Kudus, isknews.com – Sebagai perantau, ratusan keluarga Minang, Sumatra Barat yang kini tinggal dan mentap di Kudus, sudah menganggap Kudus sebagai kampungnya sendiri, dimana bumi dipijak disitulah langit di junjung.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Keluarga Minang Kudus (IKMK) Agusril disela sela pelaksanaan halalbihalal IKMK yang digelar di ruang pertemuan Rumah Makan Saung Rakyat di Desa Gondangmanis, Bae, Kudus, Minggu (14/05/2023).
Acara yang dihadiri hampir seratusan warga Minang yang tinggal di Kudus tersebut merupakan kegiatan rutin yang biasa pihaknya gelar usai Idulfitri.
“Memang sempat vakum beberapa tahun tak ada agenda pertemuan halalbihalal seperti ini akibat pandemi Covid-19 yang melanda, namun kini acara seperti ini kembali kami galakkan lagi dalam rangka mempererat tali silaturrahmi antar sesama warga Minang yang ada di Kudus,” ujar Agusril.
Disinggung soal interaksi sosial di tataran warga Kudus. Agus mengaku warga Minang yang ada di Kudus sejauh ini bersosialisai dengan sangat baik, bahkan lebih akrab karena sering bertemu dan berinteraksi.
“Tidak ada jarak diantara kami,” tandasnya.
Hanya saja di Kudus ini mereka tidak bisa menampilkan adat seni budaya dari tempat asalnya untuk ditunjukkan kepada warga Kudus.
“Karena sebagian besar dari kami adalah para pekerja dan pedagang yang waktunya habis untuk kegiatan tersebut. Mungkin nanti kita akan buat semacam pementasan budaya atau kesenian dari tempat kami,” kata pria yang berprofesi sebagai pedagang kaos kaki di Pasr kliwon tersebut.
Menurutnya, di Kudus sendiri ada sekitar seratusan kepala keluarga warga Minang yang kini sudah menetap dan ber KTP Kudus.
“Mayoritas dari mereka adalah berprofesi sebagai pedagang, bukan hanya pedagang warung Padang saja namun juga berbagai komoditas mulai dari pedagang konveksi, kaos kaki, pegawai swasta, pengusaha bahkan ASN,” kata dia.
Agusril sendiri datang di Kudus dari Jakarta sejak 1999 pasca reformasi di Jakarta. Sebelumya sempat ikut kakak kandungnya di Semarang hingga akhirnya memutuskan pindah ke kota kretek hingga sekarang.
“Tahun ini kita kembali eksis dan akan merancang program-program yang nantinya bisa memberikan kebermanfaatan bagi anggota maupun masyarakat,” katanya.
Terkait program yang telah dijalankan, Agus menuturkan bahwa kegiatan yang dilakukan masih sebatas internal. Diantaranya seperti menghadirkan koperasi bagi anggota sendiri, serta pertemuan rutin.
“Kita mau merancang program, salah satunya ingin membawa budaya atau kesenian ke Kudus untuk identitas kita,” tuturnya.
Agusril sendiri mengakui, Kabupaten Kudus adalah tempat yang potensial untuk mengembangkan sektor usaha dan perekonomian.
“Termasuk, untuk kegiatan berdagang, sebab daya beli dari masyarakat Kudus dikatakannya sangat tinggi,” tandasnya. (YM/YM)










