Dominasi Penyebab Problematika Banjir, Pemkab Akan Pasang Jaring Sampah di Sungai

oleh -82 views
Ilustrasi gambar penumpukan sampah di aliran sungai Piji di Desa Kesambi Mejobo Kudus tahun lalu (foto: YM)

Kudus, isknews.com – Problematika banjir yang bersumber pada limpasan air sungai diwilayah Kabupaten Kudus sebagaian besar seringkali disebabkan oleh sumbatan sampah. Menumpuknya sampah baik sampah domestik maupun sampah alam menyebabkan ketersendatan arus air sungai sehingga menimbulkan dampak banjir.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus menggodok wacana pemasangan jaring sampah di sejumlah sungai di Kota Kretek. Pemasangan jaring sungai ini diproyeksikan terealisasi di APBD Perubahan mendatang.

Wacana pemasangan jaring sungai muncul saat tanggul Sungai Piji Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo jebol tahun lalu. Pemasangan jaring sungai di kawasan hulu, diharapkan dapat meminimalisir tanggul jebol dan banjir di kawasan hilir.

Plt. Bupati Kudus, HM Hartopo mengatakan pemasangan jaring sampah diharapkan dapat menggugah kesadaran warga di kawasan hulu untuk stop buang sampah ke sungai. Seperti diketahui, sampah-sampah dari kawasan hulu jadi penyebab tanggul jebol dan banjir di kawasan hilir.

“Dengan adanya jaring-jaring, sampah yang ada di sungai tidak sampai turun terbawa arus ke bawah (hilir). Tetapi langsung dibersihkan di situ. Jadi di bawah aman. Kasihan yang bawah mangan pulute tok ora mangan nangkane,” ujar dia, Rabu, 13 Januari 2021.

Untuk anggaran, Hartopo mengatakan akan mengaggarkan progam tersebut di APBD Perubahan 2021. Pemkab Kudus melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) akan mengkomunikasikan hal ini pada desa-desa terkait rencana ini.

“Itu nanti harus ada satuan tugas untuk melakukan monitor dan pemeliharaan. Satuan tugas inilah yang nantinya akan bekerja membersihkan sampah-sampah yang masuk ke jaring-jaring,” imbuhnya.

Plt. Kepala Dinas PUPR Kudus, Arief Siswanto mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan desa mengenai rencana ini. Mulai konsep hingga penganggaran untuk tenaga operator.

“Dana Desa bisa digunakan untuk mengawal kegiatan infrastruktur. Tadi disebutkan harus ada operator, kalau Pemkab hanya membuatkan tidak ada yang merawat akan percuma. Untuk itu Pemerintah Desa juga harus ikut terlibat,” katanya.

Arief mengatakan jaring sampah ini nanti akan dibuat berbaris di setiap desa di kawasan hulu sungai.

Sementara itu, Pelaksana Sungai Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juwana, Danis Handoyo mengaku pihaknya telah memberikan izin dan mendukung upaya Pemkab Kudus ini.

“Jangan semuanya dibebankan ke BBWS. Kami harap masyarakat, Pemerintah Desa dan Pemerintah Kabupaten juga ikut berkontribusi merawat dan membersihkan sungai di sekitarnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, dia berharap setiap desa yang dilintasi sungai bisa membuat komunitas peduli sungai. Komunitas ini secara rutin melakukan monitoring dan pembersihan sungai di daerahnya masing-masing.

“Kalau lumpur dan sampahnya banyak ya dibersihkan. Kalau tanggulnya rawan ya diperbaiki. Kami harap masyarakat bisa lebih peduli dengan lingkungan di sekitarnya,” tandas dia.

Keberadaan komunitas ini dibutuhkan utamanya pada sungai-sungai dengan kapasitas air tinggi tapi dimensinya kecil. Antara lain Sungai Dawe dan Sungai Piji. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :