Kudus, isknews.com – Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Tengah menjadi ajang konsolidasi penting untuk menentukan arah gerakan organisasi dalam periode kepengurusan yang baru berjalan dua bulan.
Dalam kegiatan yang digelar di Kudus bersama Ikatan Alumni PMII (IKAPMII) Jateng ini, sinergi kader dan alumni ditekankan sebagai fondasi utama untuk memperkuat kontribusi PMII hingga tingkat desa.
Salah satu pengurus IKAPMII Jateng, Arif Wahyudi, menyebut bahwa Rakerda bukan sekadar forum rutin, namun momentum strategis untuk menyatukan kembali jejaring kader lintas angkatan dan profesi dalam satu visi pergerakan.
“PMII itu tidak mengenal zona, angkatan, atau profesi. Siapapun yang pernah menjalani kaderisasi PMII akan selalu tersambung sebagai keluarga besar,” ujarnya.
Arif yang kini masuk dalam jajaran Majelis Pembina Daerah (Mabinda) Jateng menjelaskan bahwa beragamnya latar belakang profesi para alumni, mulai dari politisi, pengusaha, hingga kiai—adalah kekuatan besar bagi PMII. Dalam tubuh organisasi, setiap kader didorong untuk memberikan kontribusi sesuai kompetensi masing-masing tanpa sekat profesi.
Rakerda kali ini diikuti oleh seluruh pengurus cabang kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Mereka membahas penyusunan agenda kerja jangka pendek dan jangka panjang, sekaligus mengevaluasi capaian awal yang menjadi pijakan arah kebijakan organisasi ke depan.
“Rakerda ini penting untuk mengakumulasi pemikiran serta memetakan langkah strategis PMII ke depan. Minimal satu cabang diwakili tiga hingga lima orang. Nantinya fokus pembahasan akan diarahkan pada penguatan struktur, program kerja, dan kontribusi kader di wilayah masing-masing,” jelas Arif.
Selain merumuskan arah program, Arif menekankan bahwa kegiatan di daerah idealnya selalu melibatkan alumni lokal. Keterhubungan lintas generasi ini dinilai dapat menjaga kesinambungan kaderisasi sekaligus memperkuat peran PMII dalam mendorong kemajuan masyarakat.
Ia juga menyoroti peluang besar kader PMII untuk berperan dalam sektor pembangunan desa, terutama mendukung program pertahanan pangan yang menjadi salah satu fokus Presiden Prabowo. Menurutnya, pengetahuan dan pemahaman teknologi yang dimiliki kader sangat relevan untuk membantu petani serta memperkuat ekonomi desa.
“Tidak ada gengsi mengurus desa atau petani. Justru kader PMII harus hadir membawa inovasi. Kalau tidak disertai teknologi yang relevan, kita akan tertinggal,” tegasnya.
Arif berharap seluruh elemen organisasi kemasyarakatan dapat bersinergi mendukung program pemerintah agar manfaatnya menjangkau masyarakat hingga level desa.
“PMII harus bisa hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol pergerakan,” pungkasnya. (YM/YM)







