah kita tipiring juga tetap nekad menjual miras. Yang terbaru pengadilan juga memutuskan denda sebesar 12 juta kepada penjual miras yang membandel. Mudah-mudahan denda tinggi bisa mengurangi praktek jual beli miras,” tandasnya. (ZA)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.