Dampak Banjir Kudus, Keluhan Kesehatan Pengungsi Didominasi Penyakit Kulit

oleh -202 Dilihat
Foto pengungsi di loram kulon Kudus. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga memicu berbagai masalah kesehatan di lokasi pengungsian. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus mencatat, penyakit kulit menjadi keluhan yang paling banyak dialami warga pengungsi, disusul infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Sekretaris Dinkes Kudus, Nuryanto, mengatakan keluhan tersebut terungkap dalam pemeriksaan kesehatan serentak yang digelar pada Selasa, 13 Januari 2026, di enam titik lokasi pengungsian dan posko banjir. Sebanyak 106 pengungsi mendapatkan layanan medis dalam kegiatan tersebut.

“Mayoritas keluhan warga berkaitan dengan penyakit kulit dan ISPA. Ini penyakit yang paling sering muncul saat bencana banjir, terutama akibat lingkungan yang lembap dan kurang higienis,” ujarnya.

Lokasi dengan jumlah pasien terbanyak berada di Gedung Serbaguna RW 02. Di posko ini, tim medis melayani 31 pasien dengan keluhan dominan berupa ISPA dan penyakit kulit. Selain itu, petugas juga menangani sejumlah warga dengan luka terbuka akibat aktivitas di lingkungan yang masih tergenang air.

“Beberapa pasien yang memiliki riwayat asma juga mengalami sesak napas, dipicu oleh udara dingin dan lembap,” jelasnya.

Di Posko Banjir RW 06, sebanyak 23 warga memeriksakan kesehatan. Penyakit kulit kembali menjadi keluhan utama, disusul hipertensi yang banyak dialami warga lanjut usia. Menurut Nuryanto, tekanan darah tinggi pada pengungsi dipengaruhi kelelahan fisik, stres, serta pola istirahat yang terganggu selama bencana.

Sementara itu, Posko Banjir RW 07 melayani 20 pasien, dengan kasus penyakit kulit atau dermatitis sebagai keluhan terbanyak. Penyakit tersebut dialami warga dari berbagai kelompok usia akibat kontak langsung dan berulang dengan air banjir. Selain itu, keluhan sakit kepala juga cukup sering ditemukan.

Di Mushola Baitul Khoir RW 09, tercatat 14 warga menjalani pemeriksaan kesehatan. Berbeda dengan posko lain, keluhan nyeri otot atau myalgia cukup menonjol. Kondisi ini berkaitan dengan aktivitas fisik berat yang dilakukan warga saat menyelamatkan barang-barang dari genangan air. ISPA juga masih ditemukan pada sebagian pasien di lokasi ini.

Pelayanan kesehatan di RPTRA Karang Anyar mencatat 12 pasien dengan dominasi keluhan ISPA dan hipertensi. Lokasi posko yang relatif terbuka menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin pada malam hari, sehingga meningkatkan risiko batuk dan pilek.

Adapun Posko Banjir RW 08 menjadi lokasi dengan jumlah kunjungan paling sedikit, yakni enam pasien. Keluhan yang ditemukan meliputi penyakit kulit, ISPA, serta gangguan pencernaan ringan.

Secara keseluruhan, Dinkes Kudus mencatat 28 kasus penyakit kulit, 24 kasus ISPA, dan 18 kasus hipertensi. Seluruh penanganan dilakukan langsung di lokasi dengan memanfaatkan stok obat dari puskesmas setempat.

“Hingga saat ini kondisi kesehatan pengungsi masih terkendali dan belum ditemukan kasus yang memerlukan rujukan darurat. Kami mengimbau warga untuk tetap menjaga kebersihan diri dan lingkungan guna mencegah penyakit pascabanjir,” pungkas Nuryanto. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.