Kudus, isknews.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan terobosan baru untuk membantu mengatasi masalah stunting di Desa Garung Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Mereka memperkenalkan program edukasi gizi berbasis pangan inovatif berupa nugget homemade berbahan dasar protein lokal.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan tim KKN, tercatat sekitar 30 persen balita di Garung Kidul mengalami stunting. Kondisi ini dipicu oleh rendahnya pengetahuan gizi dan keterbatasan akses masyarakat terhadap pangan bergizi dengan harga terjangkau.

Menjawab persoalan tersebut, para mahasiswa merancang program edukasi yang menggabungkan penyuluhan gizi dan inovasi makanan sehat. “Produk nugget ini dirancang tidak hanya sebagai alternatif makanan yang praktis dan lezat, tetapi juga bernutrisi tinggi untuk mendukung pertumbuhan anak-anak,” terang salah satu pemateri dari tim KKN, Tita Cholidia Dika Ananda.
Adapun program dijalankan dengan metode partisipatif, melibatkan kader kesehatan desa, ibu-ibu PKK, tokoh masyarakat, serta orang tua balita.
Dalam pelaksanaannya, lanjut Tita Cholidia, tim bekerja sama dengan bidan desa, Zuliyati. Para mahasiswa juga memberikan pelatihan teknis pembuatan nugget berbahan ikan dan sayuran lokal, sehingga masyarakat mampu memproduksinya secara mandiri.
“Hasil program menunjukkan dampak positif yang signifikan. Survei evaluasi mencatat pemahaman masyarakat tentang gizi seimbang meningkat hingga 80 persen. Selain itu, adopsi pola makan sehat di keluarga dengan balita juga semakin baik. Partisipasi ibu-ibu dalam pelatihan melonjak dari 30 persen menjadi 75 persen,” tandasnya.
Tak hanya berdampak pada kesehatan, inovasi nugget homemade ini, Tita Cholidia menyebut, juga membuka peluang ekonomi baru. Produk tersebut mulai dikembangkan oleh ibu-ibu PKK sebagai usaha rumahan yang berpotensi menambah pendapatan keluarga.
“Tim KKN UMK mengapresiasi dukungan Pemerintah Desa Garung Kidul, kader kesehatan, serta masyarakat yang antusias mengikuti program. Mereka berharap inovasi ini bisa menjadi model yang direplikasi di desa lain dengan kondisi serupa,” pungkasnya. (AS/YM)








