Kerajinan Batok Kelapa Asal Kudus, Tembus Pasar Internasional

oleh
Kerajinan Batok Kelapa Asal Kudus, Tembus Pasar Internasional
Foto: Kerajinan batok kelapa hasil karya Roni. (Istimewa)

Kudus, ISKNEWS.COM – Bermula dari aksi coba-coba merecylce limbah batok kelapa milik tetangganya pada zaman SMA. Tiar Bachroni, kini berhasil mengecap manisnya kesuksesan dari usaha kerajinan batok kelapa yang digelutinya selama tujuh tahun itu.

Kesuksesan tersebut, terlihat pemasaran usaha kecilnya yang berhasil menembus pasar Philiphina dan England. Roni menjelaskan, pada bulan Mei kemarin dirinya mendapatkan order set mangkuk dan gelas batok dari Philiphina. Dan disusul order produk serupa dari England pada bulan Juli.

Meskipun produknya dilirik pasar Internasional, hingga kini Roni mengaku masih mengalami kesulitan untuk memasarkan produknya di pasar lokal. Selain kendala masalah segmen pemasaran, diungkapkannya daya beli masyarakat terhadap kerajinan batok kelapa masih rendah.

“Setiap expo, saya melihat atusiasme masyarat yang tinggi dengan produk yang saya jual. Hanya saja, daya beli masyarakat masih rendah, cuma beberapa orang saja yang tertarik untuk membeli,” ungkapnya.

Kerajinan Batok Kelapa Asal Kudus, Tembus Pasar Internasional
Foto: Kerajinan batok kelapa hasil karya Roni. (Istimewa)

Imbuhnya, “Selama ini, saya memasarkan produk melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Selain itu, saya juga aktif mengikuti sejumlah expo, agar masyarakat lebih mengenal produk saya,”

Walaupun begitu, pria 24 tahun ini tetap semangat dan optimis membesarkan usahanya. Bahkan ia mengaku tidak akan berpindah ke usaha lain. Menurutnya, usaha kerajinan batok kelapa di daerah pantura masih terbilang jarang. Sehingga peluangnya masih terbuka lebar, hanya saja memang membutuhkan waktu dan usaha lebih keras.

“Saya merintis usaha ini dari zaman kelas tiga SMA, lalu sempat berhenti beberapa tahun karena kendala waktu kuliah dan lain-lain. Akhirnya kembali lagi fokus di bulan Agustus tahun lalu,” ujarnya.

Kepada isknews.com, Roni menceritakan sebelum memutuskan bergelut lagi dengan kerajinan batok kelapa. Ia terlebih dulu meyakinkan diri dan keluarganya, bahwa usaha yang menjadi hobinya itu suatu pekerjaan yang profit.

Dia juga sempat berguru kepada pengusaha kerajinan serupa asal Kulon Progo dan Bantul. Dari sana, usaha batok kelapa yang digelutinya semakin variatif. Jika dulu sewaktu SMA dia hanya menjual cincin dan gantungan kunci dari batok kelapa.

“Kini saya meproduksi celengan, gelas, mangkuk, helm hingga tas dari batok kelapa. Jika beralih ke usaha lain, saya pastikan tidak. Tetapi saya akan terus berinovasi mengembangkan usaha saya,” tutupnya. (NNC/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :