Tingkatkan Kualitas Produksi Tanam, Trend Petani Gunakan Pupuk Non-Subsidi Meningkat

oleh

Kudus, isknews.com – Para petani di Kabupaten Kudus dalam melakukan olah hasil pertanian baik itu tanaman padi pada musim tanam pertama (MT I) dan MT II, maupun palawija seperti kacang hijau pada MT III, kini Kesadaran petani untuk meningkatkan produksi pertanian pangan mulai meningkat .

Pasalnya mereka tidak lagi hanya mengandalkan pupuk bersubsidi dari pemerintah, namun sebagian menggunakan pupuk non-subsidi meski harus ditebus dengan harga lebih mahal.

Tetapi petani mengaku puas karena usahanya sebanding dengan adanya peningkatan produksi tanaman karena hasilnya maksimal.

Suasana kegiatan Promosi Sehari HUT PT Petrokimia Gresik di ke-48 di Undaan Tengah, Undaan Kudus, Senin (20/07/2020). (Foto: YM)

“Kami telah uji coba pupuk non-subsidi pada demplot lahan untuk tanaman padi, hasil produksinya meningkat antara 10-15 persen dibanding memakai pupuk bersubsidi. Bulir gabah maksimal dan produksi bertambah,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kondang Wirotani, Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan Kudus, Darwoto, Selasa (21/07/2020).

Selama ini untuk mendukung proses produksi tanaman padi, petani lebih banyak menggunakan pupuk bersubsidi jenis Urea, SP-36, ZA dan organik.

Selain itu pupuk Phonska atau pupuk majemuk,  menjadi salah satu andalan petani karena memiliki lebih satu unsur hara utama dengan kandungan Nitrogen, Kalium dan Phospat (NPK). Pupuk NPK Phonska termasuk pupuk yang disubsidi pemerintah dengan harga relatif lebih murah.

Direktur CV Putra Daerah Jaya selaku distributor pupuk PT Petrokimia Gresik, Gayuh Dwi Prasetyo mengatakan, sejak pemerintah menurunkan jumlah subsidi Phonska hingga 40 persen, banyak petani beralih menggunakan pupuk non-subsidi NPK Phonska Plus.

“Pupuk berbentuk granul yang dikemas dengan berat bersih 25 kilogram itu, bersifat higroskopis yaitu mudah larut dalam air dan memiliki banyak unsur hara di dalamnya,” ungkapnya, dalam kegiatan Promosi Sehari HUT PT Petrokimia Gresik di ke-48 di Undaan Tengah, Undaan Kudus, Senin
(20/07/2020).

Harga Phonska Plus di tingkat pengecer Rp 175 per kilogram. Lebih mahal dibanding dengan Phonska bersubsidi, tetapi menurutnya hasil produksinya jauh lebih baik.

Promo berhadiah pembelian Phonska Plus dan pupuk jenis Petro Ningrat, merupakan apresiasi perusahaan atas keberhasilan Kios Pupuk Lengkap (KPL) Sumber Jaya, Undaan Tengah, yang sukses menyabet juara dua desain kios se-Jawa-Bali dalam rangka HUT Petrokimia Gresik.

Menurutnya, Phonska Plus menjadi pilihan petani karena memiliki unsur hara lebih lengkap. Manfaat pupuk Phonska mendukung pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan buah atau biji, serta memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama penyakit.

Penambahan unsur hara mikro Zink atau Seng (Zn) itulah yang membedakan pupuk  NPK Phonska Plus dengan pupuk NPK Phonska bersubsidi.

“Kekurangan seng berdampak pada kekerdilan tanaman, ketegaran tanaman berkurang, daun mengecil serta ukuran bulir dan buah kecil. Pupuk Phonska Plus lebih unggul karena mengandung unsur seng,” terangnya.

Staf Perwakilan Penjualan Daerah (SPDP) PT Petrokimia wilayah Kudus, Riza Iskandar membenarkan, pupuk Phonska Plus dan Petrogenik memiliki keunggulan tersendiri dibanding pupuk lain bersubsidi.

“Harga jualnya juga lebih mahal, untuk pupuk Petro Ningrat di tingkat pengecer Rp 190 ribu per sak isi 20 kilogram. Pupuk Petro Ningrat memiliki kandungan nitrogen dan rendah chlor,” tuturnya.

Untuk pemupukan tanaman tembakau, keunggulannya mampu meperbaiki aroma, warna, rasa dan kelenturan daun. Pupuk Petro Ningrat juga dapat membuat tanaman lebih tegak dan kokoh, merangsang pembentukan umbi dan buah, cocok digunakan untuk lahan kering, serta larut dalam air
sehingga mudah digunakan. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :