Skrining IDAI Temukan Banyak Kasus Jantung Anak di Kudus, Layanan Khusus Dinilai Mendesak

oleh -911 Dilihat
dokter spesialis anak konsultan kardiologi, dr. Agus Priyatno, Sp.A Subsp.Kardio(K). (Foto: YM/YM)

Kudus, isknews.com – Kasus kelainan jantung pada anak di Kabupaten Kudus dan sekitarnya ternyata cukup tinggi.

Temuan itu mengemuka saat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama tim dokter spesialis jantung anak menggelar skrining dan pemeriksaan jantung di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus dalam rangka pengabdian masyarakat memperingati Hari Ulang Tahun IDAI.

Kegiatan tersebut dipimpin dokter spesialis anak konsultan kardiologi, dr. Agus Priyatno, Sp.A Subsp.Kardio(K).

Pemeriksaan dilakukan menggunakan enam alat ekokardiografi atau USG jantung untuk mendeteksi kelainan jantung pada anak sejak dini.

dr. Agus mengungkapkan, dalam tiga bulan terakhir jumlah pasien anak dengan gangguan jantung yang datang untuk berobat terus meningkat.

Bahkan, banyak pasien dari Kudus yang selama ini harus dirujuk ke Semarang.

“Kalau kita lihat sendiri, yang datang di rumah sakit selama tiga bulan ini sudah sekitar 99 pasien. Memang di rumah sakit ini perlu ada dokter jantung anak supaya tidak selalu datang ke Semarang. Kenapa tidak dilayani saja di sini, kecuali kasus yang sulit baru dirujuk,” ujarnya.

Menurutnya, tingginya jumlah kasus menjadi alasan IDAI dan tim kardiologi anak menggelar pengabdian masyarakat di Kudus.

Setelah dari Kudus, kegiatan serupa juga akan dilanjutkan di Kabupaten Rembang.

“Kami berbeda dengan pengabdian masyarakat biasanya karena didukung beberapa vendor alat ekokardiografi. Ada enam alat yang digunakan untuk memeriksa pasien-pasien yang belum terdiagnosis maupun yang kontrol,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, ratusan anak menjalani pemeriksaan jantung.

Di Kudus sendiri tercatat sekitar 120 anak mengikuti skrining, sedangkan di Rembang lebih dari 100 anak dijadwalkan menjalani pemeriksaan serupa.

dr. Agus menjelaskan, deteksi dini sangat penting agar anak dengan kelainan jantung bisa segera mendapatkan penanganan sebelum kondisinya memburuk. Ia berharap dokter di puskesmas maupun dokter umum dapat mengenali gejala awal penyakit jantung pada anak.

“Sebelum dilakukan tindakan operasi atau lainnya, anak harus ditangani lebih dulu oleh dokter spesialis anak. Kalau di puskesmas, saya harapkan dokter di sana bisa membuat diagnosis dini sehingga penanganannya lebih awal,” katanya.

Selain pemeriksaan massal, IDAI juga menggelar pelatihan praktis bagi dokter puskesmas dan bidan di Pendapa Kabupaten Kudus agar kemampuan deteksi dini penyakit jantung anak semakin meningkat.

“Kita mengadakan klinik praktis untuk dokter-dokter puskesmas dan bidan supaya mereka bisa mendeteksi penyakit jantung pada anak lebih awal,” tambahnya.

Ia menjelaskan, gejala penyakit jantung pada anak dapat dikenali sejak bayi.

Di antaranya bayi tampak kebiruan atau cyanosis, terdengar bising jantung saat diperiksa dokter, berat badan sulit naik, hingga denyut jantung tidak teratur.

“Bayi prematur juga harus diperiksa karena bisa memiliki penyakit jantung bawaan. Jadi dokter umum sebenarnya bisa mengenali gejala awalnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus dr. Abdul Hakam, Sp.A mengatakan Pemkab Kudus saat ini terus mendorong penguatan layanan jantung anak di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus.

Salah satunya dengan menghadirkan praktik dokter konsultan jantung anak secara berkala.

“Ini sudah diinisiasi oleh Bapak Bupati supaya dr. Agus bisa praktik di RSUD dr. Loekmono Hadi. Sehingga pasien yang biasanya harus dirujuk ke Semarang bisa ditangani di Kudus,” katanya.

Menurutnya, keberadaan layanan jantung anak di Kudus akan sangat membantu masyarakat, terutama dari sisi biaya transportasi dan efisiensi pelayanan kesehatan.

“Kita tahu ongkos transportasi dari Kudus atau Rembang ke Semarang bisa lebih dari Rp500 ribu pulang pergi. Maka ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemkab Kudus juga mendukung rencana investasi pembangunan rumah sakit khusus jantung di Kudus untuk memperkuat pelayanan kesehatan jantung anak maupun dewasa.

“Pak Bupati memerintahkan agar proses perizinan maupun pengadaan rumah sakit jantung bisa didukung penuh oleh Dinas Kesehatan,” pungkasnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.