KUDUS, isknews.com – Upaya membaca pertumbuhan sastra remaja kembali digerakkan melalui penyelenggaraan SERAH 2 yang akan digelar pada 28 Februari 2026 pukul 19.30 WIB di RKKBR, Kudus.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Kudus kali ini dirancang untuk menjadi semacam ruang dialog antara panggung pembacaan puisi, dengan sebagai ruang refleksi untuk melihat serta memahami arah perkembangan kesusastraan remaja di kota kretek.
Mengusung tajuk Ruang Sastra, SERAH 2 diproyeksikan menjadi ruang temu, ruang baca, dan ruang dialog. Para remaja yang terlibat nantinya diharapkan untuk tidak hanya membacakan karya, tetapi juga berbagi pengalaman yang melatarbelakangi proses kreatif mereka. Sastra, dalam konteks ini, diposisikan sebagai peristiwa pengalaman yang bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Ketua Dewan Kesenian Kudus, Dian Puspita Sari, menjelaskan bahwa membaca sastra sama artinya dengan membaca generasi.
“Ketika seorang remaja menulis tentang kegelisahan identitas, relasi keluarga, kritik sosial, atau spiritualitas, mereka sedang memperlihatkan dunia sebagaimana yang mereka alami, bukan sebagaimana orang dewasa menghendakinya,” ujarnya.
Menurut Dian, pengalaman remaja tidak pernah lahir di ruang hampa. Mereka hidup dalam lanskap sosial yang khas: di antara tradisi dan religiusitas Kudus, derasnya arus media sosial, serta pengaruh globalisasi. Situasi tersebut membentuk cara mereka merasakan, memaknai, sekaligus menuliskan realitas dengan bahasanya.
Melalui forum ini, panitia juga ingin melihat kecenderungan bentuk dan medium yang digunakan. Apakah remaja Kudus masih bertahan pada puisi liris dan cerpen konvensional misalnya, atau mulai bergerak menuju bentuk hibrid dan lintas media? Fenomena karya yang lahir di media sosial, dipentaskan di ruang komunitas, lalu kembali beredar secara daring menunjukkan adanya pergeseran pola produksi dan konsumsi sastra.
“Ekosistem sastra menjadi cair. Medium bukan lagi batas, melainkan jembatan pengalaman,” ungkap Dian.
Selain sebagai forum pembacaan dan diskusi, SERAH 2 juga diharapkan menjadi ruang aman bagi remaja untuk menyampaikan gagasan tanpa stigma. Di tengah budaya instan dan arus informasi yang cepat, sastra dinilai mampu menghadirkan kedalaman—memberi ruang untuk berhenti, merenung, dan memahami kompleksitas hidup.
Upaya pemetaan yang dilakukan dalam kegiatan ini tidak hanya sebatas inventarisasi karya, tetapi juga menjadi dasar membaca kecenderungan tematik dan kualitas estetik sastra remaja. Hasilnya diharapkan dapat menjadi pijakan dalam merumuskan strategi pembinaan yang lebih terarah.
Melalui SERAH 2, pembangunan kebudayaan ditunjukkan tidak selalu lahir dari kebijakan besar, melainkan dari konsistensi ruang-ruang komunitas dalam merawat dialog. Jika remaja Kudus masih menulis, membaca, dan berdiskusi sastra, maka ruang refleksi dan daya kritis di kota ini dinilai masih hidup.







