Kudus, isknews.com – Sebagai warga yang tinggal di kawasan sulit air bersih, Hermawan (35) warga Dukuh Cranggang Kulon, RT 4, RW 2, Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kudus, berfikir keras untuk bagaimana air sungai yang ada di wilayahnya dapat dialirkan menuju kampungnya yang berkontur lebih tinggi.
Menurutnya, air sungai di sini hanya numpang lewat, tak bisa dimanfaatkan oleh warga, akibat lokasinya yang lebih tinggi. Meski berada di pegunungan, dan air cukup melimpah, ia dan waga di Dusun tersebut tak bisa memanfaatkan air itu.
Meski sudah digali hingga belasan meter, air sumur tak bisa keluar di daerah itu. Setiap menggali sumur, terlalu dalam mungkin hingga ratusan meter.
“Tentu saja kami tak mampu, mungkin hanya korporasi yang sanggup membeayai pengeboran itu, PDAM dan Pamsimas juga tidak ada di Dusun ini, mungkin beaya operasional pembangunan jaringan air bersih disini terlalu tinggi,” kata Hermawan saat didatangi awak media beberapa waktu lalu.
Penduduk pun terpaksa pergi ke sumber mata air yang banyak terdapat di desa itu. Hanya saja letaknya cukup jauh dan berada di bawah desa. Prihatin dengan kondisi itu, Hermawanpun berpikir keras agar bisa mengalirkan air di sungai yang ada di daerah yang lebih rendah ke dusunnya.
“Saya pelajari dari berbagai sumber, lewat buku dan kanal Youtube, disitu kami membuat serangkaian uji coba dengan beaya sendiri dan dibantu teman-teman anggota komunitas warga Dusun Cranggang Kulon, karena di Desa Cranggang ini yang sulit air bersih memang hanya di Dusun Cranggang Barat,” katanya.
Hermawan menceritakan kisahnya tentang upaya membuat pompa air tenaga air atau yang dikenal dengan hydram. Pompa hidrolik ini hanya bertenaga kekuatan sentakan dari aliran debit air sungai. Tanpa listrik dan BBM. Keberadaan pompa air ini, menjadi secercah harapan bagi warga dalam mengatasi krisis air.

Dikatakan juga olehnya, selain untuk mengatasi permasalahan air bersih di daerahnya. Teknologi hidram ini juga mendukung upaya konservasi sungai yang tengah digiatkan pihaknya setahun belakangan ini.
Air sungai di sini hanya numpang lewat, tak bisa dimanfaatkan oleh warga, akibat lokasinya yang lebih tinggi. Meski berada di pegunungan, dan air cukup melimpah, ia dan warga di dusun tersebut tak bisa memanfaatkan air itu
“Desa Cranggang, khususnya Dukuh Cranggang Kulon masuk kategori daerah dataran tinggi, tapi posisinya tanggung. Lokasi dukuh kami cukup jauh dari sumber mata air pegunungan. Untuk mendapatkan air bawah tanah pun, kami harus mengebur hingga kedalaman 150 meter lebih,” kata Wawan, saat ditemui Tagar di rumahnya, Sabtu, 11 Oktober 2020.
Tingginya biaya pengeburan sumur, membuat warga Dukuh Cranggang Kulon menggantungkan kebutuhan air bersih mereka pada sumber mata air di desa tetangga, yakni Desa Kajar dan Kuwukan. Air bersih ini, disalurkan menggunakan pipa-pipa pralon yang mengular sepanjang dua sampai tiga kilometer.
Pengambilan air bersih dari desa tetangga ini memerlukan biaya yang tidak murah. Lanjut Wawan, warga harus merogoh kocek paling tidak Rp. 50 juta untuk pembelian dan pemasangan pipa. Dan Rp. 5ribu sampai Rp. 10 ribu perbulan untuk biaya perawatan.

“Air bersih yang kami gunakan saat ini ambil dari air sungai di Desa Kajar atau Kuwukan. Biayanya tinggi, karena lokasi pengambilannya jauh. Biasanya biaya ini ditanggung masyarakat secara swadaya,” terang dia.
Imbuhnya, “Kalau pakai air bawah tanah juga pembuatannya mahal. Karena harus mengebur sumur hingga kedalaman 150 meter untuk mendapatkan air. Biaya listriknya juga membengkak, perbulan bisa lebih Rp. 500 ribu,”
Keberadaan pompa hidram di tengah-tengah warga Cranggang Kulon diharapkan dapat memudahakan akses masyarakat dalam mendapatkan air bersih. Operasionalnya yang tidak menggunakan listrik dan BBM, tentu menghemat kentong masyarakat.
Permasalahan ini, selanjutnya menjadi pelecut bagi Wawan untuk mengembangkan pompa air yang bekerja menggunakan gravitasi bumi dan hentakan hedrolik atau yang dikenal dengan teknologi hidram.
“Keinginan untuk membuat hirdam sebenarnya sudah ada sejak lama, beberapa tahun lalu. Kesibukan kerja membuat saya menunda-nunda untuk merealisasikannya. Baru bulan Agustus lalu, saya ada waktu merakitnya,” ujar pria yang bekerja sebagai kontraktor itu.
Ayah dua anak ini mengaku awalnya sempat membeli spearpart pompa hirdam secara online. Pompa dengan diameter pipa 2 inch tersebut, selanjutnya diuji untuk mengangkat air sungai yang terletak sekitar 300 meter ke permukiman warga.
Namun sayang, pompa tersebut dirasa kurang efektif. Sebab pompa tersebut hanya mampu menaikkan air setinggi 5 meter dari dasar sungai. Dan belum bisa mengalirkan air bersih ke permukiman warga yang terletak sekitar 30 meter diatas sungai.
Kegagalan uji coba ini, mendorong Wawan bersama komunitas Solidaritas Warga Cranggang (Sowac) untuk membuat pompa hidran secara mandiri. Bermodal video tutorial di youtube dan barang-barang bekas mereka membuat pompa hidram dengan diameter pipa 2 inch.
Pipa hasil rakitan mereka kemudian diuji coba dan berhasil menaikkan air sungai hingga ketinggian 10 meter dengan debit 5 liter per 10 detik. Tak puas sampai disitu, Wawan lalu merakit kembali pompa hirdam dengan diameter input yang lebih besar.
Pompa dengan diameter pipa 6 inch yang dibuatnya dinilainya paling ideal. Mampu menaikkan air sungai hingga ketinggian 80 meter vertikal dengan debit air yang lebih deras. Yakni 10 liter perdetik.
“Ini merupakan prototype ke empat yang kami rasa paling ideal. Tiga pompa dengan pipa 6 inch ini cukup untuk mengcukupi kebutuhan air bersih warga Dukuh Cranggang Kulon, yang terdiri sekitar 400 Kepala Keluarga,” ucapnya.
Dilansir dari Wikipedia, Pompa Hidram adalah air yang bekerja menggunakan hentakan hidrolik air. Pompa ini pertama kali ditemukan oleh ilmuan asal Prancis, Josephem Montgolfierem pada abad 18. Prinsip pompa ini adalah mengguankan energi kinetik dari air yang mengalir secara teratur melewati katup.
Masih menggunakan prinsip yang sama. Pompa hidram yang dikembangkan Wawan dikolaborasikan dengan gaya gravitasi bumi untuk menghasilkan energi kinetik yang lebih besar. Dimana sumber mata air ditempatkan pada titik elevasi yang lebih tinggi dari pompa hidram. Tekanan gaya gravitasi ini akan mendorong katub dengan lebih maksimal dan menghasilkan energi kinetik yang lebih besar.
“Teknologi ini mengandalkan tiga barang yakni bak penampung air sungai, pompa hidram dan pipa pralon yang akan menyalurkan air ke rumah-rumah warga. Dimana air sungai akan dialirkan menuju bak penampungan air dengan elevasi minimal 3 meter dari pompa,” jelas dia.
Ditambahkan olehnya, bahwa air dari bak selanjutnya dialirkan ke pompa hidram. Dengan memanfaatkan gervitasi bumi dan energi kinetik, air dinaikkan dan disalurkan ke permukiman warga yang terletak di atas sungai.
“Tolong jangan tulis saya penciptanya, saya hanya pengembang alat ini,” pesan Wawan, pria lulusan SMK Muhammadiyah Kudus yang juga penyedia jasa konstruksi untuk kalangan swasta.
Lebih detail, Wawan menjelaskan prinsip kerja di dalam pompa hidram. Dimana, air yang masuk dari pipa input akan mendorong katup buang. Hentakan katup buang akan menghasilkan water hammer atau gelombang tekan, yang mendorong air naik menuju ruang tekan. Dari ruang tekan air bersih dialirkan menuju rumah-rumah warga melalui pipa output.
“Prinsip kerjanya sesederhana itu. Pompa akan terus menyala selama ada aliran air di pipa input. Pompa ini akan bekerja selama 24 jam tanpa henti, tanpa listrik dan BBM,” tegasnya.
Kegagalan uji coba ini, mendorong Wawan bersama komunitas Solidaritas Warga Cranggang (Sowac) untuk membuat pompa hidran secara mandiri. Bermodal video tutorial di youtube dan barang-barang bekas mereka membuat pompa hidram dengan diameter pipa 2 inch.
Satu pompa hidram, diprediksi dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan air 30 hingga 60 rumah. Untuk biaya pembuatannya bisa ditanggung secara swadaya oleh warga.
Kelemahan dan Kelebihan Pompa Hidram
Bicara soal kelebihan dan kekurangan, Wawan mengaku teknologi hidram ini memang sangat ekonomis dan efektif dalam mengatasi kesulitan air bersih di daerah pegunungan. Teknologi ini juga ramah lingkungan.
“Kelebihannya, biaya pembuatan, operasional dan perawatannya murah. Efektif mengatasi permasalahan air bersih di daerah pegunungan. Pipa ini juga memiliki umur yang panjang,” sebut Wawan.
Untuk kelemahannya, teknologi ini sangat bergantung dengan debit air sungai yang digunakan sebagai sumber mata air. Jika debit air sungai rendah, maka debit air yang dihasilkan dari pompa ini juga rendah. Begitupun sebaliknya.
Untuk mengatasi hal ini, Wawan bersama komunitas Sowac mulai melakukan upaya penambakan sungai. Dengan menggunakan kayu dan bambu, dia bersama rekan-rekannya membuat bendungan-bendungan kecil sepanjang suangai Jati Pasekan.
Bendungan-bendungan kecil ini menjadi ikhtiar pihaknya dalam melakukan konservasi sungai. Bendungan ini diharapkan dapat menjadi lahan serapan dan penampungan air. Sekaligus menjadi uapaya pihaknya dalam menjaga debit air sungai.
“Kalau musim kemarau air sungai Jati Pasekan alirannya kecil. Kalau musim penghujan airnya melimpah. Dengan adanya bendungan-bendungan ini dapat menjadi cadangan air bagi kami di musim kemarau selanjutnya,” terang dia.
Saat ini, Wawan mengaku masih berfokus melakukan penataan terhadap sungai Jati Pasekan yang nantinya akan dijadikan sebagai sumber air bersih warga Cranggang Kulon. Untuk penerapan teknologi hidram, ia mengaku akan merealisasikannya dalam waktu dekat. (YM/YM)










