Direktur RSUD Kudus Raih Gelar Doktor Berkat Inovasi Ekstrak Daun Pegagan untuk TB Remaja

oleh -292 Dilihat
Direktur RSUD dr. Loekmonohadi Kudus, Dr. dr. Abdul Hakam, M.Si.Med, SpA, bersama stri tercinta, Dr dr Renni Yuniati SpDVE Sub SpDT FINSDV FAADV MH. (Foto: Dok. ist.)

Semarang, isknews.com – Direktur RSUD dr. Loekmonohadi Kudus, Dr. dr. Abdul Hakam, M.Si.Med, SpA, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Selasa (29/7/2025). Disertasinya yang mengangkat pemanfaatan ekstrak daun pegagan (Centella asiatica) sebagai terapi pendamping bagi pasien tuberkulosis (TB) remaja dinilai sebagai terobosan penting dalam pengembangan pengobatan berbasis kearifan lokal.

Dalam riset yang dilakukan selama enam minggu di RSUD Kudus dengan metode double blind randomized controlled trial (RCT), Dr. Abdul Hakam melibatkan 84 pasien remaja usia 10–18 tahun yang menjalani pengobatan TB.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak daun pegagan memberikan dampak signifikan, antara lain Menurunkan kadar biomarker inflamasi seperti HIF-1α, TNF-α, dan IFN-γ secara signifikan. Melindungi fungsi hati pasien dengan penurunan kadar SGOT, sehingga mengurangi risiko hepatotoksisitas akibat obat anti-TB dan Meningkatkan status gizi pasien melalui peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT).

“Penelitian ini membuktikan bahwa ekstrak daun pegagan dapat menjadi terapi adjuvan yang aman dan efektif. Selain membantu menekan peradangan, juga berperan dalam melindungi fungsi hati dari efek samping obat standar TB,” ujar Dr. Abdul Hakam.

Ia pun berencana untuk mengintegrasikan hasil penelitiannya ke dalam protokol pengobatan TB di RSUD Kudus, dengan tetap melakukan pengkajian lanjutan secara lebih komprehensif.

Komitmen pada Inovasi Kesehatan Lokal

Dr. Abdul Hakam dikenal aktif dalam mengembangkan pelayanan kesehatan dan sosial kemasyarakatan. Selain menjabat sebagai Direktur RSUD Kudus, ia juga merupakan Wakil Ketua PC NU Kudus. Bersama sang istri, Dr. dr. Renni Yuniati, SpDVE, SubSpDT, FINSDV, FAADV, MH—yang menjabat sebagai Ketua LKNU Kudus—keduanya kerap menggerakkan berbagai program kesehatan berbasis komunitas.

Kecintaan Dr. Abdul Hakam pada pengobatan integratif membawanya meneliti potensi tanaman obat tradisional Indonesia. “Penelitian ini merupakan wujud dari upaya mengembangkan inovasi kesehatan yang berbasis bukti ilmiah, sekaligus mengangkat nilai kearifan lokal,” ungkapnya.

Harapan untuk Pengembangan Fitofarmaka Nasional

Lebih dari sekadar kontribusi akademik, hasil penelitian ini membuka peluang pengembangan terapi TB yang lebih aman dan terjangkau. Daun pegagan yang merupakan tanaman asli Indonesia dinilai berpotensi dikembangkan menjadi produk fitofarmaka nasional.

“Kami berharap ini menjadi langkah awal menuju pengobatan TB yang lebih holistik—menggabungkan kekuatan medis modern dengan warisan herbal tradisional,” imbuhnya.

Namun demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan mengonsumsi ekstrak daun pegagan. “Penggunaan herbal tetap harus dalam pengawasan dokter. Suplemen ini hanya bersifat pendamping, bukan pengganti pengobatan utama,” tegasnya. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :