Dewiku Kudus Gelar Studi Tiru ke Blora, Pelajari Strategi Pengelolaan Wisata

oleh -140 Dilihat
Dewiku saat berbincang-bincang dengan penggerak wisata di Goa Terawang Blora. (Foto: Dok. Dewiku)

Kudus, isknews.com – Paguyuban Desa Wisata Kudus (Dewiku) Kabupaten Kudus menggelar studi tiru ke Kabupaten Blora pada Minggu, 16 Februari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai desa wisata di Kudus dengan tujuan menggali inspirasi dan memperluas wawasan dalam pengelolaan wisata.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Dewiku mengunjungi beberapa destinasi wisata unggulan di Blora, seperti Sumur Minyak Tua, Argowisata Sawo di Desa Wisata Bangowan, serta Goa Terawang yang terkenal. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada keunikannya serta keberhasilannya dalam mengembangkan pariwisata berbasis komunitas.

Pembina Dewiku, H. Anis Aminudin, menyampaikan bahwa studi tiru ini menjadi bagian dari program kerja kepengurusan Dewiku periode 2025–2029 yang diketuai oleh H. Maskur. Salah satu alasan memilih Desa Wisata Bangowan adalah prestasinya sebagai juara 2 Desa Wisata Rintisan tingkat nasional dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

“Ketika kami berkunjung, sebenarnya potensi wisata di Blora hampir sama dengan yang ada di Kudus. Namun, mereka memiliki keunggulan dalam hal administrasi, terutama dalam dokumentasi dan pengisian borang penilaian. Hal ini bisa menjadi referensi bagi desa wisata di Kudus untuk meningkatkan pengelolaan administrasi,” jelas H. Anis.

Selain itu, Dewiku juga mendapat wawasan dari beberapa destinasi unggulan. Di Argowisata Sawo, peserta memperoleh edukasi tentang cara pengolahan buah sawo sebelum dikonsumsi, karena sawo yang baru dipetik tidak bisa langsung dimakan. Sementara itu, di Sumur Minyak Tua, rombongan mempelajari proses pengeboran hingga pemasaran minyak mentah sebelum dikirim ke pengilangan di Cepu.

Di Goa Terawang, Dewiku disambut oleh Aris Vertical, seorang pengelola wisata yang dikenal aktif dalam pengembangan pariwisata. Ia berbagi pengalaman tentang kerja sama teknis dengan Perhutani yang menjadikan Goa Terawang semakin dikenal luas.

“Kami banyak belajar mengenai strategi kerja sama dengan berbagai pihak agar wisata yang dikelola semakin berkembang dan dikenal luas. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh ini akan kami coba terapkan di objek wisata di Kudus,” tambah H. Anis.

Melalui kegiatan ini, lanjutnya, diharapkan desa wisata di Kudus dapat menerapkan strategi pengelolaan yang lebih profesional dan menarik bagi wisatawan, demi meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor pariwisata daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Mutrikah, mengapresiasi kegiatan studi tiru ini sebagai langkah positif dalam meningkatkan kualitas desa wisata di Kudus.

“Peningkatan sumber daya manusia dalam pengelolaan desa wisata sangat penting. Studi tiru ini tidak hanya memberi wawasan baru, tetapi juga mengubah pola pikir para pengelola agar lebih inovatif dalam mengembangkan potensi wisata di daerah masing-masing,” ujar Mutrikah, Senin (17/2/2025).

Ia juga menyoroti kekompakan para pelaku wisata di Kudus yang secara mandiri membiayai studi banding ini. Menurut Mutrikah, semangat kebersamaan ini perlu terus dijaga agar sinergi antar-desa wisata semakin kuat, sehingga desa wisata yang masih berstatus rintisan dapat berkembang lebih pesat. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :