Surat Terbuka Siswa Kudus ke Presiden Viral, Sekolah Beri Penjelasan

oleh -2118 Dilihat
Foto: Surat Terbuka Siswa di Kudus yang viral. (Foto: ist.)

Kudus, isknews.com – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya surat terbuka dari seorang siswa SMK di Kudus yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Menyikapi viralnya unggahan tersebut, pihak sekolah memberikan klarifikasi sekaligus menegaskan pentingnya etika dalam menyampaikan aspirasi.

Kepala SMK NU Miftahul Falah, Tri Lestari, kepada wartawan mengonfirmasi bahwa penulis surat itu merupakan peserta didiknya. Ia mengaku mengetahui hal tersebut setelah menerima laporan dari pihak internal sekolah saat dirinya sedang berada di luar daerah.

Saya awalnya mendapat kabar dari pengurus sekolah tentang adanya surat terbuka yang diunggah di Instagram. Setelah saya cek dan panggil siswanya, yang bersangkutan mengakui membuatnya,” ungkapnya.

Tri menyampaikan bahwa sekolah tidak menutup ruang bagi siswa untuk berpendapat. Namun demikian, ia menekankan agar setiap pendapat disampaikan secara bijaksana dan tidak menimbulkan dampak negatif, terutama jika berkaitan dengan institusi.

Kami mendukung siswa untuk berpikir kritis, tapi harus tetap berhati-hati. Jangan sampai membawa nama sekolah dalam konteks yang bersifat pribadi,” ujarnya.

Ia juga menyebut, sejak unggahan tersebut viral, banyak pihak yang menghubunginya untuk meminta penjelasan. Hal ini menjadi bukti bahwa konten di media sosial bisa dengan cepat meluas dan memicu berbagai reaksi.

Siswa yang dimaksud adalah Muhammad Rafif Arsya Maulidi, pelajar kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual. Dalam suratnya, ia menyampaikan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya, serta mengusulkan agar dana program tersebut dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru.

Unggahan itu kemudian menyebar luas di Instagram dan menuai perhatian publik. Respons warganet pun beragam, namun sebagian besar memberikan apresiasi terhadap kepedulian siswa tersebut terhadap kondisi tenaga pendidik.

Dalam isi suratnya, Arsya menyoroti masih adanya guru, khususnya yang berstatus honorer, yang belum memperoleh penghasilan yang layak. Ia menilai perhatian terhadap guru merupakan langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Ia juga mengungkapkan harapannya agar alokasi dana yang seharusnya diterimanya melalui program MBG bisa dimanfaatkan untuk mendukung kesejahteraan guru.

Selain itu, Arsya turut memperkirakan nilai manfaat program MBG yang akan ia terima selama masa sekolah mencapai sekitar Rp6,75 juta. Menurutnya, jumlah tersebut akan lebih berdampak jika dialokasikan untuk kebutuhan guru.

Tri menegaskan bahwa keputusan tersebut murni merupakan sikap pribadi siswa. Ia memastikan bahwa siswa lainnya tetap mengikuti program MBG tanpa ada penolakan.

Yang menolak hanya satu orang. Siswa lain tetap menerima program seperti biasa,” jelasnya.

Pihak sekolah juga mendapatkan informasi bahwa siswa tersebut beberapa kali tidak mengonsumsi makanan dari program MBG. Bahkan saat diminta untuk makan bersama, ia memilih tidak ikut dengan alasan sudah kenyang.

Sekolah sempat menyarankan agar unggahan tersebut dihapus untuk menghindari polemik yang lebih luas. Namun, siswa tersebut memilih mempertahankannya karena merasa pesannya telah tersampaikan dan mendapat perhatian.

Dia merasa senang karena banyak yang merespons. Artinya apa yang disampaikan bisa didengar oleh publik,” kata Tri.

Lebih jauh, Tri menilai siswa tersebut memiliki kemampuan yang menonjol. Selain berprestasi di sekolah, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar, termasuk aktivitas peliputan di luar kota.

Anaknya cerdas, kritis, dan sering meraih juara. Itu potensi yang bagus, tinggal diarahkan agar penyampaian pendapatnya lebih tepat dan bijak,” tutupnya. (AS/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.