Kudus, isknews.com – Dr.Siti Ruhaini Dzuhayatin, MA, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia bidang keagamaan internasional, kemarin bertempat di Ruang Serba guna Universitas Muhammadiyah Kudus Kelurahan Purwosari berikan materi Kuliah Umum bagi civitas akademika dengan tema Kehidupun beragama dan berbangsa di Era 4.0.
Dr Siti yang juga Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu hadir di Kudus dampingi Asisten Staf Khusus Presiden Herman Dody Isdarmadi, ketua pimpinan Wilayah Muhammadiyah H. Tafsir dan Rektor Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus Rusnoto, S.KM.M.Kes, serta jajaran Pengurus Daerah Muhammadiyah Kudus.

Dr.Siti Ruhaini Dzuhayatin pada inti kuliahnya menyampaikan, bahwa di Indonesia Budaya modernisasi semakin marak, meluas dan semakin menyebar. Terlebih ketika dunia semakin menyempit dan manusia semakin mudah untuk berinteraksi dengan manusia lain dibelahan dunia lain.
“Kondisi ini menyebabkan nilai-nilai yang dipegang oleh manusia yang sebelumnya bersifat partikular kini kian universal. Perubahan lainnya dapat terlihat dari pola pikir manusia yang kian rasional dan fungsional sehingga perubahan tersebut kemudian menjadi tantangan bagi agama yang dianut manusia modern. Dalam tesis-tesis sekulerisme, manusia modern menyingkirkan agama dari rung publik, dan cenderung mengedepankan aspek rasional,” katanya.
Pola pikir ini karena agama dianggap tidak bisa berjalan bersama ilmu pengetahuan serta menghambat laju modernitas. Padahal tesis yang demikian memiliki kekeliruan besar.
“Globalisasi mendorong manusia khususnya umat beragama harus mampu menghadapi percaturan global, harus dapat menangkap peluang dan menghadapi tantangan abad 21. Hal ini karena permasalahan pembangunan peradaban bukan dari ajaran agama, melihat dari hal itu, revolusi Industri 4.0 tidak perlu dianggap ancaman bagi agama, pun sebaliknya agama bukanlah ancaman terhadap revolusi Industri 4.0,” tutur dia.
Dalam kaitan ini perlu ditekankan pentingnya usaha mengharmoniskan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dengan agama (Imtaq).
“Iptek harus selalu dilandasi oleh nilai-nilai moral-agama agar tidak bersifat destruktif terhadap nilai-nilai kemanusiaan (dehumanisasi). Sedangkan ajaran agama harus didekatkan dengan konteks modernitas, sehingga dapat bersifat kompatibel dengan segala waktu dan tempat,” ungkap Siti.
Hal ini merupakan keniscayaan yang mesti harus dihadapi oleh umat beragama karena revolusi industri 4.0 yang mesti harus dipahami bagi kita semua adalah munculnya inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang memunculkan kondisi baru yang kadang tidak banyak yang bisa menduga, mengganggu atau merusak kondisi yang sudah ada.
Agama tetap akan memegang peranan penting di masa mendatang, terutama dalam memberikan landasan moral bagi perkembangan sains dan teknologi.
“Maka dari itu, peran agama pada masa modern dirasakan masih sangat penting. Karena agama dapat melengkapi sisi moral, etika dan memberi makna terhadap dunia modern,” pungkasnya. (YM/YM)










