Kudus, ISKNEWS.COM – Perempuan penganyam tikar pandan duri itu, karib disapa Nasiri (50). Ia adalah generasi kedua pembuat tikar pandan atau kloso di Desa Tergo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Keahliannya dalam membuat kloso diperolehnya dari sang Ibu yang telah lama menggeluti usaha ini. Dirinya mulai belajar membuat kloso dari usia 6 tahun. Karena Nasiri terlahir dari keluarga yang sederhana, ia tidak dapat mengecap manisnya pendidikan. Meskipun demikian, ia tidak pantang arang menghadapi kehidupan.
Sudah terbiasa bekerja keras sejak kecil, membuat dirinya menjadi pribadi yang tangguh. Sampai saat ini, usianya telah menginjak setengah abad. Nasiri tetap bekerja keras menganyam kloso untuk mencari sesuap nasi demi keluarga tercinta.

Tangannya tetap terlihat lincah menganyam pandan-pandan kering itu menjadi sebuah kloso yang cantik. Setiap pagi langkahnya diayunkan, menyusuri hutan di Desa Tergo untuk mencari daun pandan berduri, sebagai bahan baku pembuatan kloso.
“Sebenarnya di sini ada yang menjual pandan, hanya saja harganya terlalu tinggi. Sehingga saya lebih memilih mencarinya ke hutan,” ungkap Nasiri, Jumat (23-03-2018).
Langkahnya mencari pandan ke hutan, tidak selalu membuahkan hasil. Sering kali, Nasiri harus menelan pahitnya kekecewaan karena daun-daun pandan yang ditemuinya kerap kali masih muda dan pendek, sehingga tidak dapat digunakan untuk membuat kloso.
Bila musim panen daun pandan tiba, Nasiri dapat membawa pulang dua sampai tiga ikat. Lalu daun-daun itu kemudian dibersihkan durinya dengan menggunakan senar. Setelah itu, daun tersebut dibelahnya menjadi dua bagian yang simetris dan dijemur.
Untuk proses penjemuran memakan waktu antara satu sampai dua hari, tergantung cuaca. Kemudian, daun pandan tersebut dikerok agar tekstur permukaanya halus. Usai dikerok, daun pandan tersebut diwiwit atau dianyam. Untuk menghasilkan satu kloso besar (ukuran 1×1.5 meter -red), Nasiri memerlukan waktu tiga hari. Sedangkan untuk pembuatan kloso kecil (ukuran 50×100 centimeter -red) sehari ia bisa menghasilkan dua buah kloso.
Untuk satu kloso besar, Nasiri biasa menjualnya dengan harga Rp 35 ribu. Dan kloso kecil ia jual dengan harga Rp 7.500. Diakuinya, jika proses pembuatan kloso tidak sebanding dengan harga jualnya. Namun apa mau dikata, pekerjaan inilah satu-satunya keahlian yang dimiliki dan nadi perekonomian keuarga Nasiri.
Bagi Nasiri, kendala utama dalam usahanya bukanlah proses produksinya, melainkan dari pemasaran produknya. Ibu dari tiga anak ini mengaku, semenjak menjamurnya tikar plastik di tahun 2000. Kloso buatannya tidak lagi dilirik oleh masyarakat.
“Sebelum tahun 2000, saya menjual kloso di gerbang masuk makam Sunan Muria. Waktu itu peminatnya banyak, dari wisatawan dan masyarakat lokal selalu membanjiri lapak saya. Namun, setelah masuknya tikar plastik, lapak saya menjadi sepi dan penjualannya terus menurun. Dari situ saya putuskan untuk tidak lagi berjulan di sana,” ungkapnya.
Kini, Nasiri dan para pengrajin kloso di Desa Tergo, menjual kloso tersebut ke Kota Pati. Nasiri mengatakan, jika setiap dua sampai empat bulan sekali ada pengepul dari Pati yang datang untuk membeli kloso miliknya.
“Sekarang pemasaran di Kudus susah, sehingga saya larinya ke Pati. Di sana, masih ada orang yang menggunakan kloso sebagai alas maupun untuk kegiatan ritual keagamaan. Meskipun demikian, pembelinya juga tidak banyak, hanya sekitar 10 – 20 kloso dengan pengambilan barang 2 – 4 bulan sekali,” ucapnya.
Jika dikalkulasi, penghasilan Nasiri dari membuat kloso tidak seberapa. Namun loyalitasnya untuk terus menekuni usaha ini sungguh luar biasa. Disela-sela perbincangan isknews.com dengan Nasiri, ia mengungkapkan bahwa generasi muda saat ini tidak ada yang mau meneruskan usaha tersebut.
“Di Desa Tergo pengrajin kloso hanyalah orang-orang tua, seperti saya. Jika bukan kami yang terus bertahan menjalankan usaha ini. Lalu siapa lagi?.” pungkasnya. (NNC/RM)







