Caping Kalo dan Geliat Ekonomi Kreatif Kudus, Rekor MURI Jadi Momentum

oleh -132 Dilihat

KUDUS, ISKNEWS.COM – Caping Kalo bukan sekadar penutup kepala tradisional masyarakat Kudus. Di balik bentuknya yang khas, kerajinan tersebut kini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus membuka peluang bagi geliat ekonomi kreatif masyarakat.

Momentum tersebut semakin kuat setelah sebanyak 670 penari berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pagelaran Tari Caping Kalo di Kabupaten Kudus.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya daerah.

“Ini suatu kerja keras dari seluruh masyarakat Kabupaten Kudus yang sudi, mau, dan ikhlas melestarikan budaya-budaya Kabupaten Kudus, termasuk Caping Kalo yang kita doakan semoga mendunia,” ujar Sam’ani.

Menurutnya, pengenalan Caping Kalo secara luas juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi para pengrajin. Semakin dikenal dan digunakan, peluang permintaan terhadap kerajinan tersebut diharapkan semakin terbuka.

“Dengan adanya Caping Kalo produksi, kita memberikan kesempatan pada pengrajin untuk mendapatkan peningkatan ekonomi,” katanya.

Pemkab Kudus, lanjut Sam’ani, juga memiliki komitmen untuk memperkuat identitas budaya lokal dalam aktivitas pemerintahan. Salah satunya melalui penggunaan pakaian khas Kudus setiap tanggal 23 setiap bulan.

“Komitmen dari Pemerintah Kabupaten Kudus, setiap tanggal 23 setiap bulan, seluruh ASN dan seluruh instansi terkait memakai pakaian Kudus, memakai Caping Kalo terutama untuk itu,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Kudus Endhah Endayani Sam’ani yang juga menjadi koordinator acara mengatakan, geliat ekonomi tidak hanya dirasakan pengrajin Caping Kalo.

Berbagai kebutuhan dalam kegiatan tersebut turut melibatkan pengrajin bambu. Sejumlah aksesori hingga perlengkapan pendukung juga dibuat menggunakan bahan bambu hasil kerajinan masyarakat.

“Bukan hanya Caping Kalo. Ada juga aksesori yang dipakai, kemudian kebyoknya, bentangnya, itu semua dari bambu. Jadi bukan hanya pengrajin Caping Kalo, tetapi juga ada pengrajin-pengrajin lain yang ikut terlibat,” ungkap Endhah.

Menurutnya, keterlibatan para pengrajin dalam kegiatan tersebut memberikan dampak terhadap permintaan produk. Bahkan, sejumlah pengrajin mulai menerima pesanan dalam jumlah lebih banyak.

“Dengan adanya ini, akhirnya mereka menjadi kebanjiran pesanan. Otomatis kita mengangkat kesejahteraan para pengrajin bambu ini. Utamanya yang memang hari ini fokus kita adalah Caping Kalo,” katanya.

Endhah menyebut, para pelaku UMKM yang berada dalam binaan pemerintah memiliki bidang usaha yang beragam, mulai dari kerajinan, fesyen hingga makanan. Potensi tersebut perlu terus diperkenalkan melalui berbagai kegiatan agar semakin dikenal masyarakat.

Di sisi lain, keberadaan pengrajin Caping Kalo saat ini menjadi perhatian karena jumlahnya semakin terbatas. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga keberlangsungan kerajinan tradisional khas Kudus itu.

“Caping Kalo untuk generasi ke depan adalah pekerjaan rumah kita bersama. Karena pengrajin Caping Kalo sudah tinggal sedikit. Artinya, kepunahan untuk Caping Kalo ke depannya itu yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Untuk menjaga keberlangsungannya, regenerasi pengrajin dinilai menjadi langkah penting. Generasi muda didorong untuk memiliki keterampilan membuat Caping Kalo melalui pelatihan dan pendampingan.

“Kami upayakan pengrajin yang sudah sepuh ini bisa meregenerasi. Caranya anak-anak muda ini juga punya skill, punya keterampilan. Dengan adanya pelatihan, kita dorong anak-anak muda untuk mencoba dan menekuni kerajinan ini,” jelasnya.

Menurut Endhah, Caping Kalo harus dipandang sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif Kabupaten Kudus.

“Jadikan itu sebagai bentuk kecintaan kita kepada budaya, kekayaan lokal yang ada di Kabupaten Kudus. Salah satunya Caping Kalo,” tandasnya.

Ia menambahkan, pembuatan Caping Kalo membutuhkan keterampilan dan ketelitian. Karena itu, keterampilan para pengrajin yang masih bertahan perlu diwariskan kepada generasi muda agar kerajinan tersebut tidak berhenti pada satu generasi.

Pemecahan rekor MURI Tari Caping Kalo akhirnya menjadi momentum untuk mempertemukan pelestarian budaya dengan pengembangan ekonomi kreatif.

Harapannya, Caping Kalo tidak hanya menjadi identitas budaya Kudus, tetapi juga mampu membuka ruang ekonomi baru dan dikenal hingga tingkat yang lebih luas. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.