Tak Ada Temuan PMK Baru Selama Sebulan, Kudus Genjot Vaksinasi 1.300 Dosis

oleh -619 Dilihat
Petugas saat mendatangi ternak warga. (Foto: ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) memastikan tidak ada penambahan kasus baru Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak selama satu bulan terakhir. Untuk menjaga kondisi tersebut tetap terkendali, Dispertan menyiapkan program vaksinasi lanjutan sebanyak 1.300 dosis yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Kepala Bidang Peternakan Dispertan Kudus, Arin Nikmah, mengatakan perkembangan PMK di wilayah Kabupaten Kudus menunjukkan tren yang positif. Sebagian besar ternak yang sebelumnya terinfeksi kini telah pulih dan kembali beraktivitas normal.

Selama sebulan terakhir tidak ada laporan kasus baru PMK. Sebagian besar ternak yang terdampak sebelumnya sudah sembuh, dan saat ini hanya tersisa sekitar tiga ekor yang masih dalam tahap pengobatan,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (9/6/2026).

Berdasarkan data Dispertan, jumlah kasus PMK yang tercatat pada periode terakhir mencapai 21 ekor ternak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 14 ekor berhasil sembuh setelah mendapatkan penanganan, sedangkan tujuh ekor lainnya dilakukan pemotongan paksa sebagai langkah pengendalian penyakit.

Arin menegaskan bahwa selama penanganan PMK tidak ditemukan kasus kematian ternak akibat penyakit tersebut. Pemotongan paksa dilakukan sebagai tindakan preventif guna memutus potensi penyebaran virus ke ternak lain.

Tidak ada ternak yang mati karena PMK. Yang dilakukan adalah pemotongan paksa terhadap beberapa ternak untuk menghindari penularan lebih luas,” jelasnya.

Meski situasi di Kudus saat ini relatif aman, pihaknya tetap meminta para peternak untuk meningkatkan kewaspadaan. Ancaman penyebaran PMK masih ada mengingat sejumlah daerah di Jawa Tengah masih melaporkan kasus serupa.

Menurut Arin, sekitar 14 kabupaten di Jawa Tengah hingga kini masih berstatus memiliki kasus PMK. Karena itu, masuknya ternak baru dari luar daerah setelah Iduladha menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius.

Yang perlu diantisipasi adalah kedatangan ternak baru ke kandang-kandang peternak. Sebab masih ada sekitar 14 kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki kasus PMK, sehingga upaya mitigasi harus terus dilakukan,” katanya.

Untuk memperkuat perlindungan terhadap ternak, Dispertan Kudus akan kembali menggencarkan vaksinasi PMK mulai pekan depan. Sasaran utama program tersebut adalah ternak yang baru didatangkan dari luar wilayah Kudus.

Ia menjelaskan, target vaksinasi yang akan dikejar dalam satu bulan ke depan mencapai sekitar 1.300 dosis untuk sapi. Jumlah tersebut merupakan sisa target vaksinasi PMK tahun 2026 yang belum terealisasi.

Sebelumnya, sejak Januari hingga April 2026, Dispertan telah menyuntikkan sekitar 1.150 dosis vaksin PMK. Dengan target tahunan sebanyak 2.500 dosis, masih tersisa sekitar 1.300 dosis yang harus dipenuhi.

Target vaksinasi tahun ini sebanyak 2.500 dosis. Sampai April telah terealisasi sekitar 1.150 dosis, sehingga sisanya sekitar 1.300 dosis akan kami tuntaskan dalam waktu satu bulan ke depan,” terangnya.

Selain memantau perkembangan PMK, Dispertan juga mencermati pelaksanaan kurban tahun ini yang menunjukkan peningkatan jumlah pemotongan kerbau. Kondisi tersebut dinilai cukup menarik karena terjadi di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat.

Arin menyebutkan jumlah kerbau yang dipotong pada Iduladha tahun ini hampir mencapai 3.000 ekor. Angka tersebut meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang umumnya berada di kisaran 2.000 ekor. Sementara jumlah sapi yang dipotong tercatat sekitar 400 ekor.

Secara data, jumlah pemotongan kerbau justru meningkat dibandingkan tahun lalu. Padahal sebelumnya sempat diperkirakan akan terjadi penurunan pada hewan kurban berukuran besar,” ungkapnya.

Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan hewan kurban juga menemukan beberapa kasus cacing hati. Temuan tersebut berasal dari hasil pengawasan petugas selama proses pemotongan hewan kurban berlangsung.

Total terdapat tujuh kasus cacing hati yang ditemukan, terdiri atas empat kasus pada kerbau dan tiga kasus pada kambing. Adapun pada sapi tidak ditemukan adanya infeksi cacing hati.

Untuk temuan cacing hati ada tujuh kasus, yakni empat pada kerbau dan tiga pada kambing. Sementara pada sapi tidak ditemukan kasus serupa,” pungkasnya. (AS/YM)