KUDUS, ISKNEWS.COM – Kehidupan Mbah Riyan, ulama asal Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, menyita perhatian publik. Di balik kesehariannya sebagai kuli bangunan dan pekerja serabutan, pria bernama asli Supriyanto itu justru dikenal luas di kalangan akademisi Islam sebagai pentahqiq kitab klasik dan peraih MUI Award 2026 kategori karya tulis Islam.
Sosok yang akrab disapa Mbah Riyan tersebut belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan karena kemewahan hidup ataupun jabatan yang dimiliki, melainkan lantaran kesederhanaannya yang berpadu dengan keluasan ilmu agama. Dalam dunia keilmuan Islam, ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Harjo Al-Jawi.
Lahir di Kudus pada 1986, Mbah Riyan mengabdikan dirinya pada dunia literasi Islam, khususnya melalui aktivitas tahqiq atau penyuntingan ilmiah terhadap manuskrip kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Hingga kini, lebih dari seratus kitab telah ia teliti, koreksi, dan verifikasi sebelum diterbitkan.
Meski memiliki reputasi tinggi di bidang keilmuan, kehidupan sehari-harinya jauh dari kesan istimewa. Sejak kembali ke kampung halamannya pada 2018, ia memilih menjalani berbagai pekerjaan demi menghidupi keluarga, mulai dari menjadi kuli bangunan hingga bekerja serabutan sesuai kebutuhan.
Sebelum menetap kembali di Kudus, Mbah Riyan sempat menempuh pendidikan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta pada 2005 hingga 2013. Setelah menyelesaikan studinya, ia dipercaya menjadi staf pengajar di lembaga pendidikan Islam Arraayah, Sukabumi, Jawa Barat, selama sekitar lima tahun.
Keputusan pulang ke Desa Wates diambil karena ingin lebih dekat dengan keluarga. Menurutnya, selama merantau ia kerap harus berpisah dengan istri dan anak-anaknya. Kini, sebagai ayah empat anak, ia memilih kehidupan yang lebih sederhana dan tenang.
Selain bekerja, Mbah Riyan memiliki kegemaran memancing. Aktivitas tersebut menjadi cara baginya untuk melepas penat sekaligus menikmati ketenangan. Bersama sejumlah teman di desanya, ia kerap menghabiskan waktu di sungai tanpa memikirkan hiruk pikuk kehidupan.
Di balik rutinitas itu, Mbah Riyan tetap konsisten menggeluti dunia tahqiq. Ketertarikannya pada bidang tersebut muncul sejak masih menjadi mahasiswa LIPIA pada 2012. Karya pertama yang ia tahqiq adalah kitab Faraid Saniyah karya ulama Kudus KH Syaroni Ahmadi.
Sejak saat itu, puluhan manuskrip karya ulama Nusantara berhasil ia sunting. Baginya, banyak warisan intelektual ulama Indonesia yang belum diterbitkan secara baik sehingga membutuhkan proses penelitian, pencocokan naskah, hingga verifikasi agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Selain aktif mentahqiq, Mbah Riyan juga produktif menulis. Sekitar sepuluh kitab berbahasa Arab dari berbagai disiplin ilmu Islam telah berhasil ia selesaikan. Menurutnya, menulis merupakan bagian penting dalam hidup yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari.
Keinginannya untuk tetap leluasa menulis menjadi salah satu alasan ia tidak ingin terikat dengan pekerjaan tetap di sebuah instansi. Dengan waktu yang lebih fleksibel, ia dapat mencurahkan perhatian penuh pada penelitian, penulisan, maupun penyuntingan kitab.
Dedikasinya tersebut akhirnya mendapat pengakuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada Juli 2026, Mbah Riyan dinobatkan sebagai penerima MUI Award 2026 untuk kategori karya tulis Islam.
Menariknya, ia sempat tidak mengetahui dirinya masuk nominasi penghargaan tersebut. Panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya diabaikan begitu saja. Baru setelah membaca pesan yang dikirim, ia mengetahui bahwa dirinya diundang menghadiri acara penghargaan di Jakarta.
Namun, undangan itu tidak membuatnya berubah. Sejak pulang ke Kudus, Mbah Riyan memang bertekad menjauh dari sorotan publik. Ia bahkan sudah tidak lagi aktif menggunakan media sosial dan hanya memanfaatkan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan orang-orang tertentu.
Nama Ibnu Harjo Al-Jawi yang tercantum sebagai penerima penghargaan ternyata merupakan nama pena yang digunakannya. Nama tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada sang kakek, Harjo, sosok yang menurutnya mengajarkan arti kesederhanaan, ketekunan, dan perjuangan hidup.
Nilai-nilai itulah yang hingga kini terus dipegang Mbah Riyan. Meski dikenal luas di kalangan keilmuan Islam dan menerima penghargaan bergengsi, ia tetap menjalani kehidupan seperti masyarakat desa pada umumnya. Baginya, kebermanfaatan karya jauh lebih penting daripada popularitas, sehingga ia memilih tetap berkarya dalam kesederhanaan tanpa mengejar sorotan publik. (AS/YM)







