Endang Kursistiyani : Budikdamber Jaring Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

oleh

Kudus, isknews.com – Sekarang ini saatnya sudah bukan lagi pada pemberdayaan perempuan, namun sudah riil saatnya difikirkan tentang peningkatan produktifitas ekonomi perempuan, melalui budidaya bahan pangan yang bisa dilakukan di pekarangan rumah.

Hal itu disampaikan oleh Endang Kursistiyani dalam reses anggota DPRD dari Fraksi Amanat Nasional Hanura Demokrat (ANHD) yang digelar di kediamannya kepada puluhan ibu-ibu dari kelompok pembudidaya ikan dalam ember (Budikdamber), wanita tani serta pembuat ikan hasil olahan dari sejumlah Desa di Kaliwungu dan Gebog, serta dari unsur Pemuda Karang Taruna yang merupakan kelompok binaannya, Jumat (02/10/2020)

Endang Kursitiyani saat tunjukkan kepada ibu-ibu kelompok binaannya sejumlah ember Budikdamber miliknya yang jelang panen (Foto: YM)

Mereka berkumpul dan diundang dikediaman Endang untuk penyampaian aspirasi, berdiskusi dan sharing informasi terkait perannya sebagai anggota dewan serta progres kegiatan budidaya bahan pangan yang kini sedang mereka tekuni sebagai upaya pemenuhan kebutuhan terutama ketahanan pangan keluarga.

Menurut Endang, diluar kegiatan reseh hari ini kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang sudah dirintisnya lama, semenjak masa Pandemi dimana dirinya berinisiatif membentuk kelompok-kelompok kecil ibu-ibu untuk diberikan pembinaan dan praktek pembudidayaan baik ikan maupun tanaman panagn produktif dilahan sempit.

Suasana dialog dengan ibu-ibu dan sejumlah kader binaannya di kediaman Endang (Foto: YM)

Untuk menjaga ketersediaan atas kebutuhan konsumsi protein keluarga kelas menengah adalah dengan memanfaatkan lahan sempit disekitar rumah atau hunian. Terlebih di masa pandemi covid-19.

“Cara budidaya ini termasuk yang mudah untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga, secara aplikasi atau penerapan dalam perawatan juga tidak membutuhkan keahlian khusus,” katanya.

Selanjutnya, rentang waktu yang dibutuhkan mulai dari tebar benih sampai siap panen ikan lele dibutuhkan waktu kurang lebih 10 minggu atau 2,5 – 3 bulan. Dalam setiap ember yang berkapasitas 80 liter air bisa ditebar sebanyak 100 ekor bibit ikan lele. Selain untuk ikan, pada atas tutup ember yang digunakan juga dimanfaatkan dengan melubangi sebagai tempat budidaya sayur.

“Untuk media tanam sayur kita tidak memakai tanah, akan tetapi kita ganti dengan rockwool. Dan untuk memudahkan menguras atau menganti air, kita pasang kran di sisi samping bagian bawah ember untuk lebih memudahkan menganti atau menguras air jika kotor,” tuturnya.

Pendampingan yang diberikan begitu berarti bagi kelompok rentan, terlebih di saat wabah covid-19. Pemberian bantuan non-karikatif bagi mereka supaya tetap bisa bertahan. Kedepan saat panen, ikan Lele ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari.

“Namun kedepannya juga memiliki nilai bisnis kuliner yang menarik, salah satunya dijadikan bahan ikan olahan seperti abon ikan lele,” kata dia.

Endang mengatakan kegiatan ini akan dia upayakan terus berlanjut, tidak hanya pada saat pandemic covid saja. Pilot Project kegiatan ini ada di Prambatan, Klumpit, Besito, Gondosrari dan kalilopo. Harapannya akan menjadi inspirasi bagi lingkungan setempat dan lingkungan yang lebih luas lagi.

Saat disinggung tentang keberhasilan pemasaran pada kegiatan Budikdamber, Endang mengakui memang disaat pandemic covid-19 ini sulit untuk memasarkan produk mereka, apalagi masa kadaluarsanya juga cukup cepat sehingga memang terkendala dengan hal tersebut.

“Tapi target utama kita memang masih pada pemenuhan ketahanan pangan di tingkat keluarga dulu,” kata dia.

Harapannya kedepan memang ketika panen (ikan Lele) nanti, tentu tidak hanya dijadikan sebagai pangan untuk mencukupi kebutuhan, namun bagaimana cara kita berpikir agar Lele yang kita panen nanti dapat menjadi modal usaha.

“Adanya Budikdamber ini diharapkan bisa merubah mindset masyarakat tentang kegiatan budidaya ikan dan sayur, yang membutuhkan lahan luas,” pungkasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :