Kudus, isknews.com — Ratusan pelajar di Kabupaten Kudus mulai bersaing ketat dalam seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tahun 2026. Memasuki tahapan tes wawasan kebangsaan dan intelegensi, para peserta dituntut menunjukkan kemampuan terbaiknya demi melaju ke tahap berikutnya.
Seleksi yang digelar di lantai 3 Gedung C Setda Kudus, Senin (30/3/2026), diikuti sebanyak 295 peserta. Mereka merupakan pelajar yang telah lolos seleksi administrasi dari total 408 pendaftar.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus, Andrias Wahyu Adi Setiawan, menjelaskan bahwa tahapan ini menjadi salah satu penyaringan penting dalam proses seleksi Paskibraka.
“Hari ini peserta mengikuti tes wawasan kebangsaan dan intelegensi. Totalnya ada 295 peserta dari sebelumnya 408 pendaftar,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan tes menggunakan sistem berbasis komputer yang langsung terhubung dengan server pusat. Dengan sistem tersebut, hasil nilai peserta dapat dipantau secara real time oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
“Nilainya langsung muncul dan bisa dipantau dari pusat. Untuk lolos ke tahap berikutnya, peserta harus mencapai nilai minimal 70,” jelasnya.
Untuk menjaga efektivitas pelaksanaan, seleksi dibagi menjadi lima sesi dalam sehari. Setiap sesi diikuti sekitar 50 peserta dengan durasi pengerjaan selama satu jam.
“Pembagian sesi ini agar pelaksanaan lebih tertib dan peserta bisa menyesuaikan dengan jadwal, karena sebagian besar masih aktif sekolah,” tambahnya.
Usai tahapan ini, peserta yang lolos akan menjalani serangkaian seleksi lanjutan, mulai dari tes kesehatan, peraturan baris-berbaris (PBB), kesamaptaan, hingga kepribadian. Proses seleksi dilakukan secara berjenjang hingga menyisakan 64 peserta terbaik.
“Target akhir sebanyak 64 peserta, dan seluruh rangkaian seleksi diperkirakan selesai pada akhir April,” ungkap Andrias.
Tingginya minat pelajar mengikuti seleksi Paskibraka juga terlihat pada tahun ini. Kesbangpol Kudus bahkan melakukan sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah untuk menjaring peserta.
“Kami melakukan sosialisasi door to door ke sekolah, khususnya kelas 10. Peserta berasal dari seluruh SMA, termasuk madrasah aliyah dan pondok pesantren,” katanya.
Salah satu peserta, Muhammad Rizqi Maulana dari SMA 1 Mejobo, mengaku merasakan suasana tegang saat mengikuti tes.
“Suasananya hening, jadi cukup menegangkan. Semua peserta fokus mengerjakan,” ujarnya.
Rizqi mengaku telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari mencari referensi hingga belajar secara mandiri setiap hari.
“Saya belajar dari internet seperti Google dan TikTok, lalu rutin belajar pagi, siang, dan malam,” katanya.
Ia pun bersyukur dapat melalui tahapan awal dengan baik. Dari sekolahnya, terdapat delapan siswa yang mengikuti seleksi tahun ini.
“Motivasi saya ingin menambah pengalaman dan berharap bisa mendapatkan beasiswa,” tandasnya. (YM/YM)







