Kudus, isknews.com – Taman Krida Kudus dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi mini zoo sekaligus wisata edukasi keluarga. Keberadaannya yang berada di tengah kota serta didukung fasilitas dasar menjadikannya cocok sebagai destinasi pembelajaran dan rekreasi bagi anak-anak maupun masyarakat umum.
Pemerhati wisata Kabupaten Kudus, Yusuf, menyampaikan bahwa saat ini Kudus masih kekurangan objek wisata edukasi yang representatif, khususnya yang mudah diakses dari kawasan perkotaan.
“Kalau di Kudus itu sebenarnya sudah ada Taman Krida milik pemda. Tinggal bagaimana pengelolaannya dikembangkan agar menjadi wisata edukasi seperti yang sedang viral sekarang, misalnya Ibarbo Park di Yogyakarta,” ujarnya.
Menurut Yusuf, pilihan wisata edukasi anak di Kudus saat ini masih sangat terbatas. Hingga kini, lokasi yang masih aktif dikunjungi pelajar untuk kegiatan outing class di antaranya Kampung Kutho di Kelurahan Purwosari dan Pijar Park di Desa Kajar.
Ia menilai, Taman Krida sangat potensial untuk dikembangkan menjadi mini zoo edukatif. Sejumlah elemen pendukung sebenarnya telah tersedia, seperti patung-patung hewan, water park, hingga aula pertemuan, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Konsep mini zoo itu bisa dikembangkan dari yang sudah ada. Tinggal ditambah wahana edukasi, area interaksi anak, serta spot foto yang menarik. Konsep seperti ini di Kudus belum ada,” tambahnya.
Dengan luas lahan sekitar 1,2 hektare, Taman Krida dinilai memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadirkan wisata keluarga terpadu. Meski tidak terlalu luas, pengelolaan yang kreatif dan penataan wahana yang tepat diyakini mampu meningkatkan daya tarik pengunjung.
Selain wisata siang hari, Yusuf juga mengusulkan pengembangan wisata malam. Jam operasional dapat diperpanjang dengan menghadirkan wahana permainan dan kuliner, seperti yang biasa dijumpai saat perayaan Dandangan Kudus.
Keberadaan wisata malam tersebut dinilai mampu menarik minat generasi muda, khususnya generasi Z, yang gemar menikmati suasana rekreasi pada malam hari. Hal ini sekaligus menjadi solusi atas minimnya pilihan wisata malam di Kabupaten Kudus.
“Bisa buka sampai pukul 22.00 atau 23.00 WIB. Taman Lampion juga bisa ditata ulang konsepnya agar lebih menarik, seperti di Malang, sehingga tidak hanya ramai pada siang hari saja,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Yusuf menilai konsep mini zoo dan wisata edukasi keluarga ini sejalan dengan kebijakan sekolah yang mendorong kegiatan pembelajaran luar kelas. Lokasinya yang dekat pusat kota juga dinilai memudahkan akses bagi pelajar maupun masyarakat umum.
“Yang perlu menjadi perhatian serius adalah ketersediaan lahan parkir. Jika ingin dikembangkan besar, persoalan itu harus direncanakan sejak awal agar keberadaannya benar-benar memberi manfaat tanpa menimbulkan masalah baru,” pungkasnya. (AS/YM)








