Bocil Asal Terban Kudus Mengaku Karena Takut, Kuasa Hukum Ungkap Dugaan Tekanan

oleh -1635 Dilihat
Dua penasehat hukum bocah Ak (19) yang didiga peroleh tekanan saat pemeriksaan dugaan pencurian oleh Kepala Desa dan aparat setempat (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Kuasa hukum bocah asal Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, mengungkapkan bahwa pengakuan anak berusia 13 tahun terkait dugaan pencurian, diduga muncul karena tekanan dan rasa takut.

Kuasa hukum keluarga, Prima Sita Aditya SH., menyebut kliennya sempat berada dalam kondisi tertekan saat dituduh mengambil perhiasan emas milik tetangganya yang diklaim hingga mencapai Rp44,5 juta dengan tuduhan tambahan.

Menurutnya, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bocah tersebut sebagai pelaku kehilangan uang tersebut.

“Anak itu mengaku karena takut. Karena tidak didampingi oleh orangtua atau penasehat hukumnya. Dalam posisi seperti itu, anak mudah tertekan dan akhirnya mengikuti apa yang diarahkan orang dewasa,” ujar Prima, Rabu (6/5/2026).

Penasihat hukum korban, Prima Sita Aditya, menjelaskan peristiwa itu bermula pada Rabu (29/4/2026) pagi ketika AK sepulang sekolah bermain di sekitar rumah warga. Saat itu, AK disebut bermain di sela-sela dinding rumah dan sempat memasukkan tangan ke celah bangunan.

Aksi tersebut kemudian direkam warga dan videonya beredar luas di media sosial hingga memunculkan tuduhan pencurian terhadap bocah yang masih duduk di bangku SMP itu.

“Anak ini sebenarnya hanya bermain sepulang sekolah bersama teman-temannya. Tapi setelah videonya beredar, langsung muncul tuduhan pencurian,” ujar Prima.

Menurut Prima, pada siang harinya Kepala Desa Terban mendatangi rumah AK dan meminta bocah tersebut datang ke rumah kepala desa untuk membicarakan tuduhan kasus pencurian tersebut.

Karena kedua orang tuanya sedang bekerja, AK disebut dimintai keterangan sendirian tanpa pendampingan keluarga maupun penasihat hukum.

“Anak ini ketakutan. Dalam kondisi tertekan, akhirnya dia mengaku supaya persoalannya cepat selesai,” katanya.

Keesokan harinya, AK diantar ibu dan pamannya ke balai desa. Namun setibanya di lokasi, keluarga disebut tidak diperbolehkan mendampingi saat pemeriksaan berlangsung.

“Hanya anak itu sendiri yang masuk ke ruangan. Orang tua tidak boleh ikut,” jelasnya.

Prima menyebut di dalam ruangan tersebut terdapat sejumlah aparat Desa yang kemudian menginterogasi AK terkait dugaan pencurian.

“Anak ini sudah berkali-kali bilang tidak mencuri karena rumah yang videonya viral itu juga tidak merasa kehilangan barang,” ujarnya.

Namun, menurut pengakuan korban, tekanan terus dilakukan agar AK mengakui perbuatannya. Prima mengungkapkan kliennya sempat dilempar korek api berbahan besi hingga mengenai pelipis kepala.

“Anak ini mengaku sempat dilempar korek besi dan kemudian diborgol. Bahkan sempat dibawa ke kamar mandi dan diminta mengaku,” katanya.

Karena takut dan tidak tahan menghadapi tekanan, AK akhirnya mengaku melakukan pencurian meski disebut tidak benar-benar melakukannya.

“Anak ini akhirnya mengaku hanya supaya cepat selesai,” jelasnya.

Di balai desa, AK kemudian diminta mengakui pencurian emas milik warga bernama Fitri. Keluarga korban juga disebut diminta mengganti kerugian sebesar Rp20 juta.

“Awalnya diminta mengganti kerugian Rp20 juta terkait tuduhan pencurian emas. Namun keluarga AK telah membayarkan uang muka sebesar Rp1 juta meski saat itu pihak keluarga masih belum mengakui tuduhan warga tersebut,” ungkap Prima.

Setelah itu, AK dibawa ke Polsek Jekulo. Namun di lokasi tersebut muncul pelapor baru yang mengaku kehilangan handphone dan meminta anak tersebut ikut mengakui kehilangan itu.

“Sampai di Polsek Jekulo ada lagi yang mengaku kehilangan HP. Anak ini kembali ditekan untuk mengaku supaya persoalan cepat selesai,” katanya.

Tak hanya itu, nominal kerugian yang dituduhkan kepada AK juga disebut meningkat drastis.

“Dari yang awalnya Rp20 juta di balai desa, kemudian berkembang menjadi Rp44,5 juta karena ada penambahan nilai emas yang dinyatakan hilang serta muncul pelapor baru yang mengaku kehilangan HP,” ujarnya.

Ia menegaskan, hingga kini tidak ditemukan bukti yang mengarah bahwa bocah tersebut benar-benar mengambil uang sebagaimana yang dituduhkan.

Pihak keluarga pun meminta masyarakat tidak langsung menghakimi anak tersebut.

“Dari semua tuduhan itu, tidak ada bukti bahwa anak ini pelaku atas seluruh kehilangan yang dituduhkan,” tegasnya.

Prima juga mengungkapkan, keluarga sebenarnya sempat berniat memberikan uang maksimal Rp10 juta kepada pihak yang merasa dirugikan.

Namun dana tersebut bukan sebagai bentuk penggantian kerugian, melainkan santunan untuk anak yatim sekaligus sebagai bentuk iktikad baik.

“Bukan ganti rugi. Keluarga hanya ingin membantu dan berharap persoalan ini selesai baik-baik, sekaligus buang sial,” katanya.

Kasus ini sebelumnya sempat menyita perhatian warga setelah bocah tersebut dituduh mencuri uang dengan nominal besar.

Polemik pun berkembang di tengah masyarakat hingga memunculkan simpati terhadap kondisi psikologis anak yang masih di bawah umur tersebut.

Pihak kuasa hukum berharap penyelesaian kasus dilakukan secara bijak dengan mengedepankan perlindungan anak dan asas praduga tak bersalah.

Mereka juga meminta agar proses klarifikasi dilakukan secara objektif tanpa tekanan terhadap anak.

Kuasa hukum keluarga, Prima, mengungkapkan anak berusia 13 tahun tersebut kerap mendapat ejekan hingga dipanggil “maling” oleh teman-temannya, baik di lingkungan sekolah maupun di kampung tempat tinggalnya.

“Sekarang anaknya takut sekolah. Setiap ketemu teman sering dipanggil maling. Di kampung juga begitu, jadi mental anak terpukul, ia juga minta dipindahkan dari sekolahnya yang sekarang karena ,” ujar Prima.

Oleh penasehat hukum, kasusnya kini telah diadukan ke unit PPA Polda Jawa Tengah.

“Saat ini masih dalam proses penyelidikan,” pungkasnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.