Banyak Diserang Hama, Produktifitas Padi Turun

oleh -936 kali dibaca

Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) –  Banyaknya serangan hama di lahan pertanian padi menyebabkan produktifitas padi di Kabupaten Jepara menurun drastis. Saat ini produksi gabah kering dan beras baru mencapai 50 persen. Padahal mestinya, periode ini capaian gabah kering dan beras sudah 80 persen. Hal ini disampaikan oleh Komandam Kodim 0719 Jepara Letkol Inf Ahmad Basuki, Kamis (3/8/2017).

Menurutnya, target hasil panen gabah kering periode saat ini mestinya 30 ribu ton. Namun, hasil panen petani saat ini hanya mampu menghasilkan 15 ribu ton gabah kering. Dari hasil panen gabah kering tersebut, hanya mampu menghasilkan beras 7.000 ton. “Hasil panen padi memang mengalami penurunan. Itu lantaran serangan hama wereng, sundep, keong, dan tikus. Selain itu, kondisi cuaca saat ini turut andil penyebab turunnya hasil panen tahun ini,” katanya.

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kata Basuki, produktifitas padi turun drastis. Capaian saat ini baru 50 persen dari semestinya 80 persen. “Untuk mencapai target produksi gabah kering dan beras, berbagai upaya telah kita dilakukan. Itu seperti program gropyokan tikus. Yaitu, anggota TNI bersama-sama petani melakukan pembasmian hama tikus dengan cara diburu,” jelasnya.

Lebih lanjut Basuki mengatakan, di setiap koramil juga sudah disiapkan alat semprot hama yang bisa dipinjam petani. Untuk obat-obatan juga sudah diberi subsidi. “Kita sudah sediakan itu alat semprot di tiap koramil, masyarakat juga bisa menggunakannya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Bumi Mekarsari Desa Sowan Kidul Kecamatan Kedung, Khoirul Anam menyampaikan, menurunnya hasil panen tahun disebabkan banyaknya serangan hama. Yaitu, hama tikus, keong, sundep, dan wereng. “Untuk membasmi hama keong dan tikus, petani memang masih melakukan dengan cara-cara manual. Sampai saat ini, petani belum menemukan obat-obatan yang dapat membrangus kedua jenis hama ini,” ujarnya.

Untuk hama sundep dan wereng, kata Anam, petani masih mengandalkan sepenuhnya obat-obatan kimia. Sistem pertanian organik tidak diterapkan petani secara maksimal. Meski menggunakan obat-obatan kimia, petani dinilai kurang telaten merawat tanaman padinya. (ZA)

KOMENTAR SEDULUR ISK :