Dari Anak Yatim Piatu Menjadi Penuntun Umat, Kini Akhmad Mudzakir Memilih Mengabdi Lewat Pertanian

oleh -520 Dilihat
Drs. H. Akhmad Mudzakir, M.Si., dosen Fakultas Dakwah UIN Kudus, bersama Rochmad Taufiq, pendiri PPR BG Farm. (Foto: Dok. Istimewa)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Hidup telah membawa Drs. H. Akhmad Mudzakir, M.Si. melewati jalan yang tidak mudah. Kehilangan kedua orang tua sejak usia belia tidak membuat langkahnya berhenti. Berbekal doa, ketekunan, dan kasih sayang sang kakak yang membesarkannya, ia menapaki jalan pendidikan, mengabdi kepada negara, berdakwah kepada masyarakat, hingga kini memilih kembali menyapa tanah sebagai ladang pengabdian baru.

Bagi sebagian orang, masa pensiun identik dengan beristirahat. Namun bagi mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus itu, purnatugas justru menjadi awal untuk menanam harapan baru melalui pertanian yang produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka saat ia bersilaturahmi ke Kampung Literasi Alam PPR BG Farm Kudus, Kamis (10/7/2026). Di sebuah gubuk bambu sederhana, tempat para petani, pegiat sosial, mahasiswa, dan tokoh masyarakat kerap berdiskusi tentang pertanian dan pemberdayaan, perbincangan pagi itu berkembang menjadi dialog tentang masa depan.

Di tengah suasana yang hangat, Akhmad Mudzakir bercerita tentang sebidang lahan milik keluarganya di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Selama ini lahan tersebut dikelola secara sederhana, tetapi di benaknya mulai tumbuh keinginan untuk menjadikannya lebih bernilai.

“Saya ingin setelah pensiun tetap memiliki aktivitas yang bermanfaat. Lahan itu ingin saya kelola dengan baik. Saya juga punya alasan untuk rutin pulang kampung, melihat perkembangannya, sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Keinginan itu disambut dengan diskusi mengenai konsep pertanian terintegrasi yang selama ini dikembangkan PPR BG Farm Kudus. Konsep tersebut menggabungkan budidaya tanaman, peternakan, edukasi pertanian, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.

Namun, menurut Rochmad Taufiq, pendiri PPR BG Farm, keberhasilan pertanian tidak dimulai dari memilih tanaman, melainkan dari memahami alam.

“Kita harus membaca karakter tanahnya, sumber airnya, iklimnya, dan lingkungan sekitarnya. Alam memiliki bahasa yang harus dipahami sebelum kita memutuskan apa yang akan ditanam,” ujarnya.

Keduanya kemudian bersepakat melakukan survei langsung ke Tuban untuk memetakan potensi lahan sekaligus menyusun konsep pengembangan pertanian yang berkelanjutan.

Jalan Panjang Seorang Anak Yatim

Percakapan tentang pertanian itu sesungguhnya merupakan kelanjutan dari perjalanan hidup yang telah ditempa oleh berbagai ujian.

Sejak kecil, Akhmad Mudzakir kehilangan kedua orang tuanya. Dalam keterbatasan, sang kakak mengambil peran sebagai orang tua, mengasuh, mendidik, dan mengupayakan agar adiknya tetap dapat mengenyam pendidikan.

Pengorbanan itulah yang selalu dikenangnya sebagai fondasi perjalanan hidupnya.

Dengan semangat belajar yang tidak pernah padam, ia menempuh pendidikan Sarjana Dakwah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kemudian melanjutkan studi Magister Sosiologi di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Perjalanan akademik itu membawanya mengabdi di Kementerian Agama selama puluhan tahun. Ia pernah dipercaya memimpin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati, kemudian menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus pada periode 2020–2021.

Selepas tugas birokrasi, pengabdiannya tidak berhenti. Ia kini menjadi dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Kudus, aktif berdakwah di berbagai daerah, serta mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus.

Dakwah yang Menyentuh Kehidupan

Bagi Akhmad Mudzakir, dakwah tidak hanya berlangsung di atas mimbar. Nilai-nilai keislaman juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Karena itulah ia memandang pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan.

Baginya, setiap pohon yang ditanam, setiap hasil panen yang memberi makan keluarga, dan setiap lahan yang dikelola dengan baik merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah SWT.

Pandangan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah ‘Abasa ayat 24:

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”

Ayat itu bukan sekadar pesan untuk dikaji dalam ceramah, melainkan panggilan untuk menghadirkan karya yang nyata.

Pengabdian yang Tak Mengenal Usia

Di usianya yang telah memasuki kepala enam, Akhmad Mudzakir tetap menjaga semangat hidup dengan berolahraga, menjalankan puasa Senin–Kamis, memperkuat silaturahmi, dan terus belajar dari siapa pun.

Pertemuan sederhana di Kampung Literasi Alam PPR BG Farm Kudus menjadi gambaran bahwa pengabdian tidak selalu lahir dari ruang rapat atau mimbar besar. Terkadang, ia justru tumbuh dari secangkir kopi, percakapan yang tulus, dan keinginan untuk terus memberi manfaat.

Perjalanan hidup Akhmad Mudzakir mengajarkan bahwa keterbatasan masa kecil tidak menentukan masa depan seseorang. Anak yatim piatu yang pernah hidup dalam kekurangan itu berhasil menempuh jalan ilmu, mengabdi kepada negara, membimbing umat, dan kini memilih kembali ke tanah untuk menanam harapan.

Seperti pepatah Arab yang selalu menginspirasi banyak orang, “Man jadda wajada” barang siapa bersungguh-sungguh, niscaya akan berhasil.

Barangkali, inilah makna pengabdian yang sesungguhnya: ketika seseorang tidak berhenti memberi manfaat, bahkan setelah masa tugas resminya berakhir. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.