Kudus, isknews.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Kudus menjadi salah satu dapur gizi aktif yang memastikan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) layak dan aman dikonsumsi.
Setiap porsi yang disalurkan ke ribuan siswa penerima terlebih dahulu melewati proses uji keamanan pangan dengan pengawasan ketat dari tim kesehatan Polres Kudus.
Kepala SPPG Polres Kudus, Muhammad Rafi’ Projo Al Jito menjelaskan, setiap pagi pihaknya bersama Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Kudus melakukan rapid test kit makanan sebelum proses distribusi dilakukan.
Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada kandungan bahan berbahaya seperti formalin, sianida, arsenik, maupun nitrit dalam makanan.
“Pengujian ini kami lakukan untuk memastikan kondisi makanan selalu bagus dan tidak ada bahan yang berbahaya di makanan tersebut,” ungkap Projo saat ditemui di sela kegiatan distribusi MBG, Jumat (7/11/2025).
Ia menegaskan, hanya makanan yang dinyatakan aman yang akan disalurkan ke sekolah-sekolah penerima program MBG.
“Kalau dipastikan sudah bagus, baru kami distribusikan. Tapi kalau ada yang tidak bagus, pendistribusian kami stop,” imbuhnya.
Sejak beroperasi empat minggu lalu, SPPG Polres Kudus telah menyiapkan dan mendistribusikan 2.959 porsi makanan setiap hari untuk siswa di wilayah Kecamatan Kota.
Dari jumlah tersebut, 555 porsi merupakan ukuran kecil dan 2.404 porsi lainnya ukuran besar.
Projo menambahkan, proses memasak makanan dilakukan sejak dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.
Proses dimulai dari memasak nasi, kemudian lauk berprotein nabati dan hewani, hingga sayur-mayur.
Seluruh makanan dipastikan masih layak konsumsi hingga delapan jam setelah dimasak.
“Sementara ini semuanya (MBG) terkirim dengan aman dan respon anak-anak (penerima MBG) bagus semua,” katanya.
Untuk menjaga selera dan antusiasme siswa, SPPG Polres Kudus juga menyiapkan menu yang berbeda setiap harinya.
Total ada sekitar 30 menu yang dikembangkan, ditambah setiap dua minggu sekali disajikan menu khas Nusantara.
“Ketika kami siapkan soto kerbau khas Kudus, anak-anak sangat antusias. Minggu depan kami akan siapkan menu rawon khas Jawa Timur. Kami berharap respon anak-anak sama bagusnya seperti sebelumnya,” tuturnya.
Projo menambahkan, inovasi menu terus dikembangkan agar anak-anak tidak mudah bosan, namun tetap dengan pengawasan ahli gizi.
“Kami selalu pastikan kandungan gizinya seimbang dan aman dikonsumsi,” pungkasnya. (YM/YM)







