Tradisi Tawur Nasi Dari Palemsari

oleh -1,192 kali dibaca

Rembang,isknews.com (Lintas Rembang)- Biasanya tawuran selalu identik dengan kekerasan antar dua kelompok yang bertentangan dan lemparan batu dan jatuh korban material maupun jiwa. Namun di desa Pelemsari, kabupaten Rembang justru menjadi tradisi puluhan tahun secara turun temurun.

Di Palemsari warga saling melempar nasi yang biasanya disebut tawuran “sego”. Tawuran nasi ini merupakan wujud d rasa syukur atas melimpahnya hasil panen, maka dari itu tradisi ini dilakukan setelah pasca panen.

Tidak ada dendam ataupun sakit hati diantara warga yang ikut tawuran. Malah sebaliknya mereka melakukannya dengan penuh semangat dan tawa, karena tradisi ini juga dipercaya dapat menghilangkan kesusahan yang akan menimpa desa.

Seperti yang terjadi pada Rabu (16/8/ 2017) ,namun anehnya pada tahun kemarin desa tidak melakukan tawuran nasi dan pada tahun itu juga, seluruh desa dilanda gagal panen.

 

Dilakukan di sebuah tempat yang disebut sebagai punden sumber Dukuh/Desa Pelemsari, Kecamatan Sumber, Rembang jawa tengah itu dikelilingi areal sawah yang hampir kering, ratusan masayarakat mulai dari anak-anak, pemuda dan orang dewasa berkumpul di sekitar deklit berwarna biru tepat di bawah pohon jati besar yang tumbuh besar di tanah punden itu.

Lalu warga masyarakat berbondong-bondong datang dengan membawa berkat komplit dengan bumbu dan dumbeg, sebungkus ketan dan tape. Dumbeg, sebungkus ketan dan tape yang dibawa perempuan desa dikumpulkan oleh pemuda pemuda dalam dua buah karung. Sedangkan satu bakul nasi ditumpahkan di atas deklit.

Sebelum dimulai, tradisi ini di awali dengan ritual doa, Kepala Desa bersama Ibu kades membawa kendi dan sesaji ,setelah berdoa yang di pimpin oleh modin para pemuda menyerbu nasi yang berada di atas deklit.

Setelah berhasil menggengam nasi, pemuda-pemuda itu langsung melemparkan nasi ke tubuh teman mereka yang juga tengah berusaha untuk meraih nasi yang ditumpuk di deklit. Dalam setengah jam kemudian, aksi saling lempar nasi pun terjadi di tanah punden yang dikeramatkan itu. Aksi saling lempar baru berakhir apabila nasi yang dikumpulkan dari seluruh warga itu telah habis dari atas deklit.

Kepala Desa Pelemsari Surinto mengatakan, kegiatan ini tradisi sudah turun temurun. “ Sejak saya belum lahir sawatan sego ( tawur nasi) sudah ada ,walaupun banyak masyarakat luar mengatakan kegiatan tawur sego kok tidak eman-eman,” katanya.

Surinto menjelaskan justru nasi bekas tawuran yang berceceran di tanah juga dianggap sebagai berkah bagi warga. Pasalnya nasi tersebut akan digunakan sebagai makanan ternak. Warga percaya ternak yang makan nasi sisa tawuran itu akan dijauhkan dari penyakit. (Mcs)

KOMENTAR SEDULUR ISK :