Berhasil Sembuh Dari Corona, Perawat di Kudus Ini Berikan Testimoni, Ini Kuncinya

oleh -336 Dilihat

Kudus, isknews.com – Tak dipungkiri sebagai pasukan digarda terdepan dalam menangani pasien kasus corona, tim medis dan para medis adalah sosok yang paling rentan terpapar covid-19. Para pahlawan medis ini juga seringkali menjadi pihak yang berkontak fisik terdekat dengan mereka.

Begitu halnya dengan Sukarsih, perawat RS Mardi Rahayu ini sempat dinyatakan sebagai pasien positif covid-19 di Kudus, bersama seorang lagi (saat itu) mereka adalah pasien positif covid-19 pertama yang dirawat di Kudus.

Namun kini Sukarsih menjadi satu pasien positif Covid-19 pertama d Kudus yang dinyatakan sembuh. Setelah hasil uji swab tahap ke 2 dan ke 3 hasilnua menunjukkan negatif Covid-19.

Di Pendopo Kabupaten Kudus, Sukarsih memberikan testimoni saat gelar jumpa awak media. Didampingi Plt Bupati Kudus HM Hartopo, Kepala Dinas Kominfo, Direktur RS Mardi Rahayu dr. Pujianto, Kepala DKK, Juru bicara Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 dan Kalakhar BPBD Kudus.

Sukarsih menceritakan bagaimana perjuangannya menghadapi Covid-19.  Dikonfirmasi positif terinveksi Corona, Sukarsih sempat mengaku down.

Sukarsih, pasien RS Mardi Rahayu yang berhasil sembuh dari Covid-19, saat berikan testimoninya dihadapan awak media (Foto: YM)

“Awalnya saya masuk perawatan karena mengalami nyeri haid dan diare. Tapi, dalam pemeriksaan lanjutan, ternyata mengarah ke PDP Corona. Hingga akhirnya, hasil swab saya dinyatakan positif,” kata Sukarsih dalam keterangan pers yang digelar di Pendapa Kudus, Kamis (09/04/2020).

Dijelaskannya, dirinya pertama kali masuk ke Rumah Sakit pada (25/03) saat periksa ke IGD, disarankan untuk rawat inap.

“Karena sejak tanggal 21 Maret saya bertugas di Ruang Isolasi Khusus sehingga saya termasuk ODP, sejak awal saya dirawat dalam 1 kamar yang isi 1 pasien dan semua perawat dan dokter sudah menggunakan APD, tidak boleh dibesuk, dan penunggu juga dibatasi,” katanya.

Selama dirawat itu timbul batuk kering dan sesak nafas. Tanggal 27 Maret 2020 dokter menyarankan dilakukan CT Scan Thorax atau CT Scan dada.

“Hasilnya ternyata mengarah ke COVID-19. Dokter bilang saya jadi PDP dan hari itu juga saya dipindah ke Ruang Isolasi Khusus untuk pasien PDP,” terang dia.

Tanggal 28 Maret 2020 dilakukan rapid test dan hasilnya ternyata positif, langsung dilanjutkan dengan swab 2 kali, yang pertama di hari yang sama dengan rapid test, yang kedua besoknya.

“Saat tahu bahwa hasil rapid test positif itu sebenarnya saya takut, apalagi saat dilanjut dengan swab 2 kali. Tapi saya memilih untuk mencari kekuatan dalam doa, dan terus memotivasi diri, yakin COVID-19 bisa sembuh,” ujarnya.

Obat dan semua advis yang diberikan dokter selalu diterima dan lakukan dengan suka cita. Meskipun memang diisolasi, tetapi kamar yang ditempati terasa nyaman, perawat di ruang isolasi juga selalu siap menolong kebutuhan saya.

“Keluarga dan teman mensupport penuh. Saat saya membuat status yang menyenangkan agar tetap gembira, banyak tanggapan positif yang saya terima. Saya juga dikirimi renungan dan link ibadah secara streaming sehingga semakin dikuatkan,” tuturnya.

Semuanya indah pada waktunya. Tanggal 8 April 2020 saya diberitahu dokter bahwa hasil PCR untuk kedua swab sudah negatif, dinyatakan sembuh, bebas dari COVID-19, dan boleh pulang.

“Intinya, semangat untuk sembuh dan doa menjadi kunci saya bisa melawan Corona. Selama perawatan, obat yang saya minum hanya antibiotik dan vitamin, dan selebihnya adalah hati yang gembira dan doa,”tandasnya.

Dia berpesan agar selalu melakukan social distancing, karena menurutnya dirinya diketahui tertular covid-19 akibat sering menghadiri kerumunan-kerumunan seperti undangan.

Saya ingat 11 hari sebelum mulai sakit, saya mendatangi acara yang cukup ramai, tidak pasti apakah ada hubungannya dengan COVID-19 pada saya ini.

“Saya sebelumnya sering ke acara-acara kondangan seperti khitanan dan sebagainya,” ujar perempuan lajang ini.

Selain itu, minum vitamin dan obat yang diberikan dokter, selalu pakai masker, batuk dengan etika batuk yang benar. Yang tidak kalah penting adalah support dari keluarga dan teman-teman, walaupun tidak secara tatap muka.

Kini, Sukarsih yang mengaku sudah terlihat bugar secara fisik. Bahkan, kini dia sudah siap beraktifitas lagi dalam tugasnya menjadi garda depan untuk menangani pasien di ruang isolasi.

“Yang tidak kalah penting adalah support dari keluarga dan teman-teman, walaupun tidak secara tatap muka. Support dari orang-orang terdekat ini sangat menguatkan saya untuk terus berdoa, berserah, dan tetap bahagia selama perawatan sampai akhirnya sembuh.” ungkapnya.

Dia berpesan Jangan mengucilkan orang yang terkena COVID-19. Menjaga jarak sosial dan jarak fisik memang harus dilakukan, namun kedekatan emosional dengan support yang terus diberikan melalui telepon, video call, obrolan lewat chat, atau tanggapan positif di medsos sangat-sangat membantu dalam perjuangan sembuh dari COVID-19.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo, sempat memberikan karangan bunga sebagai rasa syukur atas kesembuhan Sukarsih. Dia menyatakan kesembuhan Sukarsih ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dan penyemangat semua masyarakat Kudus, terutama pasien yang kini masih menjalani perawatan.

“Ini sebagai bukti kalau pasien Corona bisa sembuh. Dan saya ingin kesembuhan pasien positif ini membuat seluruh masyarakat Kudus bersemangat melawan Corona,”tandasnya.

Sebelumnya tracing yang dilakukan terhadap 81 orang kontak terdekat Sunarsih melalui rapid test juga menunjukkan semuanya negatif Covid-19. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.