Setelah Rudipah Tiada, Kamto Berjuang Menjaga Eksistensi Caping Kalo

oleh -10375 Dilihat
Kamto menunjukkan Caping Kalo hasil karyanya di Desa Gulang, Mejobo, Kudus. Setelah kepergian Mbah Rudipah, ia berupaya menjaga kelestarian kerajinan tradisional khas Kudus tersebut. (Foto: ist.)

Kudus, isknews.com – Kepergian Mbah Rudipah, perajin senior Caping Kalo asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, menyisakan kekhawatiran terhadap keberlangsungan kerajinan khas Kudus tersebut. Di tengah semakin berkurangnya jumlah perajin, Kamto (58) kini berupaya mempertahankan eksistensi Caping Kalo agar tidak hilang ditelan zaman.

Bagi Kamto, Caping Kalo bukan sekadar produk kerajinan tradisional. Kerajinan itu merupakan warisan keluarga yang telah dijalani secara turun-temurun selama beberapa generasi.

Pria asal Desa Gulang itu mengungkapkan dirinya merupakan generasi keempat pembuat Caping Kalo di keluarganya. Sebelum meninggal dunia, sang ayah sempat berpesan agar ia melanjutkan tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga mereka.

“Bapak sebelum meninggal mewasiati saya untuk melanjutkan Caping Kalo,” ujarnya.

Pada awalnya, Kamto mengaku sempat merasa keberatan menerima amanah tersebut. Ia merasa tidak memiliki keterampilan membuat anyaman halus yang menjadi bagian penting dalam proses pembuatan Caping Kalo.

Namun seiring waktu, ia memilih meneruskan usaha keluarganya dengan kemampuan yang dimiliki. Kamto mengambil peran dalam proses perakitan dan penyelesaian Caping Kalo, sementara bagian anyaman halus dikerjakan oleh almarhumah Rudipah.

“Saya waktu itu berpikir tidak bisa membuat semuanya. Akhirnya saya melanjutkan pekerjaan bapak dan bekerja sama dengan Bu Rudipah,” katanya.

Selama bertahun-tahun, keduanya membangun kerja sama yang saling melengkapi. Rudipah dikenal piawai membuat bagian anyaman halus atau alusan, sedangkan Kamto menangani proses penyatuan berbagai komponen hingga menjadi Caping Kalo yang siap digunakan.

Menurut Kamto, pembuatan Caping Kalo memang membutuhkan keterlibatan beberapa orang dengan kemampuan berbeda. Setiap bagian memiliki teknik pengerjaan tersendiri yang tidak mudah dipelajari.

Ia menuturkan, pada masa lalu satu keluarga biasanya mampu menyelesaikan seluruh tahapan produksi secara bersama-sama. Ada yang mengerjakan anyaman halus, membuat bagian dalam, hingga merangkai seluruh komponen menjadi caping utuh.

Salah satu teknik tradisional yang masih dipertahankan Kamto hingga sekarang adalah jejet, yakni metode menjahit setiap bagian Caping Kalo secara manual. Teknik tersebut membuat seluruh bagian menyatu kuat tanpa bantuan paku maupun perekat.

“Bukan dipaku atau ditempel. Semua dijahit atau dijejet,” jelasnya.

Karena seluruh proses masih dilakukan secara tradisional, pembuatan satu Caping Kalo membutuhkan waktu yang tidak singkat. Ketelitian menjadi faktor utama agar bentuk dan kualitas hasil akhirnya tetap terjaga.

Meski terus bertahan sebagai perajin, Kamto mengakui pekerjaan membuat Caping Kalo belum mampu menjadi sumber penghasilan utama. Waktu produksi yang panjang dan proses yang rumit membuat keuntungan yang diperoleh relatif terbatas.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia juga bekerja sebagai tukang parkir di sela aktivitas membuat Caping Kalo.

Menurutnya, kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan minimnya minat generasi muda untuk menekuni kerajinan tersebut. Padahal, satu Caping Kalo dapat dijual dengan harga sekitar Rp500 ribu.

Namun nilai tersebut masih harus dibagi untuk biaya bahan baku serta proses produksi yang memakan waktu cukup lama. Bahkan untuk membuat bagian anyaman halus saja bisa membutuhkan waktu hingga satu minggu.

“Kalau dihitung dari tenaga dan waktunya memang kurang sebanding. Anak-anak muda sekarang lebih memilih bekerja di pabrik atau pekerjaan lain yang penghasilannya lebih pasti,” ungkapnya.

Setelah kepergian Rudipah, Kamto berharap ada generasi baru yang bersedia belajar membuat Caping Kalo, khususnya teknik anyaman halus yang menjadi ciri khas kerajinan tersebut.

Ia khawatir jika tidak ada penerus, salah satu warisan budaya khas Kudus itu lambat laun akan menghilang.

“Kalau tidak ada yang meneruskan, nanti bisa hilang. Padahal ini warisan dari orang-orang dulu,” tandasnya. (AS/YM)