Kudus, ISKNEWS.COM – Komunitas Kudus Skateboarding kerap menunjukan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat, melalui kegiatan kumpul bareng yang rutin mereka lakukan di Balai Jagong dan kegiatan Car Free Day (CFD). Kegiatan tersebut dijadikan sebagai ajang untuk melatih skill mereka dalam meakukan berbagai macam trik dan bentuk pengenalan olahraga skateboarding pada masyarakat.
Komunitas ini telah ada sejak lama, namun waktu itu sempat vakum beberapa tahun dan mulai aktif kembali pada tahun 2016. Saat ini, komunitas tersebut beranggotakan 30 orang yang terdiri dari 22 laki-laki dan 8 perempuan dengan usia anatara 9-40 tahun. Hal ini menunjukkan jika skateboard bukanlah olahraga yang ekstrim, karena anak-anak juga bisa memainkannya.
“Jika permainan ini merupakan olahraga ekstrim, maka orang tua mereka pastinya akan melarang keras anaknya untuk memainkan olahraga ini. Namun, kenyataanya selama ini orang tua mereka mendukung dan memperbolehkan anaknya untuk mengasah bakatnya tersebut,” kata kata Yulius Dyan Sunaryanto (34) saat ditemui isknews.com di Balai Jagong Kudus, Senin (05-03-2018).

Dalam menjalakan olahraga ini, terjatuh menjadi sebuah hal yang wajar. Bahkan beberapa pecinta olahraga ini mengatakan bahwa candu dari permainan skateboard adalah dari permainan tersebut adalah momen saat terjatuh dari papan skateboard. Momen tersebut menjadi sebuah pelecut agar pemain dapat melakukan trik tersebut dengan lebih baik. Untuk meminimalisir hal tersebut, mereka menggunakan sejumlah perlengkapan keamanan.
“Terbentuknya komunitas ini berawal dari seringnya berjumpa saat sedang bermain skateboard di jalanan maupun taman di Kota Kudus ini. Sempat vakum beberpa tahun karena sibuk sekolah, kuliah dan bekerja. Lalu saya mencoba merangkul kembali para pemain skateboard yang ada di Kudus untuk mengaktifkan kembali komunitas ini,” ungkap Dyan, sapaan karibnya.
Tak dipungkiri oleh Dyan, sapaan karibnya, bahwa sampai saat ini hal tersebut masih menjadi salah satu kendala komunitasnya. Para generasi awal dari Kudus Skateboarding sudah bekerja dan menikah, sehingga waktu untuk bermain skateboard tidak sebanyak saat masih sekolah.

Selain itu, kondisi skatepark di Balai Jagong Kudus yang dirasa kurang maksimal dalam pengerjaanya menjadi sebuah kendala tersendiri. Tidak adanya drainase menimbulkan sejumlah genangan air setelah hujan tiba dan tidak adanya tempat sampah menjadikan lingkungan tersebut terlihat kotor.
“Kalau untuk desain skatepark yang ada juga kurang memenuhi standar. Pertama, lantai skatepark yang kasar dan berpasir berpengaruh pada laju skateboard. Rodaskateboard seringkali macet dan susah melaju saat melewati medan berpasir. Selain itu, lantainya yang kasar memperbesar resiko kecelakaan atau terjatuh,” tutur Dyan.
Tak hanya itu, beberapa obstacle yang ada desainnya tidak memenuhi standar tingkat kecuraman. Untuk permainan skateboard tingkat kemiringannya berkisar anatara 40-60 deajat, sedangkan di area tersebut terdapat obstacle yang memiliki tingkat kemiringan lebih dari 60 derajat sehingga cukup berbahaya jika digunakan. Jarak antar obstacle juga terlalu rapat dan minimnya pencahayaan di malam hari, menjadikan skatepark ini tidak cukup nyaman untuk digunakan.
Kondisi tersebut menjadikan sebagian anak skateboarding memilih menggunakan area taman sebagai tempat untuk menyalurkan bakat mereka.” Saya sudah pernah mengeluhkan hal tersebut kepada pihak terkait, akan tetapi belum ada upaya tindak lanjut hingga saat ini. Di satu sisi, kami sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh pihak pemerintah Kudus dalam menyediakan sarana olahraga untuk masyarakat. Dan kami selaku masyarakat sudah berusaha memanfaatkan fasilitas tersebut secara maksimal. Kana tetapi di sisi lain, kami menyayangkan pembangunan skatepark ini yang kurang maksimal sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat,” pungkasnya. (NNC/RM)












