View Istimewa, Bukit Puser Angin, Magnet Baru Wisata Alam di Kudus

oleh

Kudus, isknews.com – Warga di Kabupaten Kudus kini memiliki kebanggaan baru, tempat wisata alam yang memiliki view istimewa seperti sebuah puncak gunung yang berlatar belakang danau indah.

Ya Bukit Puseran Angin, sejumlah orang menyebutnya Raja Ampatnya Kudus. Konon view pemandangan dari tempat itu hampir mirip dengan obyek wisata nasional Raja Ampat  di provinsi Papua Barat dengan latar belakang laut dan pulau-pulau.

Tentu saja pengandaian itu memang agak berlebihan, karena di Bukit Puser Angin yang terletak di Dukuh Karang Subur Desa Klaling, Kecamatan Jekulo Kudus ini, tak ada danau, pulau atau bahkan laut. Yang ada adalah sebuah puncak dengan pemandangan air Bendungan Logung serta bukit-bukit yang dikitari oleh air Bendungan.

Bukit Puser Angin di Dukuh Karang Subur, Desa Jekulo, Kabupaten Kudus (foto: YM)

Tapi apapun, berada di bukit ini anda akan disuguhi pemandangan istimewa, dengan semilir angin yang bertiup, pemandangan perairan yang terkadang dilintasi oleh perahu-perahu wisata Bendungan Logung menambah aksen pemandangan, serta sebuah tempat yang indah untuk menantikan sunset dan sunrise.

“Saya tak yakin saya sedang berada di Kudus, ini luar biasa,” ujar Nila pengunjung asal Jati Kulon Kudus.

Apapaun Puncak Puser Angin telah menjadi magnet baru yang kuat bagi warga dalam maupun luar Kudus untuk berkunjung. Tidak hanya sekedar menyuguhkan keindahan sungai dan hijauan pepohonan khas Gunung Pati Ayam, wisata yang terkenal baru-baru ini juga menampakkan fenomena pusaran angin dengan skala kecil.

“Disini banyak para pesepeda yang mencoba adrenalin dengan menaklukkan tanjakan ekstrim dalam rute menuju tempat ini, sebagai area camping ground juga bagus, banyak yang membawa peralatan camping,” kata Nila.

Namun menurutnya sampah masih banyak berserakan, bungkus rokok, botol-botol soft drink dari para pengunjung.

“Masih perlu perhartian soal kedisiplinan buang sampah dari para pengunjung,” tambahnya.

Menurut penuturan dari Abi Yusuf selaku pengelola Bukit Puseran Angin, penamaan bukit ini diberikan oleh para pesepeda yang takjub akan indahnya fenomena pusaran angin di tempat tersebut. Mereka berhasil mengabadikan fenomena tersebut video, yang pada akhirnya menjadi viral di media sosial.

“Yang mengatasnamakan Bukit Puseran Angin iu katanya orang Karangsubur, tapi sejatinya tidak. Yang menyebutnya itu para pesepeda yang lewat sini dan kebetulan melihat puseran angin, lalu di viralkan di media sosial, makanya dikenal Bukit Puseran Angin,” ujarnya.

Abi Yusuf mengungkapkan, untuk bisa menangkap momen kemunculan puseran angin tersebut, bisa berkunjung di siang atau sore hari. Akan tetapi kondisi tersebut tidak bisa dipastikan secara tepat, pasalnya datangnya fenomena menakjubkan itu merupakan kondisi alam.

“Munculnya sehari bisa 5 sampai 6 kali. Seringnya jam setengah 12 siang itu muncul dengan puseran angin skala kecil yang tidak berbahaya,” imbuhnya.

Untuk mencapai puncak bukit ini, lanjutnya, pengunjung akan berhadapan dengan medan yang cukup menantang sepanjang empat kilometer. Tidak hanya bersanding dengan tebing dan jurang yang menguji adrenalin, tetapi buruknya medan jalan yang masih berupa tanah cadas musi diewai dengan penuh kewaspadaan dan kesabaran.

Meski demikian, pengunjung tidak perlu cemas karena dibeberapa titik medan jalan yang sukar untuk ditaklukkan, ada beberapa guide yang akan mengatur dan membantu jalur naik turunnya kendaraan agar aman dan tertib.

“Ramai-ramainya pengunjung itu sekitar jam 4 sampai jam 6 sore karena adem. Kalau malam juga ada yang nge-camp,” kata Yusuf.

Lebih lanjut, Yusuf juga mengimbau bagi para pengunjung untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan di Bukit Puseran Angin. Hal ini mengingat, masih adanya beberapa pengunjung yang sengaja maupun tidak telah membuang bekas minum atau makanan secara sembarangan.

“Kita sudah kasih plang-plang untuk tidak membuang sampah sembarangan, tapi namanya orang kan beda-beda. Ada yang punya kesadaran tinggi untuk menjaga alam dan ada juga yang sebaliknya,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Jekulo Wisnubroto menyampaikan bahwa Bukit Puseran Angin masih dikelola oleh warga dan Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat. Pihaknya juga mengimbau kepada warga untuk tidak dulu beramai-ramai mengunjungi lokasi tersebut di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Apalagi, Kudus telah dinyatakan sebagai zona merah virus corona.

“Melalui kades dan kadus mengimbau untuk tidak berwisata dulu. Itu karena sering di-share warga jadi mereka penasaran untuk pergi ke sana,” ujarnya.

Terdengar kabar obyek wisata baru ini akan ditutup untuk sementara, karena akan dilakukan penataan yang lebih baik. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :