KUDUS, ISKNEWS.com – Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Pesantren Sunan Kudus (YP2SK) yang menaungi TPA–KB–TK Dinado dan KB Naneymi pada Selasa (23/6/2026) pagi menyerahkan seekor kerbau kepada Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) untuk prosesi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus yang akan digelar pada 10 Muharram 1447 Hijriah. Penyerahan dilakukan melalui kirab budaya yang sarat makna sebagai wujud penghormatan terhadap tradisi, rasa syukur, serta ikhtiar mengharap keberkahan (nyadong barokah) Kanjeng Sunan Kudus.
Kirab dimulai dari Sekretariat Yayasan Pendidikan Pesantren Sunan Kudus dengan diikuti jajaran pengurus yayasan, guru, tenaga pendidik, siswa, wali murid, hingga masyarakat. Suasana religius terasa sejak awal perjalanan dengan lantunan shalawat yang diiringi Seni Terbang Papat Classic Kudus Kulon, mengiringi langkah peserta menuju Masjid Menara Kudus.
Sepanjang perjalanan, rombongan tidak hanya membawa kerbau sebagai amanah untuk prosesi Buka Luwur, tetapi juga membagikan sedekah berupa jajanan pasar kepada masyarakat yang ditemui di sepanjang rute kirab. Tradisi berbagi tersebut menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat.
Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Muslim Terpadu (TKMT) Dinado Kudus, Sulistiani S.Pd, didampingi Pengelola KBMT Dinado, Luthfiyatunnisa S.Pd.I, mengatakan kirab budaya tersebut merupakan bentuk kecintaan keluarga besar yayasan terhadap warisan luhur Kanjeng Sunan Kudus sekaligus sarana menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak-anak sejak usia dini.
“Kegiatan ini bukan sekadar mengantarkan kerbau untuk prosesi Buka Luwur, tetapi juga mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya menghormati tradisi, berbagi kepada sesama, serta mencintai budaya dan sejarah daerahnya. Kami ingin mereka tumbuh dengan karakter yang peduli, religius, dan menghargai warisan para ulama,” ujar Sulistiani.
Ia menjelaskan, YP2SK yang menaungi TPA-KB-TK Dinado, TPA-KB-TK Naneymi, Graha Autis sebagai pusat terapi dan pembinaan anak berkebutuhan khusus, serta Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Autis, memiliki komitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Menurutnya, seluruh aktivitas pendidikan di lingkungan yayasan tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga pembentukan akhlak, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap budaya lokal yang telah diwariskan para wali.
Sementara itu, Luthfiyatunnisa menambahkan bahwa keterlibatan anak-anak, guru, dan wali murid dalam kirab budaya menjadi bagian dari proses pembelajaran yang nyata di luar ruang kelas.
“Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak belajar tentang kebersamaan, gotong royong, berbagi, dan menghargai perbedaan. Mereka tidak hanya mendengar cerita tentang Sunan Kudus, tetapi juga ikut merasakan bagaimana tradisi itu terus dilestarikan hingga sekarang,” tuturnya.
Kirab budaya berakhir di halaman Masjid Menara Kudus. Di tempat yang menjadi salah satu pusat syiar Islam di Kudus tersebut, kerbau diserahkan kepada panitia Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus sebagai bagian dari rangkaian tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus.
Amanah penyerahan kerbau tersebut berasal dari H. Robby Yassin Abdullah dan dalam prosesi kirab diwakili oleh Hj. Savana Ningrum serta Hj. Zamrud Kumalasari.
Penyerahan ini menjadi simbol rasa syukur, penghormatan kepada para pendahulu, sekaligus doa agar keberkahan senantiasa menyertai perjalanan yayasan dalam memberikan layanan pendidikan kepada seluruh anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Melalui kirab budaya ini, Yayasan Pendidikan Pesantren Sunan Kudus berharap semangat pengabdian, kepedulian, dan pelestarian tradisi yang diwariskan Kanjeng Sunan Kudus terus hidup di tengah masyarakat.
Tradisi Buka Luwur pun tidak hanya menjadi peringatan tahunan, tetapi juga momentum memperkuat nilai-nilai pendidikan, kemanusiaan, dan kebersamaan yang relevan bagi generasi masa kini maupun masa mendatang. (AS/YM)







