Endhah Ingin ASN Kudus Miliki Batik Khas yang Angkat Kearifan Lokal Daerah

oleh -1045 Dilihat
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudus Endhah Sam'ani Intakoris. (Foto: YM/YM)

Kudus, isknews.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudus Endhah Sam’ani Intakoris berkeinginan menghadirkan batik khas yang dapat menjadi identitas resmi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kudus sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan kearifan lokal daerah.

Menurut Endhah, selama ini Kabupaten Kudus telah memiliki sejumlah motif batik yang cukup dikenal masyarakat. Motif-motif tersebut telah menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah dan tetap harus dilestarikan.

Namun demikian, ia meyakini masih banyak potensi lokal Kabupaten Kudus yang belum tergali dan belum dituangkan dalam bentuk motif batik.

“Kita sudah punya motif beras kecer, cengkeh, tembakau, parijoto, ukir gebyok, kapal kandas dan motif-motif lainnya. Itu semua tetap menjadi kekayaan batik Kudus yang harus kita jaga dan lestarikan. Tetapi saya yakin masih banyak kekayaan lokal yang belum tergali dan belum diangkat menjadi motif batik,” ujarnya.

Endhah menilai setiap wilayah di Kabupaten Kudus memiliki karakteristik, sejarah, tradisi, kesenian, maupun kekayaan alam yang dapat menjadi sumber inspirasi lahirnya motif-motif baru.

Bahkan, menurutnya, masih banyak kearifan lokal yang hanya dikenal masyarakat di wilayah tertentu dan belum diketahui secara luas oleh masyarakat Kudus sendiri.

“Kita punya banyak sekali kekayaan lokal yang belum terangkat. Ada tradisi-tradisi desa, kesenian masyarakat, situs-situs budaya seperti Masjid Bubrah atau cerita rakyat Rahtawu, hasil bumi, buah-buahan seperti parijoto dan pamelo, maupun potensi alam yang sebenarnya sangat menarik untuk dituangkan ke dalam motif batik. Saya ingin kekayaan itu muncul dan dikenal lebih luas,” katanya.

Ia mencontohkan berbagai tradisi masyarakat yang berkembang di desa-desa, kesenian lokal, hingga berbagai potensi yang ada di kawasan Pegunungan Muria yang selama ini belum banyak dieksplorasi sebagai identitas visual batik Kudus.

Menurut Endhah, keberadaan motif batik baru nantinya diharapkan tidak hanya menjadi identitas ASN, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan promosi budaya daerah.

“Ketika orang melihat motif batik yang dipakai ASN, mereka bisa mengetahui cerita di balik motif tersebut. Dari situ masyarakat akan mengenal budaya, sejarah, maupun kekayaan lokal Kabupaten Kudus yang selama ini mungkin belum mereka ketahui,” ungkapnya.

Karena itu, ia berharap proses pencarian desain batik baru mampu melahirkan gagasan-gagasan kreatif yang benar-benar berangkat dari karakter daerah.

“Saya ingin batik khas Kudus ke depan tidak hanya berbicara tentang ikon-ikon yang sudah dikenal masyarakat, tetapi juga mampu mengangkat kekayaan lokal yang selama ini masih tersembunyi. Dengan begitu semakin banyak potensi daerah yang dikenal dan masyarakat semakin bangga terhadap budayanya sendiri,” ujarnya.

Endhah juga menegaskan bahwa desain yang nantinya dipilih harus benar-benar orisinal dan lahir dari kreativitas peserta, bukan hasil karya yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

“Kami ingin desain yang lahir dari hasil pemikiran, kreativitas, dan pemahaman peserta terhadap Kabupaten Kudus. Yang kami cari bukan hanya gambar yang bagus, tetapi ide dan filosofi yang kuat tentang Kudus,” tegasnya.

Selain itu, ia menginginkan motif yang dihasilkan dapat diaplikasikan menggunakan teknik batik cap maupun kombinasi batik cap dan tulis, bukan sekadar desain yang cocok untuk diproduksi secara printing.

Menurutnya, orientasi tersebut penting agar batik yang nantinya menjadi identitas ASN tetap memiliki nilai seni dan mampu memberikan manfaat ekonomi kepada para pengrajin lokal.

“Saya ingin batik khas ASN ini tetap mempunyai nilai kerajinan dan nilai budaya. Karena itu orientasinya bukan printing, tetapi bagaimana desain tersebut bisa diwujudkan melalui teknik batik cap maupun kombinasi cap dan tulis yang selama ini menjadi kekuatan para pengrajin batik kita,” jelasnya.

Ia menilai penggunaan teknik tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan UMKM dan pengrajin batik di Kabupaten Kudus.

“Kalau semuanya printing memang lebih mudah dan cepat, tetapi manfaatnya bagi para pengrajin menjadi sangat kecil. Saya ingin batik khas ASN ini juga menjadi sarana untuk menggerakkan ekonomi para perajin batik lokal sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” tandasnya.

Melalui hadirnya batik khas ASN tersebut, Endhah berharap Kabupaten Kudus memiliki identitas visual yang kuat sekaligus menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.