CAS, Mesin Penyimpan Yang Bisa Jadi Solusi Petani Dongkrak Harga Komoditas Pertanian

oleh

Kudus, isknews.com – Fluktuasi harga sejumlah komoditas pertanian dan holtikultura dan kondisi cuaca dan iklim seringkali tak berpihak pada petani, jatuhnya harga di pasaran hingga sebabkan petani mengalami kerugian cukup besar.

General Manajer PT PAM Agung Subani, CAS dan Humas Pura Grup
Noor Faiez saat menunjukkan kualitas komoditas pertanian setelah berbulan-bulan disimpan di mesin tersebut (Foto: YM)

Namun kendala tersebut kini dapat diatasi dengan menyimpan pada mesin Control Atmosphere Storage (CAS). Sebuah alat penyimpanan produksi PT Pura Agro Mandiri (PAM) itu mampu menyimpan hasil  pertanian holtikultura dan buah- buahan tetap segar hingga waktu enam bulan.

Menurut General Manajer PT PAM Agung Subani, CAS merupakan sistem yang mengkombinasikan teknologi pendingin dengan teknologi pengkondisian udara (O2, CO2, N2, Ethylene dan RH) sebagai alat penyimpan produk komoditi hortikultura dalam jangka waktu yang lebih panjang dari metode konvensional.

Deretan mesin CAS dalam berbagai ukuran dan kapasitas di PT PAM Terban Jekulo Kudus (Foto: YM)

“Mesin CAS dapat mengawetkan berbagai komoditas seperti bawang merah, cabai, buah-buahan, sayuran, dll, hingga 3 sampai 6 bulan. Bawang merah yang disimpan selama tiga bulan,

tidak mengalami kerusakan dengan susut bobot kecil 10 persen. Berbeda dengan cara konvensional dengan menggantung ikatan bawang, penyusutan mencapai 35 hingga 40 persen,” terangnya.saat ditemui di lokasi penyimpanan storage PT PAM di kawasan Desa Terban Jekulo Kudus, Kamis (16/01/2020).

TRENDING :  Masih 25 Persen, Pendataan Program Kartu Tani Diharapkan Usai November Tahun Ini

Jika saja pemerintah ikut memberikan respon dan mencarikan solusi, dengan cepat turun tangan membantu nasib petani. Hasil pertanian khususnya yang memiliki fluktuasi harga cukup tinggi, dapat diselamatkan dan harganya tetap terdongkrak dengan menyimpan pada mesin Control Atmosphere Storage (CAS).

Sejumlah Komoditas bawang merah dalam proses penyimpanan di storage (Foto: YM)

“Kalau surplus bawang merah sebagai salah satu komoditas strategis dapat dikelola dengan baik, Indonesia tak perlu impor dan sebaliknya akan menjadi negara ekspor,” ujar Agung Subani.

Menurutnya kini mesin-mesin CAS yang ada di tempatnya sudah mengalami banyak modernisasi, seperti pemantauan yang fully digitalized yang dapat di control dengan smartphone dan pihaknya juga sudah mendisain mesin yang sifatnya mobile.

Saat ini pihaknya mendapat titipan penyimpanan bawang putih dalam CAS dari kelompok tani Kota Bima, Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat berupa bawang putih untuk bibit sebanyak 140 ton yang dititipkan mulai Oktober 2019 ketika harga Rp 26.000 lalu pada awal Januari 2020 harganya telah naik menjadi Rp 38.000 per kilogram, barang kembali diambil.

TRENDING :  Kerja bakti membersihkan sampah di sungai.
Agung Subani saat jelaskan sistem penyimpanan mesin CAS yang dikelolanya (Foto: YM)

“Dengan CAS petani diuntungkan, karena untuk penyimpanan hanya dikenakan biaya pengganti operasional sebesar Rp 1.000 per kilogram per bulan,” ungkapnya.

Tak hanya bawang outih, PT PAM juga menerima titipan buah mangga dari Solo dan Gresik (Jatim), serta jengkol dari Pontianak Kalimantan Barat.

“Penitipan jengkol dua kali selama dua bulan masing- masing 80 ton saat harga rendah Rp 3.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp 16.000 per kilogram. Pada awal Januari 2020 diambil setelah harga  naik menjadi Rp 8.000,” terang dia.

Sekarang ini PT PAM memiliki sebuah CAS kapasitas 74 ton, 28 CAS tampungan 16 ton, dua mesin 2,5 ton dan satu kapasitas simpan satu ton. Sedangkan mesin CAS mobile 20 feet berkapasitas 3,5 ton, dan 40 feet berkapasitas 7 ton.

Menurutnya, mesin CAS kini mulai diminati, Bulog telah menginstal 20 unit mesin dipasang di Brebes untuk penyimpanan bawang merah. Selain itu Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka (Bappebti) investasi lima  unit.

TRENDING :  Panen Tebu di Kudus Dimulai

Selain itu Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya Jakarta tiga unit, dan rencananya akan menambah tujuh mesin CAS baru. Pesanan lain dating dari Badung (Bali), Medan dan Kalimantan Timur. Harga mesin CAS cukup terjangkau, ukuran kapasitas 16 ton sekitar Rp 1,4 miliar, kapasitas 2,5 ton Rp 450 juta, dan kapasitas satu ton Rp 270 juta.

Dikatakan, teknologi CAS  berbeda dengan Cold Storage, dimana hanya bekerja mengendalikan temperatur saja. Sedang CAS ada enam komponen yang dikendalikan yaitu O2, CO2, N2, RH, temperatur dan Ethylene. Ide pembuatan CAS berawal dari keprihatinan tim Research and Development (R&D) PT PAM yang melihat fluktuasi harga bawang merah dan cabe setiap tahun.Kondisi itu membuat resah para pelaku ekonomi termasuk petani.

“Kamipun tergerak memberikan solusi, dengan CAS dapat mengangkat harga komoditas pertanian yg jatuh kembali terdongkrak naik, ” katanya.

PT PAM sekarang juga memproduksi alat baru Integrated Dehydrated Dryer (IDD), yaitu mesin yang berfungsi untuk mengeringkan produk- produk pertanian dan holtikultura. Salah satu rangkaian alat dapat digunakan membuat produk pertanian berbentuk powder atau tepung dan ditawarkan dengan harga Rp 400 juta. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :