Sidak Sejumlah Puskesmas Kudus, Komisi D Temukan Alkes Senilai Miliaran Rupiah Mangkrak

oleh
Sejumlah alkes di Puskesmas Jekulo yang terpaksa belum bisa digunakan akibat menunggu sertifikasi dari lembaga terkait (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Anggota Komisi D DPRD Kudus melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua Puskesmas di Kudus. Keduanya adalah UPT Puskesmas Mejobo yang terletak di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo dan UPT Puskesmas Jekulo yang berada di Desa Klaling Jekulo Kudus, Selasa (10/12/2019).

Dalam sidak yang dipimpin oleh Ketua Komisi D Mukhasiron dengan wakil ketua Pieter M Faruq, serta anggota Endang Kursistiyani, Sayid Yunanta dan Sandung Hidayat, mereka mengagendakan pemantauan pembangunan proyek renovasi Puskesmas tahun 2019 yang diindikasikan mendekati akhir masa pekerjaan masih jauh capaian prosentase penyelesaiannya.

Anggota Komisi D saat menemukan ruangan berisikan sejumlah alat kesehatan yang mangkrak (Foto: YM)

Disela-sela pemantauan ketua Komisi D DPRD Kudus kepada sejumlah awak media menyampaikan, bahwa kunjungannya ke Puskesmas Mejobo ini untuk melihat langsung progres pembangunan yang pada tahun 2019 ini dianggarkan oleh pemerintah daerah sebesar Rp 1,4 miliar untuk renovasi pembangunan Puskesmas Mejobo.

“Khawatir pembangunan tidak sesuai target maka kami bersama anggota komisi D mencoba melakukan pengecekan Langsung,” ujarnya.

Ruang rawat inap Puskesmas Mejobo yang berada di bagian belakang, sudah mulai dibangun tahun 2018 dengan biaya Rp 1,6 miliar. Kemudian dilanjutkan renovasi tahun 2019 dengan anggaran Rp 1,49 miliar, dibiayai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

TRENDING :  Polisi Tes Urine Puluhan Sopir BEJEU

“Mendekati akhir tahun anggaran ini, kegiatan renovasi gedung pelayanan dan pembiayaan kesehatan Puskesmas Mejobo belum juga rampung,” terangnya.

Disinggung mengenai capaian pembangunan renovasi fisik ini, Mukhasiron mengatakan, pesimis pekerjaan ini bisa selesai sesuai target tanggal penyelesaian yang sesuai papan informasi harus selesai tanggal 17 Desember 2019.

“Tadi kami sudah meminta ini untuk dilakukan percepatan pembangunan baik itu dengan penambahan jam pekerjaan atau lembur maupun dengan penambahan main powernya agar tepat selesai sesuai masa kontrak pekerjaan,” ujarnya.

Ada sejumlah temuan saat melakukan sidak di Puskesmas Mejobo, selain meninjau pembangunan juga menemukan ruangan dan alat kesehatan yang tidak terpakai. Seperti di sampaikan anggota Komisi D Sayid Yunanta, dirinya menyayangkan, alat tersebut tak dirawat sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku. Bahkan, alat-alat seperti inkubator untuk bayi disimpan di ruangan yang kosong penuh debu.

“Alat kesehatan yang tidak atau belum terpakai harus disimpan dengan standar medis. Karena itu untuk kebutuhan medis. Kalau penyimpanan tidak sesuai berdampak pada kesehatan. Kami berharap bisa disesuaikan,” ujarnya.

Selain itu, banyak ruangan kosong yang dan tak terurus dan terkesan digunakan sebagai gudang. Padahal, ruangan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai kantor ataupun tempat rawat inap.

TRENDING :  Penyakit Tifus

Dirinya menyayangkan kurangnya perhatian pihak Puskesmas yang membiarkan alkes tidak terawat. Pengadaan alat inkubator dilakukan tahun anggaran 2017, namun hingga sekarang belum difungsikan. Alasannya, pihak Puskesmas belum memiliki ruang rawat inap represetantif karena masih dalam proses pembangunan.

Menurutnya, perencanaan pembangunan telah dilakukan secara berkesinambungan. Namun dalam pengadaan alkes tidak direncanakan dengan matang, sehingga begitu dianggarkan dan barang datang tidak langsung digunakan.

“Jangan sampai alat sudah dibeli tetapi dibiarkan tidak berfungsi, sehingga terkesan mangkrak,” ujar Sayid politisi dari PKS ini.

Ditempat yang sama Kabid Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Any Willianti yang hadir dipanggil oleh para wakil rakyat itu mengatakan, progres kegiatan sudah mencapai 80 persen, dan ia yakin dapat selesai sesuai batas waktu yang ditentukan.

“Untuk akselerasi pekerjaan, pihak penyedia jasa CV Daya Talenta telah menambah tenaga keja dan melakukan lembur,” terangnya.

Sementara dalam tinjauan ke Puskesmas Rawat Inap Jekulo, Komisi D menemukan adanya sejumlah alkes pengadaan tahun anggaran 2018 juga belum dioperasikan karena menunggu izin dari pihak berwenang. Dari tiga alkes di Puskesmas Jekulo, baru alat sterilisasi dan hematoanalisa atau alat untuk pemeriksaan darah rutin, yang sudah beroperasi.

TRENDING :  Rapat Paripurna DPRD Kudus Diwarnai Hujan Interupsi

Peralatan itu merupakan bagian dari pengadaan alkes 2018 senilai sekitar Rp 40miliar, bersama sejumlah puskesmas lainnya.

Kepala Puskesmas Rawat Inap Jekulo, dokter Emy Ruyanah mengakui terdapat satu alkes yaitu peralatan rotngen hingga saat ini belum dioperasikan karena masih menunggu izin dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Pihaknya berharap tahun 2020 nanti, alat rontgen sudah dapat dioperasikan.

“Kendala Izin, kedua karena listriknya. Tapi tahun 2020 yakin bisa terpakai. Seharusnya tahun 2019 ini bisa, karena perizinannya mundur,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ada tiga alat kesehatan yang diberikan untuk Puskesmas Jekulo. Di antaranya, hematologi analyzer, sentralisator, dan rontgen. Dari ketiganya itu, alat kesehatan rontgen belum bisa digunakan.

“Tahapnnya perizinannya sudah berjalan. Ini sudah hampir selesai. Kan memang izinnya bertahap. Syratanya juga lumayan banyak. Kita harus melakukan bertahap. Tenaga operator ahlinya sudah siap,” katanya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :