Gerakan Penggunaan Pupuk Organik : Jaga Keragaman Hayati, Keseimbangan Mikroba Dan Tingkatkan Kualitas Produksi

oleh -964 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Sosialisasi terus ditingkatkan oleh pemerintah Kabupaten Kudus terkait upaya peningkatan produksi padi melalui penggunaan pupuk organik dengan memanfaatkan bahan baku lokal.

Sehingga masyarakat tidak lagi banyak bergantung pada pupuk Kimia, Sebab pemakaian pupuk kimia secara terus menerus dan berlebihan tentunya akan berdampak kepada penurunan kualitas produk, tingginya residu pestisida dan yang tidak kalah penting adalah gangguan ekosistem dan pencemaran lingkungan.

Hal teresebut di sampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan Kudus, Catur Sulistiyanto saat berkunjung ke poktan Rukun Tani Desa Karangrowo Kecamatan Undaan.

“ Selain menyebabkan, unsur hara di dalam tanah semakin berkurang. Akibatnya tanah semakin bergantung pada pupuk kimia dan hama menjadi kebal sehingga membutuhkan dosis lebih tinggi dari sebelumnya,” trangnya.

Solusinya adalah menggunakan pupuk organik sendiri dengan memanfaatkan bahan baku dari lingkungan sekitar. Misalnya kotoran ternak dan limbah tanaman.

“Hal ini juga dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang semakin mahal dan terkadang langka ,” tambahnya.

Hawi Sukamto, Ketua Poktan Rukun Tani Desa Karangrowo Kecamatan Undaan, yang mulai menggunakan pupuk organik produksi sendiri membenarkan penjelasan tersebut.

Menurutnya, cara paling mudah adalah pemanfaatan jerami padi paska panen untuk diolah menjadi pupuk organik sebelum melakukan tanam kembali.

“ Sebenarnya petani bisa membuat pupuk dengan sisa hasil pertaniannya. Memang butuh ketelatenan sedikit dan bagi yang belum bisa memerlukan sedikit pelatihan. Misalnya jerami menjadi bahan dasar pupuk dengan dikomposkan. Ini yang sederhana dan tidak beli ,” ucap Hawi Sukamto.

Pria paroh baya yang sudah mempraktikkan pupuk kompos itu kemudian berinovasi dengan membuat pupuk cair menjadi pestisida organik.

Dirinya memanfaatkan bahan-bahan lokal seperti sepet sebagai pengganti pupuk KCL dan daun-daunan mahoni, cengkeh serta sirsak untuk mengusir hama.

Sedangkan untuk merangsang tumbuhnya bulir-bulir padi menggunakan MOL dari buah-buahan yang sudah tidak terpakai.

Saat aplikasi ini areal persawahan seluas 8ha di desa Karangrowo diserang hama kaper dan beluk. Namun tanaman padi miliknya masih bisa menghasilkan produksi 5 ton perhektar. Pada situasi normal tanpa hama akan memperoleh angka normal 7- 8 ton.

“ Pada tanaman petani lain yang tidak pakai pupuk organik hasilnya hanya dua ton. Bahkan ada yang tidak mencapai angka 1 ton perhektar.

Malah yang dekat perbatasan Pati itu hanya 5 kuintal perhektar atau sama sekali tidak untung. Sebab hasil panen tidak menutup biaya produksi ,” ungkapnya serius.

“ Gabah saya juga dihargai pembeli Rp 4900 , sedangkan gabah ketan Rp 7900 karena mentes-mentes ,” imbuhnya sambil tersenyum.

Sunarto, Koordinator PPL Kecamatan Undaan, yang melakukan pendampingan Poktan Rukun Tani, menambahkan bahwa penggunaan pupuk organik juga memerlukan kesabaran. Sebab hasil yang terlihat tidak secepat seperti pupuk kimia.

“ Misalnya, untuk satu hektar lahan penggunaan pupuk organiknya mencapai 7 ton selama dua tahun. Ini manfaatnya menghidupkan tanah, nanti bisa menghindarkan dari penyakit ,” kata Sunarto.

Sunarto mengajak petani di Undaan dan Kudus pada umumnya berpikir bahwa tanah itu hidup. Maksutnya, tanah mampu mendukung kegiatan pertanian bila keseimbangan mikroba dalam tanah terjaga.

Aplikasi pupuk organik bisa menjaga kesehatan dan keragaman hayati isi tanah serta mendukung pertanian tanpa merusak tanah.

“ Penggunaan pupuk kimia itu selain membunuh hama juga membasmi mikroba. Akibatnya, mikroba penyubur tanah tidak ada dan dalam waktu tertentu tanah menjadi mati. Kalau sudah seperti itu maka tidak dipergunakan untuk bercocok tanam, karena tanahnya nelo (keras) ,” tuturnya.

“ Gerakan penggunaan pupuk organik juga didasari pemakaian pupuk kimia oleh petani di Undaan terutama jenis SP36 yang berlebihan.

Akibatnya, terjadi pupuk kimia jenis ini langka dan terpaksa membeli dari luar daerah yang masih ada dengan harga lebih mahal. Nah, kalau memakai organik atau pupuk kandang kan harganya tidak semahal pupuk kimia, namun lingkungan juga awet sehat ,” tandasnya. (YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :