Umat Islam Sholat Gerhana Bulan, Umat Hindu Sembahyang Bulan Purnama

oleh -272 Dilihat

Kudus, ISKNEWS.COM – Blood Moon (gerhana bulan) pada Sabtu dini hari, (28/7/2018) bertepatan dengan lunar apogee (jarak terjauh bulan dari bumi). Terjadinya gerhana bulan karena matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis lurus di bidang tata surya. Dimana bulan tampak berwarna merah saat puncak gerhana akibat pembiasan cahaya berfrekuensi rendah dari matahari ke umbra oleh atmosfir bumi.

Peristiwa alam ini, dalam Islam disunnahkan sholat gerhana bulan (khusuf) sebagai penanda bahwa alam beserta isinya mengalami dinamika. Seperti yang dilakukan kaum muslimin di Kudus. Mereka memadati Masjid dan Mushola untuk melaksanakan sholat gerhana bulan, seperti halnya di Masjid Menara Kudus.

Fenomena gerhana bulan total terlama abad ini dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang. Walhasil, setelah melaksanakan sholat khusuf, jamaah di menara Kudus, disamping ada yang langsung pulang, juga ingin disekitar Masjid Menara sambil memandangi femonema gerhana bulan ciptaan Allah.

“Kebetulan gerhana bulan kali ini merupakan peristiwa fenomena alam yang jarang dijumpai dalam selang waktu yang lama, maka saya dan keluarga tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini,” terang salah seorang jamaah, Somad, warga Langgar Dalem.

Sementara itu, waktu gerhana bulan umat hindu di Kudus pun mentradisikan sembahyang setiap bulan purnama.

Ibadah dalam Hindu didasarkan pada bulan (sasih) purnama (tanggal 14 atau 15 qomariyah) itu disebut Devasa Ayu dan sembahyang purnama tilem (29/30 komariyah).

Pemujaan purnama (hari suci) pada Sanghyang Candra/Dewa Cemerlang untuk memohon kesempurnaan dari Ida Sanghyang Widhi Wasa dan menghaturkan daksina di pelinggih (tempat pemujaan) di rumah. Dengan siklus purnama, alam mengajarkan pada manusia adanya yang baik (terang) dan yang buruk (gelap).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kudus, I Putu Dhantra berharap, ibadah umat Hindu di kudus selama ini di rumah jemaat secara bergantian, ia berharap agar Pemkab Kudus memfasilitasi tempat ibadah lintas agama sekawasan.

Merespon harapan ini, Moh Rosyid, pegiat Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan Pantura Timur (Pantura) berujar semoga Pemkab Kudus memiliki sign bahwa pembangunan tempat ibadah lintas agama sekawasan tersebut dapat dijadikan simbol toleransi di Kudus, Sebagaimana gapura di dalam Masjid Al Aqsha Menara Kudus yang telah mengawali bentuk toleransi,” tandas dosen IAIN Kudus itu. (AJ/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.