BERTAHAN DI DESA TENGGELAM

oleh
Fauzan, tokoh masyarakat yang dihormati warga dusun Tambaksari yakin tak ingin meninggalkan dusunnya. Menjaga tanah kelahirannya menjadi alasan.( Foto : istimewa )

Oleh : M. Reza Saputra

Siang itu, langit mendung. Angin begitu kencang menerpa. Laut pasang dan ombakpun tampak kurang bersahabat. Dari kejauhan, dusun Tambaksari lebih mirip sebuah pulau. Dusun ini terpisah dari dusun lain yang ada di desa Bedono, Sayung, Demak karena jalan menuju dusun terendam air pasang atau rob.

Sapuan, menyalakan mesin di perahu kecilnya. Nelayan itu mengantar kami menuju dusun Tambaksari. Perjalanan butuh waktu sekitar 15 menit.
Celoteh burung kuntul dan kokokan bersahutan dan deru angin laut menemani kami menyusuri satu-satunya jalan setapak di Dusun Tambaksari.

Jalan beton yang dibangun swadaya enam kepala keluarga yang tersisa ini terasa licin karena ditumbuhi lumut. Di kiri kanan, puing-puing tembok bekas rumah warga yang tergerus abrasi tertutup disela-sela pohon bakau dan brayu.Saya melewati rumah-rumah dari kayu yang terlihat masih kokoh meski separuhnya amblas seolah-olah tak berpenghuni karena pemiliknya tengah mencari ikan. Jaraknya saling berdekatan.Persis
disebelahnya, berdiri rumah panggung triplek berpondasi beton. Sudah tiga tahun rumah ini ditempati warga.

TRENDING :  Usaha Kecil Suwarno Rambah Kota di Pulau Jawa

Mata saya tertuju pada Habib. Ia tengah menambal sampan tuanya yang bocor akibat terjangan ombak dengan lem kayu. Tiga hari ini dia tak melaut. Habib lahir, besar dan tumbuh tua di dusun ini. Dia bercerita kondisi dusunnya yang terkena abrasi terparah 12 tahun lalu. Menurut Habib, itu menjadi alasan warga Tambaksari satu persatu memilih pergi.
“Tambak sudah lenyap tahun 98 tinggal tanggul kampung. lha itu Mulai masyarakat berubah pikiran,harus pindah. Kalau tidak pindah ada kemungkinan kampung amblas.

Terus mulai 99 ada kabar tsunami, was-was. Begitu naik nggak ukuran sampai masuk rumah. Barang-barang diamankan di atap rumah, naik ke tempat tidur. Kasur terendam tiap hari. Pikirannya harus keluar dari sini. Ujar Habib .Pada tahun 2000, pemerintah Kabupaten Demak menyediakan tempat relokasi bagi 260 kepala keluarga yang memilih bedol desa. Setiap warga mendapat sebidang tanah kosong seluas 60 meter persegi.

TRENDING :  Peneliti Asal Eropa Tulis Peradaban Prawoto

Daerahnya di namakan Tambaksari Baru. Jaraknya dari dusun lama sekitar 5 kilometer ke arah kota Demak. Sejak itu, kata Sapuan, kehidupan warga berubah. Mata pencaharian sebagai nelayan tambak berganti menjadi nelayan tradisional dengan penghasilan minim.

Akses ke luar dusun tak mudah sehingga tak banyak aktivitas yang bisa dilakukan warga.Meski demikian, lima kepala keluarga termasuk Habib menolak pindah dari kampung halamannya.Rukidah, warga Tambaksari yang lain mengaku masih betah tinggal di rumahnya yang hampir setiap hari tergenang air pasang.

“Masih bisa ditempatin. senengnya Bapak kalau kerja deket, nyari ikan. Susahnya perjalanan siang,Susahnya kalau mo keluar. Tahun 86 itu masih aman dan utuh. Dulu disini masih banyak rumah, di depan sana masih tambak semua, truk kalau bawa muatan bisa sampai kesini.” Ujar Rukidah.

TRENDING :  Sensasi Pedas Kepala Manyung

Habib bangga,kondisi hidup seperti ini tak membuat anaknya malas-malasan sekolah. Warga dusun Tambaksari terbiasa menggunakan pertanda alam untuk berjaga dari abrasi. Tanda munculnya air rob yang datang sebelum waktunya.

Fauzan, tokoh masyarakat yang dihormati warga dusun Tambaksari yakin tak ingin meninggalkan dusunnya. Menjaga tanah kelahirannya menjadi alasan.“Tidak ada pilihan, keyakinannya sudah mantap disini. Sudah dibayangkan, dipikir matang-matang.Selama ada penghuninya Insyaallah bareng-bareng. Kalau nggak ada penghuni hilang sama sekali.Didasari Jiwa perjuangan semua bisa dipertimbangkan untuk melestarikan lingkungan, kampung,agama. Rasanya bangga punya masjid, punya kampung. Walaupun hanya jalan setapak, bikinan sendiri,kan merasa bangga.” Ujar Fauzan.( * )

KOMENTAR SEDULUR ISK :