Pati, ISKNEWS.COM – Keinginan mendapatkan penghasilan dan pengalaman kerja, sepertinya menjadi alasan tersendiri bagi para pemuda saat ini. Terlihat saat Lembaga Pelatiha Kerja (LPK) Fujiyama Gakkou Pati membuka seleksi job pemagangan Jepang , Kamis (20-9-2018) kemarin.
Seleksi yang dilakukan di gedung PGRI Kayen tersebut menurut pimpinan LPK Fujiyama, Muhammad Basri menggandeng lembaga penguji dari Japanese Langueage & Management Canter (JLMC). Adapun pesertanya adalah puluhan anak muda yang sebagian besar berasal dari Kabupaten Pati. Bahkan ada diantaranya yang dari Ponorogo, Jawa timur.
Lebih lanjut Muhammad Basri mengatakan, tujuan diadakan pelatihan ini adalah untuk mengenalkan pada remaja di Pati bahwa ada rekrutmen pemberangkatan magang ke Jepang yang aman.
“Kami mendatangkan langsung penyalur yang sudah berpengalaman puluhan tahun, yakni JLMC. Lembaga ini nanti yang akan menguji dan memberangkatkan para remaja ke Jepang untuk bekerja di sana,” ungkapnya disela-sela acara.
Basri menjelaskan, setiap bulan pihaknya mampu memberangkatkan 40-an remaja yang ada di Pati. Untuk hari ini (kemarin-red) selain pelatihan juga diadakan pengujian yang meliputi test tulis, fisik dan bahasa.
“Nanti ada beberapa tahapan seleksi, peserta mengikuti tes tertulis meliputi matematika dasar dan bahasa Jepang, kemudian test fisik meliputi lari, pust up, site up serta adalagi pengukuran kekuatan cengkraman tangan,” jelasnya.
Sementara itu, Rekrutmen JLMC Arsyad Mualim menambahkan, setelah mengikuti serangkaian tes tersebut, para peserta yang dinyatakan lulus akan diberangkatkan ke Bandung untuk wawancara langsung dengan perusahaan dari Jepang yang akan menjadi tujuan kerja.
“Jumlah yang akan diberangkatkan minggu depan ada 44 peserta yang akan bekerja di perusahaan Ajinomoto dan Daihatsu,” katanya.
Sejauh ini, Arsyad menjelaskan, tidak ada kendala dalam pemberangkatan TKI ke Jepang. Namun, biasaya factor internal peserta yang menjadi kendala, seperti orang tua peserta yang tidak mengijinkan.
“Untuk bekerja di Jepang kami yakin aman, karena Jepang lebih ketat dibanding dengan negara-negara lainnya. Di sana selama ini tidak ada masalah antara TKI dengan perusahaan,” jelasnya.
Terkait masalah biaya, Arsyad menuturkan biaya akan diminta setelah peserta dinyatakan lulus tes bahasa Jepang dan lulus tes kesehatan. Bahkan, imbuhnya, itupun dibayarkan setelah dua minggu mereka di asrama.
Dengan terjun langsung mengadakan seleksi ke daerah seperti ini, Arsyad berharap bisa memerangi praktek-prakter percaloan sehingga biayanya pun bisa lebih murah. (IN/WH)









