Tak Gelar Salat Jumat di Masjid, Ikhtiar Warga Muhammadiyah Kudus Putus Rantai Penyebaran Covid 19

oleh

Kudus, isknews.com – Muhammadiyah Kudus terkait penyelenggaraan Salat Jumat dan fardhu berjamaah saat terjadi wabah corona virus diesase (covid19) melalui Pimpinan daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus telah mengeluarkan Surat edaran.

Surat bernomor 64/EDR/III.0/H/2020 Tentang Penggunaan Masjid Dan Musala Dalam Persyarikatan Muhammadiyah dalam masa penanggulangan wabah covid19, menyatakan untuk sementara tidak menyelenggarakan salat berjama’ah di masjid – Musala dalam Persyarikatan Muhammadiyah sampai tanggal 09 April 2020.

Hal ini disampaikan oleh Ketua PDM Kabupaten Kudus, Dr H Achmad Hilal Madjdi, menurutnya itu berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Fardhu Berjama’ah Saat Terjadi Wabah Covid19.

Ketua PDM Kudus Dr H Achmad Hilal Madjdi saat memimpin rapat persyarikatan (Foto: istimewa)

“Ini sebagai bentuk ikhtiar Muhammadiyah berperan dalam memutus rantai penyebaran virus covid 19,” jelas Hilal, Kamis (26/03/2020).

Tak hanya itu, lanjut dia, hal ini juga mendasari Tausiyah Majelis Ulama’ Indonesia Provinsi Jawa Tengah tentang Penyelenggaraan Ibadah di Masjid dalam situasi darurat Covid-19.

Menurutnya Surat Edaran itu berdasarkan hasil rapat pleno Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus beserta Ketua dan Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kudus pada  tanggal 24 Maret 2020.

“Mengingat sesuai keadaan penyebaran Covid-19 makin meluas dan korban wabah makin bertambah di berbagai daerah, dimohon Pimpinan Cabang dan Ranting bersama Takmir berkoordinasi untuk sementara tidak menyelenggarakan salat berjama’ah di Masjid dan Musala,” tambah dia.

Dijelaskannya kepada Takmir, para anggota dan simpatisan Muhammadiyah dimohon menjalankan salat fardhu berjama’ah dan salat sunnah lainnya di rumah masing – masing.

“Kepada mereka  dipersilahkan menunaikan jamaah salat dhuhur di rumah masing – masing sebagai pengganti salat Jumat di masjid, sedangkan untuk pelaksanaan salat Jumat berikutnya menunggu perkembangan situasi dan kondisi yang ada,” tuturnya.

Nantinya sebagai tanda telah masuk waktu salat, Masjid dan Musala tetap mengumandangkan azan dengan mengganti kalimat di dalam adzannya.

 “Hayya alassholah diganti  dengan Sholluu fii buyuutikum sesuai hadist Muslim nomor 1637,” terang Hilal.

Dia menyerukan kepada para anggota dan simpatisan Muhammadiyah untuk memperbanyak berdo’a kepada Allah SWT agar musibah Covid-19 segera teratasi dan aktivitas kehidupan bisa kembali normal.

“Para anggota dan simpatisan Muhammadiyah diwajibkan mengikuti petunjuk pemerintah dalam melakukan langkah pencegahan dengan tetap tinggal di rumah, kecuali untuk hal–hal yang sangat penting dengan tetap bersikap waspada,” terang dia.

Sementara itu menurut Sekretaris PDM, Zulfa Kurniawan,  hingga saat ini sudah puluhan Masjid dan Musala Muhammadiyah melaporkan hingga mala mini sudah puluhan Masjid dan Musala dibawah Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) yang menyatakan tidak menyelenggarakan salat Jumat dan diganti dengan jamaah salat Dhuhur di rumah. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :