Kudus, isknews.com – Supri telah menjalankan usaha tempe yang diwariskan oleh kakaknya sejak tahun 1990 di Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Selama lebih dari tiga dekade, usaha tempe ini menjadi tumpuan hidup keluarga dan sumber nafkah utama, Selasa (24/6/2025).

“Dulu kakak saya, Pak Cahyono yang mulai pertama kali bikin tempe di sini tahun 1990. Setelah beliau berhenti, saya teruskan sampai sekarang,” ungkap Supri saat ditemui di rumah produksinya.
Namun, beberapa tahun terakhir, Supri mengalami penurunan omzet penjualan tempe akibat persaingan yang semakin ketat. Banyak warga sekitar yang ikut memproduksi tempe sendiri, sementara permintaan pasar tidak mengalami peningkatan.
“Sekarang hampir di tiap sudut desa orang bikin tempe. Jadi persaingan makin berat, padahal pembeli tetap segitu-segitu saja. Akhirnya harga tempe jadi turun karena berebut pasar,” keluhnya.
Biaya produksi bahan baku seperti kedelai impor juga terus merangkak naik, sementara harga jual tempe di pasar harus ditekan agar tetap terjangkau oleh konsumen.
Supri berharap ada perhatian dari pemerintah setempat untuk memberikan pelatihan atau membuka akses pasar yang lebih luas, agar usaha tempe rumahan seperti miliknya bisa kembali berkembang dan bersaing sehat di pasar lokal. (Romen)








