Fenomena Bediding Mulai Selimuti Kudus, Suhu Dini Hari Berpotensi Capai 18 Derajat Celsius

oleh -818 Dilihat
Foto: Ilustrasi By AI

Kudus, isknews.com – Fenomena bediding mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Kudus dalam beberapa hari terakhir. Udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga dini hari menjadi pertanda musim kemarau memasuki fase yang lebih kuat atau yang oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai musim randu.

Bahkan, pada puncak musim kemarau tahun ini, suhu udara di Kabupaten Kudus berpotensi turun hingga 18 derajat Celsius pada dini hari, terutama di wilayah yang memiliki lahan terbuka luas dan berada di kawasan kaki Gunung Muria seperti Kecamatan Dawe dan sekitarnya.

Kondisi tersebut mulai dirasakan warga sejak malam hari hingga menjelang matahari terbit. Sebagian warga mengaku harus mengenakan jaket atau menambah selimut saat beristirahat karena udara terasa lebih menusuk dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Sebaliknya, saat siang hari suhu udara justru dapat meningkat hingga 31-34 derajat Celsius sehingga perbedaan suhu antara malam dan siang hari terasa cukup ekstrem.

Fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi saat musim kemarau. Langit yang cerah dan minim awan pada malam hari menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara turun secara signifikan.

Selain itu, dominasi angin timuran yang berasal dari Benua Australia turut membawa massa udara yang lebih kering dan dingin ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Tengah dan Kabupaten Kudus.

Kondisi tersebut membuat udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih sejuk dibandingkan biasanya.

Masyarakat Jawa sejak lama mengenal periode ini sebagai musim randu, yakni masa ketika pohon kapuk randu mulai berbunga dan berbuah. Musim tersebut juga menjadi penanda bahwa kemarau sedang berlangsung cukup kuat dan memasuki fase puncaknya.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, mengatakan fenomena bediding merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi saat musim kemarau.

“Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding. Penyebab utamanya adalah minimnya tutupan awan pada malam hari sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer. Akibatnya suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya,” ujarnya.

Menurut Yoga, suhu minimum di wilayah Kabupaten Kudus selama periode kemarau umumnya berkisar antara 20 hingga 23 derajat Celsius. Namun saat puncak kemarau dan kondisi atmosfer mendukung, suhu udara dapat turun hingga sekitar 18 sampai 19 derajat Celsius pada dini hari.

“Pada periode kemarau, kelembapan udara cenderung lebih rendah dan langit relatif cerah. Kondisi ini menyebabkan perbedaan suhu antara malam dan siang hari cukup signifikan. Masyarakat merasakan udara dingin pada dini hari, namun saat siang hari suhu dapat meningkat cukup tinggi karena penyinaran matahari berlangsung maksimal, Ia menambahkan, arah dan kecepatan angin dari tengah malam hingga pagi hari juga sangat tenang atau calm wind.  Kondisi tersebut membuat udara dingin tetap mengendap di dekat permukaan tanah sehingga suhu terus menurun. Di sisi lain, tingkat kelembapan udara di sekitar permukaan masih sangat tinggi.” jelasnya.

Ia menambahkan, fenomena bediding bukan merupakan cuaca ekstrem yang perlu dikhawatirkan. Namun demikian, masyarakat tetap diminta menjaga kesehatan karena perubahan suhu yang cukup tajam dapat memengaruhi daya tahan tubuh.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi fisik, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta menggunakan pakaian hangat pada malam hingga pagi hari, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya,” katanya.

Selain berdampak pada kesehatan, musim kemarau yang semakin kuat juga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran lahan. Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada sekaligus menjaga kesehatan selama fenomena bediding masih berlangsung.

Dengan suhu yang berpotensi menyentuh 18 derajat Celsius pada dini hari, tidak heran jika masyarakat Kudus mulai merasakan malam yang lebih dingin dari biasanya.

Namun suhu tersebut masih jauh lebih hangat dibandingkan kawasan dataran tinggi Dieng yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, yang saat puncak musim kemarau dapat mencapai 0 hingga 5 derajat Celsius, bahkan sesekali mendekati titik beku hingga memunculkan fenomena embun es atau bun upas.

Bagi masyarakat Kudus, fenomena bediding menjadi penanda bahwa musim randu dan puncak kemarau mulai hadir di Kota Kretek. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.