Kudus, isknews.com – Usai memberikan secara simbolis pembayaran Bantuan Sosial Tunai (BST) Tahap I berupa uang tunai sebesar Rp 600 Ribu yang akan diberikan dalam tiga tahap di Kantor Pos Kudus. Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kudus H.M. Hartopo mengatakan sesuai jadwal, BST Tahap I ini dilaksanakan selama tiga hari dengan total 1069 penerima dari Kecamatan Kota. Sementara secara keseluruhan, terdapat 6004 penerima BST se-Kabupaten Kudus yang dimungkinkan dapat bertambah.
“Di kudus ini ada 11 titik, di sini (Kantor Pos) ada 3 titik, sehingga yang di kecamatan ada 8 titik. Jadi semua yang diserahkan ada 6004 saat ini. Ada data tambahan yang total semuanya sembilan ribu sekian. Mudah-mudahan dalam tiga bulan ini bisa diserahakan pada orang-orang yang memang betul-betul berhak menerima,” ujarnya.

H.M. Hartopo mengungkapkan telah menginstruksikan Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus untuk membuat skala prioritas bagi para penerima bansos. Penerima haruslah dari masyarakat yang sedang terpuruk akibat mata pencahariannya terdampak Covid-19. Hal tersebut dilakukan demi menghindari terjadinya kecemburuan sosial di masyarakat.
“Dari Dinsos membuat skala prioritas untuk yang mendapatkan bantuan, diutamakan orang-orang yang sedang terpuruk, jangan sampai terjadi kecemburuan di masyarakat,” tuturnya.
Terkait verifikasi data, H.M. Hartopo meminta agar para kepala desa / lurah untuk menempel daftar para penerima bansos di kantor kepala desa / kelurahan hingga ke tingkat RT. Pihaknya ingin masyarakat turut memverifikasi dan mengevaluasi data tersebut, sehingga bantuan betul-betul tepat sasaran.
“Untuk penerima bansos dari Kemensos, Dana Desa, Provinsi dan Pemda Kudus harus ada listnya masing-masing. Semua data itu akan ditempel di semua RT, di setiap kantor desa tujuannya biar masyarakat bisa ikut verifikasi dan evaluasi, biar semua orang tahu dan ikut menilai,” pesannya.
Sementara itu, salah satu penerima bansos, Irwanti, seorang ibu rumah tangga dari Desa Damaran menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diterima. Ia mengungkapkan, selama ini untuk kebutuhan sehari-hari disokong dari penghasilan anak pertamanya.
“Karena suami sudah tua dan tidak lagi bekerja. Nantinya, bantuan tersebut akan digunakan sebagai biaya kebutuhan anak keduanya yang sedang berkuliah melalui beasiswa,”ujar dia. (YM/YM)










