Kecewa Dianggap Perangkat Desa Merebut Lahan Bulusan, Dewan Kesenian Kudus Tak Mau “Cawe-Cawe” Penyelenggaraan Even Bulusan Tahun Ini

oleh -1,151 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kudus (DKK) Aries Junaidi, mengaku kecewa dengan sikap atau tanggapan sejumlah perangkat Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, khususnya Dukuh Sumber Bulusan. Kekecewaan itu terkait dengan pihaknya selaku pemrakarsa dan penyelenggara kirab budaya prosesi bulusan pada even tradisi syawalan itu, namun oleh pihak perangkat malah dianggap merebut lahan pendapatan desa.

FB_IMG_1468062700352

“Karena respon perangkat yang seperti itu, saya pribadi juga selaku Ketua DKK, lepas tangan dan tidak akan mau dilibatkan dalam kepanitiaan kirab budaya di even bulusan,” katanya kepada isknews.com, Sabtu (9/7).

Aries menceritakan, didorong keinginan mengangkat tradisi perayaan syawalan yang berlangsung setahun sekali, tujuh hari usai lebaran, dia pun memprakarsai diadakannya kegiatan budaya berupa kirab dan pentas seni fragmen terjadinya Bulusan yang erat kaitannya Sejarah Sunan Muria.

Dalam pelaksanaannya, Aries melibatkan DKK yang mengurus segala sesuatunya, mulai perekrutan seniman, penulisan skenario, kostum sampai properti pentas. Seperti soundsystem, panggung dan sebagainya. Bahkan menyediakan tempat di tanah miliknya untuk kegiatan tersebut. “Seluruh kegiatan kesenian saat itu menghabiskan dana sekitar Rp 40 juta, dananya dari uang saya sendiri,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, partisipasi yang bertujuan meningkatkan daya tarik pengunjung itu, ternyata mendapatkan sikap yang tidak menyenangkan dari sejumlah perangkat Dukuh Sumber. Mereka menilai yang dilakukannya dan DKK, merebut lahan yang seharusnya menjadi hak panitia setempat. Lebih disayangkan lagi, sikap itu tidak disampaikan terus terang kepada pihaknya, hanya “grundelan” atau “celometan” di luaran.

“Karena adanya sikap seperti itu, saya tidak mau lagi menjadi bagian di kepanitiaan kirab budaya even Bulusan, apalagi kalau harus mengeluarkan beaya, ” tegas Ketua DKK itu.

Sementara itu, Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan yang dihubungi terpisah, menyatakan tidak tahu-menahu tentang yang disampaikan oleh Aries Junaidi. Alasannya pada penyelenggaraan pertama kirab budaya yang dinakhodai oleh DKK itu, dirinya belum menjabat sebagai Kades Hadipolo. “Kalau setahu saya, Pak Aries sudah dua tahun tidak terlibat dalam kepanitiaan even Bulusan,” ujarnya.

Mengenai biaya sebesar Rp 40 juta yang dikeluarkan oleh Aries untuk kirab budaya, dia menilai wajar dan tidak begitu “mahal”. Pasalnya sekitar itulah biaya yang dikeluarkan panitia pada 2016 ini. “Jadi kirab budaya tetap diagendakan, hanya saja kalau dahulu sewaktu panitianya dipegang DKK rutenya mulai dari RM Bambu Wulung ke Makam Mbah Dudo, sekarang ini rutenya dari Jembatan Merah ke Makam Mbah Dudo,” pungkasnya. (DM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.