2016 Kudus Peroleh Klaim Tertinggi Asuransi Usaha Tani Jasindo

oleh

Kudus, isknews,com –  besarnya klaim asuransi usaha tani padi (AUTP) dari Kabupaten Kudus ke Jasindo.

ijelaskan, membuktikan tumbuhnya kesadaran petani di Kudus atas upaya penjaminan dalam usaha pertanian mereka.

Berdasar Peraturan Menteri Pertanian (permentan) Republik Indonesia Nomor 40/Permentan/SR.230/7/201. Permentan ini dimaksudkan sebagai dasar pelaksanaan Fasilitasi Asuransi Pertanian dengan tujuan untuk memberikan kemudahan dan perlindungan dalam menanggung risiko usaha tani.

Tujuannya adalah meringankan kerugian akibat bencana alam, serangan organisme pengganggu tumbuhan, wabah penyakit hewan menular, dan/atau dampak perubahan iklim kepada petani, perlu mendapatkan perlindungan melalui fasilitasi asuransi pertanian.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Catur Sulistiyanto beberapa waktu lalu saat menggelar rembug tani di Desa Temulus Kecamatan Mejobo.

“ Soialisasi asuransi tani merupakan wujud support dan perhatian Pemerintah Kabupaten Kudus, khususnya untuk wilayah rawa dan resiko tinggi banjir ( bencana).  Untuk meminimalkan kerugian itu, kami mengajak petani untuk mengikuti asuransi apabila diperkirakan atau memprediksi kemungkinan adanya resiko gagal panen ,” terangnya.

TRENDING :  Sekali Panen Untuk Lahan Seluas 1 Hektar Penghasilan Tukang Petik Padi Capai Rp 315 Ribu Per Orang

Upaya tersebut  direspon dengan baik oleh para kelompok tani di daerah rawan bencana baik alam maupun hama. Buktinya, berdasarkan data dari Perseroan Terbatas Jasindo sebagai penyelenggara program asuransi usaha tani padi di eks Keresidenan Pati, Kudus mendapatkan klaim tertinggi pada akhir tahun 2016. Yakni Rp 327 juta.

Arni Andriati, staf PT Jasindo Kantor Pembantu Kudus, mengungkapkan bahwa pada tahun 2016 pihaknya menyalurkan dana sebesar Rp 1,06 Miliar.

” Klaim sebanyak itu berasal dari sejumlah petani yang tersebar di enam kabupaten. Yaitu Kabupaten Jepara, Blora, Demak, Pati, Kudus, dan Grobogan ,” ujar Arni.

 

Dari keenam kabupaten, klaim terbesar dari Kabupaten Kudus sebesar Rp 327 juta, disusul Kabupaten Grobogan Rp 245,46 juta, kemudian Kabupaten Pati Rp 171,19 juta. Sementara dari Kabupaten Demak Rp 158,39 juta, Kabupaten Jepara Rp 144,18 juta dan Kabupaten Blora Rp 21,94 juta.

TRENDING :  DPRD Jateng Setujui Ranperda Perlindungan Dan Pemberdayaan Petani

“ Kudus paling tertinggi itu bukan karena besarnya bencana, tetapi karena besarnya kesadaran mengikutkan asuransi tanamannya. Jadi bisa dikatakan Petani di Kudus sekarang paling cerdas dari kabupaten lainya. Sebab secara wilayah masih ada daerah yang terkena bencana lebih luas wilayah pertaniannya ,” paparnya.

“ Dari seluruh wilayah di Kudus, paling besar klaim asuransi diterima petani daerah Gondoharum. Ada Poktan Desa Gondoharum yang aktif ke kita untuk menguruskan klaim (biaya ganti tanam) ke petani anggotanya. Mungkin mereka sudah memprediksi bila MT saat itu rawan bencana. Jadi segera dimasukkan ke asuransi. Ketika diperkirakan aman-aman saja ya mungkin tidak perlu ke asuransi ,” imbuhnya.

 

Dijelaskan, klaim para petani yang gagal panen disebabkan karena faktor serangan hama tikus serta banjir. Besaran klaim asuransi yang dibayarkan kepada petani yang tanaman padinya mengalami kerusakan akibat serangan hama maupun banjir bisa mencapai Rp 6 juta per hektare. Nilai klaim tersebut merupakan ketentuan dari pusat yang dipastikan sudah mempertimbangkan biaya tanam.

TRENDING :  Bantu Petani, Pelajar SMP 5 Pati Beli Bawang Merah

Prosesnya, Sebelum dibayarkan klaim asuransi tersebut dari PT Jasindo terlebih dahulu melakukan verifikasi di lapangan untuk memastikan faktor penyebab tanaman gagal panen.

Dengan banyaknya klaim asuransi tani tersebut, dia berharap, semakin banyak petani yang mengikuti program AUTP tersebut.

Apalagi, biaya premi yang harus dibayarkan petani sangat terjangkau karena mendapatkan subsidi dari pemerintah.

 

Nilai premi yang harus dibayarkan petani hanya Rp 36.000 atau 20 persen dari nilai premi normal sebesar Rp 180.000 per hektare per musim tanam.

“Sementara subsidi dari pemerintah untuk membayar premi asuransi tersebut sebesar Rp 144 ribu, Rp 36 ribu itukan bisa disamakan dengan tiga bungkus rokok.  Jadi cukup ringan kan ,” tandasnya. (YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :